e. Sering Keliling daerah
kekuasaannya tanpa ada protokoler. Untuk
semua hal tersebut diatas kita harus sering berkeliling ke daerah kekuasaan
kita tanpa pengawalan yang ketat atau protokoler. Karena jika ada protokoler
sebenanya telah ada kebohongan dalam setiap kunjungan.
5. Nasehat Siabah Untuk gubernur Terpilih (Aher dan Dedi Mizwar)
Menurut siabah kesalahan manusia yang sulit untuk
dihilangkan adalah bahwa mereka merasa telah melakukan banyak hal sesuai dengan
prestasinya. Padahal hal demikian telah banyak dilakukan oleh orang-orang
sebelumnya, atau justru pencapaiannya mungkin lebh dari yang sekarang ini.
Mudah-mudahan kebiasaan seperti ini tidak terjadi pada pasangan gubernur jawa
barat sekarang ini, Aher dan Dedi Mizwar. Tetapi sebagai manusia yang selalu
diliputi oleh kesalahan, tugasnya 'amar ma'ruf nahi munkar harus selalu
didengungkan walaupun terasa pahit. Konon semakin banyak orang yang mengingatkan
kepada kita maka sesungguhnya orang itu begitu perhatiaanya terhadapnya sama
besarnya dengan pengharapannya agar menjalankan tugas berada dalam rel yang
benar.
Kata Mang Dadang
mah Siabah ini kapasitasnya sebagai apa? kok menulis memakai kata "Nasehat Siabah kepada Aher
dan Dedi Mizwar",. Menurut Mang Dadang mereka itu seorang gubernur dan
wakil gubernur, sedangkan Siabah itu siapa?. Suatu kritikan yang menurut siabah
benar juga. Yang jelas menurut Mang dadang tidak ada hak siabah memberi nasehat
kepada gubernur dan wakil gubernur, karena siabah ini rakyat biasa.
Siabah tidak mau
berpolemik tentang kapasitas siabah yang orang biasa menasehati sang gubernur,
menurut siabah itu merupakan tanggung jawab manusia dengan manusia yang
lainnya, yang harus saling mengingatkan dalam kebenaran, dalam kebaikan
(fastabiqul khairat),
Analisis Siabah
terhadap Aher, menurut Siabah ketika Aher pertama kali menang menjadi gubernur
dan wakilnya Dede Yusuf, mungkin mereka termasuk orang yang tidak percaya bahwa
mereka akan menjadi gubernur, karena lawannya yang begitu hebat-hebat. Ditahun
pertamanya merupakan tahun euforia karena ketidakpercayaan dan penyesuaian dengan sistem birokrasi yang
baru. Di tahun kedua mereka baru bisa menerima realitas bahwa mereka
benar-benar jadi gubernur. Tahun kedua merupakan tahun penyesuaian dan pembelajaran
yang sebenarnya. Tahun ketiga mereka baru bisa menjadi gubernur yang
sebenarnya, dan ditahun ini mereka mulai mengetahui orang-orang yang sejalan
dengannya. Ditahun ke-4 sebenarnya proses pematangan kekuasaanya, dan mungkin
ditahun-tahun ini ide-ide barunya baru muncul. Di tahun ke-4 ini ketika
ide-idenya mulai matang, ditahun ke-5 justru harus melakukan terobosan-teobosan
untuk memenangkan pilkada berikutmya.
diakhir tahun
kepemimpinannya, biasanya mereka menyanyangkan terhadap diri sendiri bahwa sebenarnya
mereka seharusnya banyak melakukan hal-hal yang signifikan. Tetapi karena harus
berhadapan dengan akhir kepemimpinnya, maka mereka harus melakukan terobosan
terobosan untuk melakukan pemenangan pilkada berikutnya.
Ketika pilkada
berikutnya dimenangkan, harusnya bapak Aher melakukan lompatan besar, dan
terobosan baru dengan pencapaian-pencapan yang signifikan. Karena di tahun ke-6
ini proses pematangan dalam berpikir dan dalam melakukan kebijakan sesungguhnya
di mulai. Hasil karya sekarang dan ke depan jangan diukur 5 tahun ke belakang,
karena 5 tahun ke belakang adalah proses
pembelajaran dalam birokrasi yang itu-itu saja(stagnan). Harusnya Aher pada
tahun ini melakukan lompatan-lompatan yang besar, melakukan revolusi dalam
kebijakan di jawa barat yang mempunyai potensi ekonomi sangat besar. Tetapi
sepertinya mengikuti kebijakan pendahulunya, yaitu kebijakan yang mengekor
dibelakang kebijakan Jakarta tetap dipertahankan.
Keberhasilan 5
tahun ke belakang mungkin terlalu banyak melihat pencapaian di dalam
wilayahnya, tanpa melihat dari kejauhan. Menurut siabah kadang-kadang kita
harus melihat daerah kekuasaan kita dari jauh, atau membandingkan dengan
pencapaian-pencapaian di daerah lainnya. Karena akan begitu nampak
kekurangan-kekuragannya. Tetapi karena
terbiasa memandang dari dalam, sesuatu yang biasapun seolah begitu wah, padahal
didaerah lain hal itu belum apa-apanya.
Seperti ketika
siabah pulang kampung ke kampung halaman di jawa barat. sangat kontras ketika
melalui jalan di wilyah jawa barat, padahal itu merupakan jalan provinsi, Kata
istri siabah yang orang jawa timur, tidak ada pilihan ketika melewati
jalan-jalan yang dialaluinya, maksudnya saking jeleknya, sehingga tidak ada
pilihan lagi, mau tidak mau harus melewati jalan itu. Hal itu belum masuk ke jalan desa-desa. Jika menanggapi
komentar-komentar istri siabah tentang jalan yang dilaluinya, ia memuji kesabaran orang sunda, dan
menurutnya jika hal ini terjadi di Jawa Timur
maka orang-orang akan protes atau demo. Jadi mengapa dikampungnya jalan lebih mendingan dari jalan
di kampung suaminya.
Kesabaran yang
dipendam oleh para sopir melalui jalan jelek tersebut, bukan karena ia tidak
mau protes. karena menurutnya harus protes ke siapa, karena para penguasa tetap
diam dan tetap tidak mau tahu. Mereka mengumpat tiap hari terhadap
pemimpin-pemmpin mereka yang tidak pernah memperdulikan kaum lemah.
Umpatan-umpatan yang didengar setiap hari oleh pengguna jalan, mungkin akan menjadi hambatan sang pemimpin
dalam menuju surga. Padahal dulu akses jalan ke kampung tersebut tidak pernah sejelek itu,. Sesungguhnya siapa
yang salah, kebijakan yang salah atau pemimpin yang tidak pernah memperhatikan
rakyatnya atau pemimpin yang telah puas terhadap kebijakan-kebijakan yang telah
dianggapnya sebagai kebijakan yang berhasil. Sebenarnya siabah bukan hanya
kasihan terhadap masyarakatnya, tetapi juga kepada para pemimpinnya yang telah
membuat hambatan menuju surga. Hal ini mungkin berbeda dari para pejabat, yang
tiap hari menggunakan mobil Volvo atau Mrcedes Benz, dan di rumahnya dipenuhi oleh fasilitas negara yang taiada terbatas.
Siabah selalu
mengingatkan bahwa sesungguhnya keberhasilan penguasa suatu daerah adalah
banyak membuat akses warganya agar lebih mudah, Adalah kebohongan yang besar
jika kita berbicara tentang kemakmuran, kesejahteraan dan kemajuan sedang
jalan-jalan di wilayahnya, aksesnya begitu memprihatinkan, begitu jeleknya atau
bahkan tidak ada akses sama sekali, Atau akses yang awalnya bagus, ketika kita
berkuasa ternyata banyak yang rusak, jadi tolak ukur keberhasilannya dimana?
Konon orang yang
banyak membuka akses masyarakat lebih baik, atau lebih banyak maka akan
memudahkan kita dalam menuju surga. Surgaa jika dikonfersikan dalam arti di
dunia, berarti kesejahteraan masyarakat, karena nikmat yang begitu besar di
surga. jadi ketika seseorang banyak membangun akses jalan yang bagus, yang
manusiawi sesungguhnya mereka telah membangun
jalan menuju surga kesejahteraan.
Jadi menurut siabah
jika seseorang berkuasa jangan muluk-muluk kita berbicara tentang kemakmuran
masyarakat, kesejahteraan masyarakat, sedangkan jalan dimana-mana jelek.
Padahal akses jalan sesungguhnya merupakan dasar menuju kemakmuran. karena
dengan akses/ jalan bagus maka perekonomian akan jalan sendiri.
Dan yang perlu
dibangun di daerah jawa barat adalah fasilitas transfortasi yang layak, dan
secara ekonomi dapat membangkitkan kinerja ekspor. Karena siabah melihat bahwa
disamping transfortasi darat banyak yang rusak. Transfortasi udara dan lautpun
jauh dari kata yang layak. Padahal potensi ekonomi yang sangat besar, penduduk
terbanyak, tempat para tenaga ahli atau juga pekerja yang melanglang ke
mana-mana (banyak yang ke luar pulau). Suatu potensi transfortasi udara yang
sangat menjanjikan, disamping itu daerah jawa barat merupakan surganya wisata
kuliner, wisata alam dan mode.
Siabah karena
sering berada di luar daerahnya, sehingga mereka dengan jelas memandang
daerahnya sendiri sebagai surgawi yang penuh potensi. tetapi karena kurang
keberanian dalam melakukan kebijakan (atau mungkin kurang punya ide). Konon
kekurangan orang jawa barat itu kurang suka pamer, sehingga mereka kadang kurang bisa keras menepuk
dadanya sendiri. Ide-ide yang brilyan kadang dipendam di dalam hati, sehingga
ide-ide besar pun seolah tidak banyak bermamfaat.
Menurut siabah
kita harus 'loba kahayang', harus banyak kemauan, sehingga ide-ide itu akan muncu dengan sendirinya. Dan jangan
lekas puas terhadap prestasi yang kita kerjakan. Karena sifat lekas puas sebenarnya
justru menutup diri dari keberhasilan-keberhasilan yang sesungguhnya. Karena
jika kita lekas puas terhadap pencapaian-pencapaian yang kita kerjakan, berarti
kita baru puas terhadap asumsi-asumsi yang dibuat kita sendiri, bukan oleh
pendapat banyak pihak.
Jika melihat
potensi yang dimiliki oleh wilayah jawa barat sesungguhnya, harusnya kita
banyak melakukan lompatan-lompatan besar, atau membuat
alternatif-alternatif ataupun membuat
terobosan-terobosan yang besar. Jawa barat itu adalah potensi yang tiada
terbatas, disini terdapat ppusat-pusat intelektual yang bergengsi, alamnya
bagaikan surga yang memberikan banyak keindahan yang sangat layak untuk
dikunjungi, pusat mode di indonesia, dan surganya kuliner dinegeri ini.
Disamping itu pusat-pusat industri juga terdapat di daerah ini.
Melihat potensi
tersebut harusnya hal ini memberikan
ide-ide untuk membuat akses-akses transfortasi untuk mempermudah orang untuk
mengunjunginya. Tetapi rupanya hal inilah yang justru tidak digarap sama sekali
oleh para penguasa jawa barat. Suatu
potensi yang disia-siakan. Menurut
siabah di jawa barat itu tidak akan rugi jika dibangun bandara atau lapangan
pesawat terbang 3 buah juga yang bertaraf international, karena potensi ekonomi
yang sangat menjanjikan, potensi penduduk yang sangat melimpah, dan potensi
wisata yang sangat mejanjikan. Harusya di Jawa barat itu minimal ada 23 bandara
yang dibangun berbarengan, bisa di
Karawang, atau di majalengka, di bandung dan daerah selatan, di Tasikmalaya.
Jika bapak gubernur sering jalan-jalan ke luar pulau, sangat banyak para
pekerja yang bekerja di berbagai pulau, sbegai tenaga ahli atau sebagai tenaga
kerja/ kontraktor, dimana mereka kadang
tiap bulan atau tiap tiga bulan mereka harus pulang pergi dari kampung halamannya
ke pulau tersebut.
Disamping itu,
potensi ekspor dari jawa barat harus melalui pelabuhan tanjung priuk di
jakarta, sehingga kjawa barat harus puas dengan kebagian 40 persen dari jasa
ekspor inpor, sedang 60 persennya harus berbagi dengan pemilik pelabuhan. Suatu
kerugian yang sangat besar. Keuntungan yang harusnya bisa untuk membangun
daerahnya justru harus rela dbagi dengan perbandingan yang lebih kecil. Suatu
kesalahan yang sangat patal. harusnya di jawa barat dibangun pelabuhan bertaraf
international seperti di karawang atau di subang.
Jika PT. angkasa
Pura tidak berminat membangun bandara di Jawa barat, maka bisa bekerja sama
dengan pengelola dunia. Dan jika Pelindo tidak berminat untuk membangun
pelabuhan di jawa barat, hal ini juga harusnya membuka peluang kita untuk
bekerjasama dengan pelabuhan dunia, atau bisa dikelola sendiri dengan membangun
perusahaan daerah. Hal itu sagngat
tergantung pada kemauan dari gubernurnya. kalau tidak ada kemauan atau teu boga
kahayang, harusnya jangan jadi gubernur saja, karena hal ini berarti dia telah
menghambat masyarakatnya untuk maju.
Menurut siabah
harusnya gubernur jawa barat itu membuat terobosan-terobosan yang spektakuler,
jangan membiarkan hanya menjadi pengikut yang merasa puas dengan pencapaian-pencapaian,
padahal tidak melakukan apa-apa.
Jika melihat
bandara ibukota propinsi di bandung misalnya, sangat jauh dari kota-kota di balikpapan misalnya. Apalagi dibandingkan
dengan surabaya, medan, makasar, sungguh sangat memprihatinkan. Menurut siabah
kita ini mempunyai penduduk terbesar, potensi wisata yang besar, potensi tenaga
ahli yang besar, tapi karena dadanya kurang dibusungkan. Potensi yang besar
dibiarkan hilang begitu saja.
Empat tahun lalu
ketika kerja siabah di bontang kalimantan timur, bandara sepingan Balikpapan
belum apa-apa. tetapi 2 tahun yang lalu sudah ada perubahan, dan sekarang
mungkin balikpapan akan mempunyai bandara yang signifikan, Di Bandung dari dulu
cuma itu itu saja. jadi sesungguhnya sangat sulit dimana sesungguhnya
keberhasilan ketika berkuasa,
Mungkin dulu
siabah sering menyampaikan hal demikian ke facebook bapak dede yusuf yang waktu
itu menjadi waikil gubernur, dan sudah 5 tahun, ternyata ketika siabah ke
bandung melalui bandara Husein, sungguh sangat memprihatinkan. Bandara kota besar mungkin fasilitasnya jauh
dari layak untuk ukuran kota besar. Hal ini menunjukan bahwa sesungguhnya para
penguasanya kurang mempunyai greget untuk membangun, kurang greget dalam menangkap
peluang dan kurang bisa membusungkan
dadanya. ,,,,,,,,,,,,,,
Jadi suatu
kesempatan yang baik bagi bapak Aher untuk melakukan lompatan-lompatan besar,
karena di tahun ke-6 ini merupakan tahun kematangan seorang gubernur, karena
setelah 5 tahun ke-depan mereka harus lengser dengan sendirinya. Sungguh suatu
kegagalan jika kita tidak melakukan apa-apa, tanpa melakukan
terobosan-terobosan yang signifikan. Mungkin kita akan cuma dikenang dalam
daftar yang hanya lewat dalam daftar gubernur yang tidak mempunyai prestasi
yang lebih. Jadi apa yang membedakan diri kita semasa berkuasa dengan gubernur
sebelumnya. Jika dibandingkan dan ditelusuri dengan seksama, mungkin prestasi
kita belum sberapa. Jadi alangkah indahnya jika bapak Aher sekarang ini memulai
melakukan terobosan-terobasan atau lompatan-lompatan besar untuk membangun
daerahnya dengan prestasi yang mungkin akan dikenang oleh generasi
berikutnya. ......(lanjut)
6. Jalur Selatan Jawa Barat Mutiara Yang Disi-sia-kan
Bali sangat gencar
membangun fasiliatas wisata diberbagai pelosok wilayahnya, sehingga sekarang
banyak alternatif obyek wisata di Bali yang banyak dikunjungi. Jadi jika ke
Bali sekarang wisatawan tidak hanya ke pantai kuta, pantai sanur, besakih,
bedugul atau kintamani yang biasa dikunjungi oleh wisatawan paketan. padahal
sebenarnya banyak sekali obyek wisata lainnya di Bali yang sangat bagus untuk
dikunjungi.
Jika melihat
tentang Bali di televisi, sangat
sempurna untuk tujuan wisata. Dan masyarakat Bali seolah telah menangkap
peluang dengan bagus, dengan memaksimalkan segala potensi, baik alam maupun
kekayaan budaya.
Di Jawa, mungkin
Jogjakarta yang men-serius-kan diri dalam obyek wisata ini. Wilayah Yogyakarta
sangat kaya akan warisan kebudayaan tempo dulu berupa bangunan candi yang
spektakuler seperti candi borobudur atau candi roro jongrang, dan candi
lainnya. Disni juga ada keraton yang masih lestari. Tetapi kelemahan dari
Jogjakarta adalah tidak punya pantai putih yang indah seperti Bali.
Di daerah pulau
jawa yang mempunyai keindahan pantai seperti bali adalah di pantai selatan Jawa
Barat. Seperti Pangandaran, dan lainnya hingga ke Pelabuhan Ratu di Sukabumi.
Jadi jika melihat peluang sebenarnya jalur pantai selatan Jawa Barat adalah
gugusan mutiara yang disia-siakan.
Waktu pilkada
jawa barat, calon gubernur yang mengkampanyekan tentang pembangunan wilayah
selatan adalah bapak Dikdik dari independen. Pa Dikdik adalah putra jawa barat
yang banyak melanglangbuana ke luar jawa barat karena tugas mengharuskan
pindah-pindah ke daerah lain. Mungkin dia banyak melihat, banyak menyaksikan,
banyak membandingkan bahwa sesungguhnya wilayah selatan jawa barat mempunyai
potensi yang sangat besar Dengan membuka akses ke selatan berarti membuka
potensi. Tetapi Dikdik mungkin orang yang belum berhasil, dan ide-idenya harus
kandas, seiring dengan tergerusnya dia dari calon gubernur, karena suaranya
yang minim di tempat buncit.
Dalam pilkada
gubernur tersebut dimenangkan oleh Ahmad
Heryawan dan Dedy Mizwar. Jika Ahmad Heryawan atau Aher mengetahui peluang,
harusnya semacam bapak Dikdik itu dirangkul misal menjadi asisten khusus untuk
pembangunan wilayah selatan. Tidak akan rugi jika Aher menggandeng dia untuk
pembangunan wilayah selatan Jawa Barat, yang hingga kini seolah disia-siakan.
Kembali lagi ke
potensi wialayah selatan yang menurut siabah bagai mutiara yang disia-siakan.
Harusnya mulai digarap dengan serius. Yang pertama yang harus dibangun adalah
akses melingkar dari pelabuhan ratu ke pameumpeuk garut, tasikmalaya kemudian
ke pangandaran di ciamis / banjar. Kemudian membangun akses-akses dari utara
langsung ke selatan, misal dari bandung ke Jampang dan lain-lain. Kemudian
membangun bandara international di wilayah selatan, misal di tasikmalaya. Kalau
perlu Bandara Atang Sonjaya diperbesar dan dipermodern, sehingga nantinya bisa
menjadi akses ke daerah-ddaerah wisata diselatan jawa barat, pangandaran, garut
dan lain-lain. ............. (lanjut)
VII. Peradaban Sunda Ke Depan
1. Mengenalkan Kembali Pemikiran Sunda Klasik Suatu Perbincangan dengan Siabah
Menarik sekali berbincang-bincang dengan Siabah tentang sejarah pemikiran sunda yang kata Siabah memang sudah dilupakan oleh para intelektuanya atau memang sengaja dilupakan. Berbicara tentang kesjarahan dalam hubungannya dengan naskah-naskah sunda klasik, menurut siabah meskipun sudah mulai bermunculan yang mulai meng"eksis"kan pada kajian kesundaan, seperti kelompok "Salakanagara", tapi menurut siabah masih terlalu sedikit daripada penduduk tataran sunda yang lebih dari 45 juta jiwa.
Menurut siabah:" Sekarang ini banyak orang sunda yang tidak mengenal naskah naskah peninggalan kaum intelektual nenek moyangnya. Yang lebih mengkhawatirkan lagi justru hal ini juga melanda kalangan intelektual masyarakat sunda itu sendiri. Mereka lebih peduli dengan sejarah sejarah yang berasal dari daerah lain daripada daerahnya sendiri. Nasionalisme yang dikembangkan oleh bangsa ini telah menggerus sendi sendi budaya bangsanya sendiri. Mereka mendidik anak bangsa yang tidak pernah mengenal hasil budayanya sendiri. Mereka telah mendidik manusia-manusia mengambang yang tidak mempunyai pijakan yang sangat kokoh."
Siabah membandingkan dengan bangsa jepang yang termasuk bangsa yang maju/ Siabah berkata:"Berbeda dengan Jepang, meskipun mereka telah menjadi negara maju, tetapi komunikasi eengan sejarah masa lampaunya tidak pernah dilupakan, Makanya cerita-cerita masa lampaunya telah banyak menginspirasi kemajuan jepang itu sendiri juga termasuk yang berkaitan dengan kisah-kisah lama yang termodernkan. Karena itu jepang meerupakan negara yang sangat modern yang tidak terputus dengan peradaban masa lampaunya."
Siabah mengkritik ketidakpedulian kaum intelektual sunda terhadap sejarahnya sendiri yang justru mendapat dukungan dari penguanya yang dinilai siabah tidak terlalu cerdas. Menurut siabah:"Masyarakatnya yang kurang peduli, mendapat tempat pada penguasanya yang kurang cerdas, sehingga potensi masa lampau yang dapat memperkaya kekinian justru terputus, atau dengan kata lain, bahwa masayarakat sunda kini telah terputus dengan peradaban masa lampaunya, sehingga dalam menjalani kehidupannya mereka telah kehilangaan orientasi (disorientation) terhadap peradabannya itu sendiri. Menjadi manusia sempurna dalam arti yang tidak melakukan apa apa telah melanda masyarakat sunda. Padahal dalam sejarahnya, manusia sunda adalah maanusia proses yang menuju kepada perbaaikan ke perbaikan selanjutnya (rancage). Dan dapat dilihat dari kisah carita parahiyangan bagaimana para leluhur kita membuat suatu kerajaan, mereka meninggalkan pertapaan karena kritik dari seekor burung, yang mengatakan bahwa “sang pendiri? Yang awalnya seorang pertapa telah dikritik habis-habisan, bahwa dia hanya orang yang tidak berguna yang pekerjaannya hanya duduk saja dan tidak bisa melakukan apa-apa."
Siabah juga mengatakan bahwa pentingnya menjaga situs-situs kebudayaan klasik sebagai tanggung jawab terhadap generasi berikutnya. Siabah berkata:"Menjaga hasil karya peraadaban klasik harusnya merupakan suatu kebanggan dari anak bangsa sekarang ini. Meskipun dari kebudayaan yang berbeda, dari agama yang berbeda. Karena hasil peadaban masa lampau akan menginspirasi anaak bangsanya dikemudian hari. Karena itu menjaga situs-situs kebudayaan kuno bukan berarti menjaga tahayulisme seperti yang dikembangkan kaum dukun, tetapi lebih upaya daripada pencarian jatidiri kita sebagai manusia sunda, untuk membangun peradabannya ke depan."
Pembodohan dari kaum sejarawan nasional
Siabah tidak hanya menyoroti tentang ketidakpedulian masyarakatnya tehadap kebudayaan sunda itu sendiri, tetapi memang ada pembodohan yang dikembangkan oleh kaum sejarawan penguasa. Si abah berkata:"Jauhnya masyarakat sunda dari kebudayaannya bukan hanya dikarenakan ketidakpedulian dari masyarakatnya, tetapi lebih disebabkan oleh para sejarawan nasional yang dikuti oleh kaum sejarawan sunda yang kurang kritis terhadap berbagai permasahan kesundaan. Para sejarawan nasional telah bersikukuh menjadikan kitab negarakertagama sebagai sumber sejarah rujukan untuk membuat peran-peran majapahit agar lebih menonjol. Para sejarawan sunda yang berpendidikan formal kebanyakan kurang percaya diri menjadikan carita parahiyangan sebagai sumber berita tentang keberadaan kerajaan sunda."
Siabah berkata:"Sejarawan nasional telah membuat sejarah majaoahit seolah menjadi cikal bakal negara indonesia. Padahal indonesia merupana warisan dari ex. Jajahan belanda. Jadi secara de fakto sejarah indonesi bermula dari penjajahan belanda. Karena 100 persen negara indonesia merupakan ex, jajahan belanda., yang tidak ada hubungannya dengan kerajaan majapahit yang sudah hancur pada abad 15 M. Jadi tidak ada hubungannya antara majapahit dengan indonesia sekarang ini."
Siabah iri dengan negara-negara maju, seperti di inggris yang banyak membuat fil-filmya yang diangkat dari cerita-cerita klasiknya. Siabah berkata:"Negara negara barat sepeti dalam cerita-cerita di negeri inggris banyak dipengaruhi oleh cerita-cerita trdisionalnya, meskipun kadang tidak masuk akal. Tapi bagi mereka bukan masuk akal atau tidaknya, hal tersebut tidak terlalu penting. Yang penting darinya adalah cerita-cerita tersebut dianggap sebagai awal dari penyelidikan untuk pengkajian sejarahnya. Jadi perbedaan kaum intelek di negeri elisabet dengan sejarawan kita adalah, jika mereka mencari sumber dari sumber sedikit kemudian dilakukan penyelidikan-penyelidikan. Kalau dinegeri ini informasi yang banyakpun seolah dibiarkan terlunta, karena keengganan untuk berpikir dan sikap pengekornya begitu kuat, apalagi informasi sedikit, oleh para sejarawan kita dianggap sebagai dongeng yang tiada berguna. Makanya jangan heran situs-situs di tanah sunda seolah di telan bumi. Keberadaannya juga selalu ditutup-tutupi oleh kaum intelektualnya itu sendiri."
Tanggung Jawab Generasi Sekarang
Siabah menekankan tentang tanggungjawab dari gebnerasi sekarang ini, untuk mengumpulkan cerita, cerita atau dongeng-dongeng, atau sejarah yang berkaitan dengan pembentukan sutu daerah atau kerajaan, yang kemudian dipublikasikan. Menurut siabah:"Sebeleum mencapai ke tingkat penyelidikan kesejarahan tanah sunda, generasi sekarang mungkin harus membuka wacana seluas-luasnya, dengan mengumpulkan sumber yang banyak dari berbagai pelosok tataran sunda. Kumpulkan dan publikasikan, mungkin sekarang ini yang harus kita lakukan, hingga munculnya kaum intelaktual /sejarawan sunda yang kritis yang tidak terikat oleh kaum sejarawan para penguasa, yang cenderung menghilangkan potensi-potensi kesejarahan sunda itu sendiri."
Menuerutnya juga:" Cerita-cerita, dongeng-dongeng dari tanah sunda dari siapapun mulai sekarang harus mulai dikumpulkan dan dipublikasikan. Hal ini untuk mendorong sistem crosscek sejarah dari sumber-sumber yang mungkin memiliki cerita sama tetapi dari analisa yang berbeda, sehingga menimbulkan cerita atau sejarah berbeda."
Siabah juga mengkritik para pembuat sejarah kekuasaan, sejarah hanya untuk legitimasi kekuasaan yang ada. Menurut siabah:"Jangan percaya kepada kaum sejarawan sekarang ini, karena sejarawan indonesia, termasuk dari sunda adalah pendukung atau penganut sejarah kekuasaan. Jadi bagi mereka sejarah yang mendukung dan menguntungkan kekuasaan yang sedang berkuasa itulah yang mereka dukung dan kembangkan. Padahal sejarah itu sendiri adalah independen. Tetapi semua buku wajib kita miliki dan baca untuk memperkaya intelektual kita itu sendiri, Tetapi menyangkut kesimpulan sejarah, kita mungkin harus mengembangkan sejarah yang kritis. Dan yang terpenting dari kita sekarang ini adalah kita harus berprinsip, sekecil apapun informasi, sedikit apapun berita, harus dijadikan awal dari penyelidikan kita terhadap sejarah."
(Sundasiabah.blogspot.com, sabtu 20 April 2013)
2. Mengkonsep masa depan
peradaban sunda
Harus bagaimana membangun
masyarakat sunda ke depan. Mungkin itu yang selalu dibayangkan, apakah
mengkonsep seadanya seperti sekarang ini atau kita harus mencontoh konsep
peradaban bangsa-bangsa terdepan dalam sejarah manusia. Jika kita hanya
mengikuti apa kata zaman mungkin bangsa kita akan hilang ditelan zaman itu
sendiri.
Mungkin banyak orang yang
merasa nyaman dengan kondisi seperti sekarang ini, karena berbagai fasilitas
yang didapat dengan mudah meskipun telah menganiaya bangsanya sendiri. Mungkin
juga ada orang acuh tak acuh terhadap permasalahan bangsanya dan mengikuti
buih-buih ombak yang secara real tidak mempunyai kekuatan dan pengaruh apa-apa.
Atau ada yang tidak peduli sama sekali terhadap isue-isue kemakmuran bangsanya
sendiri, seolah mereka telah mati perasaan dan prustasi atau bahkan skeptis
terhadap berbagai perubahan.
Dan mungkin juga banyak yang
mengeadilisasikan yang lebih baik, tetapi tidak pernah tahu cara dan metode
terbaik untuk mengkonsep masa depannya. Karena itu sumber bacaan sangat
diperlukan agar tujuan memenuhi sasarannya. Dengan banyak sumber bacaan mungkn
kita akan dengan mudah menyelesaikan berbagai masalah.
Karena itu langkah pertama
jika mau mebangun suatu konsep masa depan yang terarah adalah dengan membangun
pusat-pusat sumber bacaan. Dengan demikian hal yang pertama untuk mencapai
tujuan yang mulia tersebut adalah dengan membangun perpustakaan-perpustakaan
peradaban sunda dan peradaban Islam di tataran sunda,.....mudah-mudahan hal ini
menjadi gerakan.....jika sudah bergerak berarti pasti ada perubahan,.......dan
jika sudah ada perubahan berarti ada peluang,...dan peluang itu kita ciptakan
nantinya akan menjadi suatu gerakan sosial,...dan peluang kemakmuran mungkin
akan lebih dekat di depan mata......
3. Kaum Idealis Sunda ke Depan
Jika siabah menerawang tentang
masyarakat sunda masa depan, disana mungkin
banyak sekali kaum idealis yang ingin membangun daerahya berdasar kosep
masa depan. Mereka adalah kaum-kaum idealis yang praktis, bukan idealis yang
kaku/ rigid, yang banyak doktrin harus
itu dan harus ini. Mereka menyadari,realitas tetang kebudayaanya,yang secara
politik maupun budaya yang sengaja dipinggirkan, baik oleh penguasa nasional
maupun daerahnya sendiri. Yang mereka pikirkan ke depan adalah bagaimana agar masyarakat sunda itu sejahtera
dan makmur. Karena itu hal yang paling utama untuk tujuan demikian adalah
dengan membangkitkan kembali semangat intelektual masyarakat sunda yang hilang.
4. Pentingnya Perpustakaan dalam Mengkonsep Peradaban Sunda ke Depan
Jika di tatar sunda di tiap
daerah dan desa terdapat perpustakaan2 tentang peradaban sunda dan peradaban
islam, bukan hal yang mustahil disini akan lahir para pemikir2 yang hebat dalam
berbagai bidang. Seolah masyarakat sunda masih belum punya arah yang jelas
tentang konsep masa depannya, seolah masih dalam kebingungan,........
Karena itu sumber bacaan
sangat penting sebagai sumber inspirasi dalam menjalani hidup. Dengan banyak
buku akan dengan mudah menyelesaikan berbagai persoalan. Karena disanalah
justru banyak solusi, disanalah banyak inspirasi ...dan disanalah banyak
panduan untuk melangkah ke depan dengan lebih pasti.....bukan hanya kata orang
ini kata orang itu, karena buku menjanjikan kedalaman......yang belum bisa
disamai oleh media lainpun.......
5. Membangun 'ciri' ( karakter)
baru masyarakat sunda
Ciri apa yang harus dikembangkan oleh
masyarakat sunda agar eksistensinya mempunyai nilai lebih dalam wacana
kenegaraan di indonesia. Kalau kita menyadari sesungguhnya masyarakat sunda
akan menjadi kuda hitam yang sangat menentukan ditinjau dari segi kuantitas,
sebagai masyarakat terbanyak kedua setelah jawa. tetapi keberadaannya masih
dipandang sebelah mata.Bahkan tidak telalu dominan.
Tidak hanya itu dari segi pendidikan dan
kualitas hidup juga tidak terlalu buruk, bahkan mungkin masih tinggi daripada
masyarakat di pulau jawa lainnya. Pusat-pusat pendidikan terbaikpun masih ada
di tatar sunda. Bahkan masyarakat sunda yang merantaupun berada pada kalangan
masyarakat terdidik. Jadi sbenarnya merupakan potensi tersembunyi yang tidak
disadari oleh masyarakat sunda sendiri.Bahkan dalam tataran budaya dan sejarah
juga kita masih termasuk bangsa yang besar dan stabil
Masyarakat yang kalem, cool, tidak
reaktif,sopan, mungkin salah satu ciri
yang mashi kental yang melekat pada mayarakat sunda. Tetapi hal demikian juga
bukan jaminan menjadi bangsa yang
diperhitugkan dalam suatu masyarakat yang beringas seperti yang terjadi di
negeri ini.bahkan mungkin lambat
laun akan terpinggirkan dengan
sendirinya.
Jadimmungkin saatnya sekarang ini kita
mendiskusikan karakter-karakter baru, sehingga peran-peran masyarakat sunda
mungkin akan lebih dominan dimasa yang akan datang
Bab VIII. Pandangannya Tentang Peradaban ke Depan
1. Bangkitnya Bangsa Yang Pernah Terjajah
Suatu bangsa yang pernah terjajah akan mengalami kemajuan
sebanding dengan lamanya ia terjajah. Mungkin itu kesimpulan dari ilmuwan besar
muslim, Ibn Khaldun, ketika menganalisa tentang Bani Israil, yang menjadi budak
selama 450 tahun, dan mulai bangkit di era Thalut, Nabi Dawud dan Nabi
Sulaiman, 450 tahun setelah pembebasan Bani Israil oleh Nabi Musa.
Ilmuwan besar muslim melayu / indonesia yang sangat konsent
terhadap teori Ibn Khaldun ini adalah Buya Hamka, seorang ulama besar dan ketua
MUI pertama Indonesia. Dalam karya tafsirnya yang terkenal " Al
Azhar", Buya Hamka menganalisis secara terperinci tentang upaya-upaya awal
kebangkitan yang tidak banyak dukungan dari kaum mayoritas, hingga hidup bangsa
bani israil terkatung-katung selama 450 tahun hingga datangnya Thalut dan
Dawud, orang yang benar-benar baru, dari kaum biasa yang memiliki
"basthattan fi jasad wail ilmi" yang memiliki kekuatan fisik dan
ilmu.
Bani Israil adalah sebutan dari keturunan nabi Yakub as.
Nabi yakub sendiri sering disebut dengan nama Israil, yang berarti orang yang
berjalan dimalam hari, karena mau dibunuh oleh kakaknya, sehingga ia harus
berjalan diwaktu malam hari dan bersembuni di siang hari. Bani Israil mengungsi
ke tanah Mesir di era Nabi Yusuf menjadi bendahara kerajaan di Mesir. Nabi
Yusuf adalah putra bungsu dari Nabi Yakub, yang oleh saudara-saudaranya
dsingkirkan.
Seiring dengan waktu, populasi Bani Israil di mesir dengan
pesaat berkembang, sehingga dianggap sebagai ancaman bagi bangsa Mesir, yang
akhirnya bangsa Israil dijadikan menjadi budak. Hal ini berlangsung 450 tahun
hingga datangnya Nabi Musa sebagai penyelamat dan pembawa kemerdekaan Bani
Israil.
Bani Israil terkatung katung selama 450 tahun, karena
menolak pembaharuan dalam pemikiran hingga datangnya suatu generasi yang
orsinil, yaitu di era Thalut dan Dawud. Thalut adalah tokoh dari kalangan biasa
yang memiliki basthathan fi lasad wal ilmi', yang akhirnya bisa mengalahkan
jalut (goliat)
Belajar dari sejarah Bani Israil, dengan bangsa indonesia
ada kemiripan yang sangat jelas. Bangsa yang terjajah selama ratusan tahun
(konon 350 tahun). Jadi jika menganalisa teori Ibn Khaldun maka bangsa ini akan
bangkit 350 tahun setelah merdeka. Mengingat bangsa ini adalah bangsa yang
statis, maka bukan hal yang tidak mungkin bahwa teori ini benar adanya. (350
tahun baru bangkit).
Ada satu cara untuk membangkitkan semangat kebangkitan ini,
yaitu dengan cara revolusioner yang dicontohkan nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad hanya perlu 13 tahun untuk
membangun peradaban yang sangat modern.........Tapi mengingat bangsa ini
merupakaan bangsa statis, hal itu mungkin akan mengalami hal yang sama dengan
bani israil.
Banyak contoh dari hal tersebut diatas, misalnya, konon bagi
kaum tradisi bahwa penerimaan sekolah yang menggunakan model seperti
ssekarang itu hampir 80 tahun. Ketika
Ahmad dahlan mendirikan sekolah agama yang mengajarkan ilmu pengetahuan umum,
ia dikritik habis-habisan oleh para ulama tradsi, ketika ada wacana arah kiblat
salah yang dikumandangkan oleh Ahmad dahlan, juga dikecam habis-habisan,
sekolah pakai bangku juga dikecam habis-habisan. Jadi konon para ulama tradisi
baru menadari kekeliruannya setelah hampir 75 tahun, ketika organisasinya
kekurangan para intelektual. Dan tentang
arah kiblat yang salah, ulama tradisi dan kaum awam perlu hampir 100 tahun
untuk menadari kekeliruannya. dan mungkin budaya tahlilan akan disadari
kekeliruannya 50 tahun yang akan datang, dan sebagainya.
Masyarakat Sunda harusnya belajar dari sejarah, apakah kita
akan membiarkan pandangan-pandangan yang salah menutupi diri, menutupi
keagungaan agama beratus-ratus tahun. Apakah kebodohan , ketidaktahuan kita
terhadap agaama akan tetap selamanya
menutupi keagungan agama kita. Apakah kita akan membiarkan suatu ungkapan
'kehebatan (keagungan) Islam tertutup oleh kebodohan umatnya'.
Kita memang harus mengembangkan berbagai pertanyaan untuk
diri kita, pertanyaan terhadap kebiasaan-kebiasaan kita, pertanyaan terhadap
tradisi-tradis kita, pertanyaan terhadap pengetahuan kita, pertanyaan pada
komitmen kita, pertanyaan pada idealisme kita. Mungkin kita harus mengungkap
pertanyyaan-pertanyaan tersebut. Dan jika pertanyaan ini disistematisasikan dan
dijawab dengan kejujuran hati, dan pengetahuan yyang luas maka kita akan
mendapat suatu masyarakat yang berperadaban, dan masa depan yang cemerlang akan
di depan mata.
Jika tidak bisa disebarkan pada masyarakat luas minimal
untuk diri kita, atau keluarga kita, atau minimal kita buat sejarah buat kita
sendiri, siapa tahun akan menginspirasikan generasi muda masa depan yang
idealis.
2. Kesinambungan Sejarah
2 April 2011 pukul 22:55
Kesinambungan sejarah, suatu tema yang banyak dibicarakan oleh para pemikir futuristik. Mengapa begitu penting tema ini, dikarenakan ada korelasi hubungan antara bangsa bangsa besar didunia dengan tema tersebut. dan hanya bangsa yang " mempertahankan kesinambungan sejarah ini" akan menjadi bangsa besar dikemudian hari, atau minimal dapat menjadi bangsa moderrn dizamannya. salah satu ciri bangsa besar adalah tidak pernah mengganti-ganti huruf atau tulisan. Karena dengan tidak merubah huruf atau tulisan berarti akan ada komunikasi antara masyarakat sekarang dengan hasil intelktual dimasa lampaunya. Indonesia adalah bangsa yang selalu berganti-ganti huruf, sehingga kurang mempunyai ciri dari bangsa besar ini. Di Asia Jepang adalah salah satu contoh bangsa yang tidak pernah mengubah huruf atau tulisan, berbeda dengan Turki, suatu bangsa besar dimasa lampau, tetapi karena hurufnya diganti sangat susah untuk menjadi bangsa yang modern. Dan mungkin dimasa depan mungkin Cina adalah bangsa yang menjanjikan menguasai tekhnologi, karena mereka tidak pernah mengganti huruf atau tulisan.dengan demikian masyarakat Cina hingga kinipun bisa menikmati karya-karya intelektual dari berbagai zaman, dan terbukti Cina sekarang ini mulai menguasai pangsa pasar tekhnologi.
3. Perlunya Umat Islam mengkonsep masa depannya dengan konsep peradaban
Membaca tulisan rekan saya di republika online tentang begitu maraknya perayaan tahun baru masehi di tengah penduduk yang mayoritas muslim, ynag merupakan suatu ironi. Dia menyimpulkan bahwa umat islam masih berada diluar pagar peradaban. Dia menawarkan tentang perlunya umat islam mengkonsep dirinya berdasar konsep peradaban, yaitu suatu konsep yang mengedepankan intelektualitas dan ilmu. Dan dia mengajak agar masyarakat muslim memulai mentransformasikan dirinya dari dari budaya lisan kepada budaya tulisan, yang intinya mulai sekarang harus senang membaca dan membaca.
4. Tahapan Tahapan Membangun Peradaban
"Perubahan" (bahasa arabnya
"Taghyir") adalah kata yang
harus tetap kita pegang dalam hidup di dunia ini. Islam mengajarkan kepada kita
bahwa hari ini harus lebih baik daripada kemarin, dan hari esok harus lebih
baik dari hari sekarang. Suatu perkataan dinamis (bergerak) menuju ke arah yang
lebih baik, yang berarti pula adalah bahwa kita itu harus berubah tiap hari
(dinamis).
Dunia ini memang sangat dinamis, dan memang manusia harus
menyadari bahwa perubahan itu memang
perlu, karena kita memang hidup di dunia yang bergerak. Tetapi bangsa kita
termasuk bangsa yang statis, yang mempunyai respond terhadap perubahan
sangatlah rendah. Coba kita bayangkan betapa nenek moyang kita adalah nenek moyang yang statis, yang menikmati
penjajahan selama ratusan tahun. Menikmati penderitaan begitu nyenyaknya. Tanpa
usaha dan upaya untuk melepaskannya. Kaum mayoritas menikmati penderitaan dan
penderitaan selama beberapa keturunan.
Dan jika ada orang yang mengingatkan, ada orang yang mencoba membangkitkan
potensi-potensi diri selalu dicibir, didukung adalah hal yang mustahil, padahal
dijangka panjang sangat menjanjikan. Mereka selalu berdalih tidak sesuai dengan
budaya bangsa, budaya bangsa budak yang dijajah ratusan tahun, yaitu jumud,
taklid, tidak berilmu, pasrah terhadap keadaan, menunggu takdir yang lewat
siapa tahu lagi hooki.
Konon bangsa ini menyadari bahwa arah kiblat itu keliru
sudah hampir seratus tahun disadari, padahal 100 tahun yang lalu sudah ada
orang yang mengingatkannya. Suatu perjalanan yang sia-sia selama seratus tahun,
dan anehnya ini didukung oleh mayoritas umat. Kebodohan dipegang dengan erat
selama ratusan tahun.
Mengikuti generasi lama adalah kesia-siaan dalam hidup,
mengubah bahwa pandangan yang salahpun perlu energi yang sangat banyak, karena
kita akan melawan mayoritas umat dan juga mayoritas ulama tradisi., yang sangat
menikmati perannya sebagai tokoh pembodohan, yang tidak disadarinya. Generasi
lama harus kita biarkan saja menikmati pembodohannya, tetapi bagaimana generasi
mendatang bisa terlepas dari pembodohan yang akut tersebut.
Perubahan, perbaikan, pembangunan suatu kata-kata dinamis
yang harus kita dengung-dengungkan, karena kata-kata tersebut seolah membawa
semangat kepada diri kita dalam upayanya mencapai kehidupan yang lebih baik.
Untuk mencapai perubahan-perubahan tersebut, setidaknya kita
harus ada perbandingan. Suatu bentuk perbandingan peran-peran dalam kehidupan.
Berarti kita harus ada suatu media yang dapat menampung
perbandingan-prrbandingan tersebut. Buku adalah tempat dimana perbandingan-perbandingan
itu ditulis.