Laman

Minggu, 07 September 2014

SENI TRADISIONAL GEMYUNG (TERBANG UYUT) DI HARIANG



Dalam sejarahnya, kesenian di daerah Hariang telah berkembang sejak era berdirinya leumbur (daerah) tersebut. Seperti kita ketahui bahwa Hariang  didiirikan oleh  Raden Wangsa Wijaya menjadi suatu perkampungan pada abad ke-17 M. Dalam buku sejarah Desa Hariang yang disusun pertama kali oleh Kuwu E. Sona yang disusun kembali oleh Bapak Atnawi dikatakan bahwa Hariang didirikan pada tahun 1665 M (1085 H), meskipun sebenarnya kemungkinan lebih tua dari tahun tersebut.

Pada saat Raden Wangsa Wijaya memutuskan untuk tinggal di Hariang, karena ia termasuk bangsawan dari keluarga para bupati Sumedang waktu itu. Maka berdatangan pula lah orang yang mengikuti beliau untuk ikut serta dalam membangun leumbur Hariang. Diantaranya ada ahli seni yang bernama Ki Raksa Mayu.  Entah kesenian apa yang dikembangkan oleh Raksa Mayu dalam mengembangkan kesenianya, tetapi ia sangat dikenal sebagai seorang ahli tabuh-tabuhan, yang bisa membuat  terlena orang yang mendengarnya.

Salah satu kesenian yang  hingga kini masih ada  dan merupakan warisan dari nenek moyang hariang adalah seni Gemyung atau dalam istilah masyarakat disebut juga dengan nama terbang uyut. Jadi kemungkinan seni gemyung ini merupakan salah satu warisan dari Ki Raksa Mayu di era generasi Hariang pertama.

A.. Sejarah Seni Gemyung (Terbang)

Di masyarakat desa Hariang kesenian terbang disebut juga dengan seni Gemyung. Tetapi dalam masyarakat Hariang, karena kesenian ini ada yang bersifat magic, jadi istilahnya biasanya juga dinamakan seni terbang uyut. Uyut merupakan suatu istilah yang berkaitan dengan leluhur.  Dalam istilah sunda, uyut itu adalah generasi diatas kakek (aki). Jadi istilah uyut hal ini identik dengan nama leluhur.

Buku tentang terbang ini telah ditulis oleh Maman Suharya yang berjudul “Seni Terbang” atau Riwayat Seni Terbang”. Yang ditulis pada tahun 2006 di Banceuy Bandung. Tetapi sejarahnya seolah masih mengawang. Tetapi intinya bahwa Gemyung itu sangat erat kaitannya dengan Syekh Nurjati atau dikenal juga dengan nama Syekh Datuk Kahfi.

Konon bahwa seni gemyung ini berasal dari Baghdad yang dibawa ke Cirebon yang waktu itu merupakan kota pelabuhan dari kerajaaan Sunda (Galuh),  di era Syekh Nurjati atau Syekh Datuk Kahfi.  Kemudian terbang atau Gemyung ini dikembangkan oleh anaknya Syekh Maulana Abdurrahman atau dikenal dengan nama Pangeran Panjunan.

Dalam sejarah kita ketahui bahwa Syekh Maulana Abdurrahman merupakan bapak dari Maulana Muhammad (Pangeran Pamelekaran). Sedang Pangeran Maulana Muhammad merupakan bapak/ ayah dari Pangeran Santri. Pangeran Santri merupakan ayah / bapak dari Parbu Geusan Ulun. Prabu Geusan Ulun merupakan ayah / bapak dari Pangeran Rangga Gede. Dan Pangeran Rangga Gede mempunyai anak yang bernama Nyi Mas bayun. Dan Nyi Mas Bayun kemudian menikah dengan Raden Wangsawijaya, dan mendirikan perkampungan di Hariang sekarang.

1.. Pengertian Seni Gemyung (Seni Terbang)

Seni gemyung sendiri pada awalnya dikembangkan oleh para wali sebagai syiar dalam menyebarkan keagamaan islam.

Seni gemyung atau dikenal dengan nama seni tarbang., yang kemudian dikenal dengan seni terbang. Dalam buku yang disusun oleh Maman Suharya  dikatakan bahwa Tarbang merupakan 7 huruf yang awalnya merupakan singkatan dari bahasa Arab dari hal sebagai berikut:

.. T berasal dari kata Taroban yang artinya Allah yang maha Esa
.. A berasal dari kata Adabun yang artinya pancer Dua kalimat Syahadat
.. R berasal dari kata Rebana yang artinya Marhaban iman Islam
.. B berasal dari kata Baasun yang berarti pusaka keramat.
.. A berasal dari kata Adin yang artinya Agama yang merupakan aturan yang dibawa para rasul.
.. N berasal dari kata Nadom yang artinya menggembirakan sedemikian banyaknya.
.. G berasal dari kata Gusnun yang artinya tabuhan dan turun temurun.

Pada awalnya penabuhnya semua laki-laki dengan menyanyikan syair-syair / sholawat nabi, sambil dikuti oleh tabuhan alat tabuh yang bernama terbang.

2.. Seni Gemyung atau Terbang di daerah Lain

Seni gemyung sebenarnya bukan hanya tradisi yang ada di hariang saja, tetapi di daerah lain juga ada, seperti di Bandung, Kuningan, majalengka, subang dan sebagainya.

Di Bandung sejarah tentang seni ini  diungkapkan salah satunya oleh Maman Suharya dalam yang konon ia sendiri mewarisi turun temurun hal tersebut dari yang dinamakan dengan Eyang Suci. Maman mendapati kesenian tersebut dari ayahnya..

B..Perkembangan Seni Gemyung (Terbang) di Hariang

Seperti diungkap dari silsilah keturunan, bahwa Wangsawijaya sebagai pendiri Leumbur Hariang sangat erat kaitannya dengan silsilah nenek moyang pembawa kesenian ini, yaitu Syekh Nurjati atau Syekh Datuk Kahfi, melalui silsilah keturunan Raja Raja dan bupati Sumedang. Jadi kesenian Gemyung atau terbang seolah telah menjadi kesenian warisan nenek moyang dari leumbur Hariang itu sendiri.

Dengan kedatangan Ki Raksa Mayu sebagai ahli seni yang mumpuni di Hariang di era awal pendirian kampung ini seolah menjadikan perkembangan kesenian Gemyung atau Terbang ini berkembang pesat. Dan telah menjadikan kesenian asli atau tradisi dari leumbur Hariang secara turun temurun. Karena nantinya di era tahun 1706 hingga tahun 1709 ada suatu grup kesenian Gemyung (terbang) yang dinamakan perkumpulan Sekar Terbang Buhun. Yang menjadi lurahnya atau pemimpinnya adalah Aki Angga Waruling,

1.. Perkumpulan Sekar Terbang Buhun

Di tahun 1700-an telah ada sekelompok orang terkenal dalam seni gemyung / terbang ini, yaitu perkumpulan Sekar Terbang Buhun. Yang menjadi lurahnya atau pemimpinnya adalah Aki Angga Waruling, dan ahli sulingnya, adalah istrinya Nini Angga Waruling.  Yang menjadi Juru kawihnya / sinden adalah Nini Sarwalana, yang menjadi juru tari adalah Lenyang Kuning. Yang menjadi pembawa acara sekaligus keamanan seni adalah Kijagabaya. Sedang pnabuh gendang adalah Aki Buleuneung.
Ia mempunyai ketenaran diantara tahun 1706 hingga 1709 M. Tetapi setelah tahun 1709 M, ia ketenarannya sudah meluntur, sehingga ia kemudian menyingkir menyepi dan membuat tinggal di sekitar mata air Cilembang. Karena itu kadang Nini Sariwalana dan Aki Buleuneung selalu dikaitkan dengan mata air Cilembang. Sedang Lenyang kuning diabadikan dalam apa yang disebut dengan Lenyang kuning sekarang (daerah pangangonan) antara desaHariang dengan desa Wanajaya.

2.. Seni Gemyung Di Era Lebe Kamsu

Di  Era ki lebe kamsu (personil lainnya antara lain: ki katma, ki uca, mang ijan (kendang)), seni gemyung masih dalam bentuk aslinya, meskipun sudah ditambahkan kendang. Tetapi lagunya masih menunjukan aslinya, berupa syair-syair sholawat nabi atau  tentang keagamaan. 

Dan yang menarik lagi adalah yang ngigeulnya, kadang setelah tengah malam banyak yang kesurupan.Di era ini Sang kakek yang bernama Ojo Suwangga mempunyai keunikan dalam hal "ngigeul" nya.

3.. Seni Gemyung Tradisional Kombinasi di Era Abah Olin

Gbr. Seni Gemyung Tradisional / Kombinasi "Jayamukti Sekar Panggugah" Pimp. Aabah Olin
Di era Abah Olin, seni gemyung dikolaborasikan dengan seni ketuk tilu (tambahan gamelan), sehingga menjadi tontonan yang lebih menarik. Seni asli gemyung hanya diawalnya saja sebagai pembuka dan wajib dilaksanakan, dan seterusnya adalah kolaborasi gemyung dan ketuk tilu (ada sinden wanitanya), dan setelah tengah malam maka seni gemyung lebih dominan lagi.


Abah Olin adalah putra dari Ki Ojo Suwangga, dan Aki ojo ini merupakan keponakan dari Aki Lebe Kamsu. Abah Olin merasa prihatin dengan nasib gemyung yang tidak ada penerusnya, setelah era Ki Lebe Kamsu meninggal semua. Untuk tetap eksis, seni gemyung olehnya kemudian dikolaborasi dengan seni tradisional ketuk tilu, karena itu ia kemudian namakan Seni gemyung tradisional  kombinasi.

Abah Olin bersama rekan rekan sekampungnya kemudian mendirikan  perkumpulan seni gemyung yang dinamakan Seni Gemyung  tradisional / kombinasi ”Jayamukti Sekar Panggugah’” pimpinan Abah Olin sendiri, dengan alamat Dusun Curug Desa hariang, kecamatan Buahdua.


Karena kombinasi maka ia bekerja sama dengan seniman di luar hariang, terutama yang menyangkut dengan keahlian yang tidak dimiliki dikampungnya. Ia bekerja sama dengan seniman dari daerah sekitar hariang, diantaranya dengan seniman dari Cibitung, Cikeresek dan sudimampir, dan daerah lainnya. Personil gemyung penabuh terbang  aslinya hanya 6 orang, yaitu: Abah Olin itu sendiri, Bp Adid, Bp Rusdia, Bp. Momo, Bp. Hamim dan Bp. Wirdayat. Dan ditambah goong oleh Bp. Ace, (semuanya asal Hariang).  Dan tambahannya: tukang kendang Bp. Maman (asal Sudimampir dan Bp. Nana (asal Cibitung); tukang saron (2 orang semuanya asal Cibitung); suling Bp. Warma (asal sumber); Rebab/ Biola Bp.  uu  (asal cikeresek); Bonang  bp. Asta (asal Cibitung); Penerus (saron gede) (1 orang asal cibitung). Jadi totalnya 15 orang belum termasuk sinden.

Seni gemyung biasanya dipentaskan ketika ada sunatan, nikahan, atau acara-acara penting pemerintahan. Biasanya gemyung tersebut disiang hari atau dimalam hari. Jika dilaksanakan di malam hari biasanya semalam suntuk, setelah sholat Isa hingga subuh (sebelum sholat subuh). Dan kadang orang yang “ngigel-nya” kalau menjelang subuh biasanya banyak yang kesurupan. Makanya seni gemyung di hariang sering disebut juga dengan istilah terbang uyut.


by Adeng Lukmantara bin Abah Olin
Peminat Studi Peradaban Sunda dan Islam
Asal Hariang - Sumedang

Sumber :
.. E. Sona dan Atnawi, Sejarah Desa Hariang, Agustus 2004
.. Suharya, Maman, Seni Terbang, Banceuy Bandung, Maret 2006
.. Wawancara Dengan Abah Olin