Laman

Jumat, 24 Oktober 2014

Novel : SIABAH SANG PENCERAH DARI TANAH SUNDA

Pengantar


",,,,,,,,,Diawali baca bismilahirrahmanirrahim, kita masuki awal hari, awal minggu, awal bulan dan awal ttahun dengan semangat,.optimis dan bertanggung jawab..Disamping belajar dan terus belajar....karena lautan ilmu dan kesempatan begitu terhampar bagi orang yang selalu ingin memperbaiki diri..........."

 Novel yang berjudul "Siabah  Sang Pencerah Dari Tanah Sunda" ini merupakan cerita bersambung tentang pemikiran-pemikiran siabah yang mencoba membangkitkan potensi diri, mengkritik berbagai hal yang dianggap bertentangan dengan pemikiran yang idealistik dan juga solusi, dan mencoba menganalisa bahkan membongkar tentang "kepercayaan" atau "mitos" yang selama ini menjadi kepercayaan yang seolah sudah mendarah daging, dalam kajian yang lebih berbeda dari kebanyakan orang, dimana kepercayaan ini telah mengalami pembenaran dari zaman ke zaman tanpa ada kritik dan analisa yang lebih rasional.
   Tulisan ini merupakan rangkuman dari tulisan-tulisan yang mungkin sudah dibaca sebelumnya, seperti yang ada di sundasiabah.blogspot.com dan juga Facebook Sundasiabah, dan juga tulisannya dari lembaran-lembaran kertas yang dicoba dikumpulkan. Karena keterbatasan waktu dalam  penulisan dan editan, mungkin kalau ada bahasa yang salah sehingga menimbulkan ketersinggungan pihak lain, mohon dimaafkan.


Bab I: Latar Belakang
1. Sekelumit Tentang Siabah
   Dalam suatu kesempatan saya bertemu dengan seseorang yang lumayan umurnya, sekitar berumur 45 tahunan. Meskipun kelihatan berwajah biasa saja, tetapi saya tidak menyangka bahwa dia mempunyai pandangan-pandangan jauh ke depan, terutama menyangkut peradaban islam di Indonesia, solusi pemecahan kemiskinan dan membangkitkan kemandirian dan intelektualitas anak bangsa. Siabah, demikian sebutan bagi tokoh idealis ini, karena dia tidak pernah mau menyatakan nama sebenarnya, yang menurutnya biar tidak riya.
     Memang kadang pandangan atau penampilan itu menipu. Jika tidak banyak waktu luang, mungkin mutiara-mutiara yang datang dari ungkapan-ungkapan tidak ada yang mengetahui. Karena dia tidak terlalu menggebu-gebu dalam mengeluarkan pendapatnya. Seolah dia mau menilai saya, apakah akan begitu lega menerima pendapat-pendapatnya.  Di negeri ini kan begitu kuat membentengi diri dengan sekat-sekat kebodohan diri, memproteksi diri dengan doktrin-doktrin yang sempit, sehingga menurutnya meskipun yang diungkapkan merupakan kebenaran-kebenaran yang sebenarnya, kadang ditolak atau dicurigai dengan wasangka yang kadang mengerikan.
   Jadi siabah seolah ingin menilai pada diri saya, apakah layak mendapatkan ungkapaan mutiaara-mutiara yang berharga ini. Dan alhamdulillah sekat-sekat ini dapat dengan mudah dihilangkan, karena sikap saya  yang cenderung terbuka, dan membuang sekat-sekat kebodohan yang memang cenderung menutup diri kita dari kemajuan.
Dari ungkapn-ungkapannya, sosok siabah meskipun sangat idealis, tetapi dia sangat realistis. Baginya  kebutuhan diri dan keluarga harus diutamakan daripada idealime itu sendiri. Tetapi idelaisme katanya harus tetap dijaga, jangan sampai mati karena kebutuhan hidup yang kadang sangat mengikat dan kadang diluar jangkauan.
   Pertemuan yang intens dengan siabah membuat diri saya semakin mendapat pencerahan. Siabah adalah nama seseorang yang dia sendiri tidak mau disebutkan namanya, tetapi ia lebih memilih nama Siabah. Nama siabah sendiri merupakan penghormatan pada ayahnya (yang selalu dipanggil abah) yang begitu bijak dan termasuk tokoh sunda yang memang  termarjinalkan karena hegemoni perpolitikan di negeri ini yang kurang menghormati budaya  local yang kaya.
  Siabah sendiri  pernah mesantren di cimahi Bandung, pernah pendidikan ikatan dinas di perusahaan penerbangan di Bandung, dan pernah jadi kartawan tetap di perusahaan tersebut. Kemudian karena kerja di kontraktor ia juga melanglang buana ke jawa timur dan Kalimantan.  Selain Sumedang, ia pernah tinggal di  Jakarta, Bandung, Surabaya, Bangkalan, Jombang, Tasikmalaya, Bontang, Samarinda, Balikpapan, Banjarmasin. Ia juga sering melancong ke berbagai kota di Jawa  Timur, jawa Tengah, Bali dan Kalimantan. Memang banyak tempat dan kota selain diatas yang dikunjungi dan kadang menginap untuk beberapa hari karena tugas atau sengaja wisata atau hanya berkunjung ke kota tersebut karena ingin tahu.
  Disamping itu siabah ini adalah penulis yang tekun. Ia merangkum sejarah peradaban islam, biografi lebih dari 1500 tokoh dan intelektual muslim.   Ia banyak sekali membaca buku-buku keislaman dan ia meringkasnya menyangkut pembicaraan biografi dan pemikiranya. Karena latar belakang yang kompleks membuat siabah setidaknya  mempunyai pengetahuan yang luas menyangkut berbagai hal, sejarah keagamaan, politik, tekhnologi dan lain-lain, disamping nantinya menjadi teman diskusi yang sangat mengesankan.

2. Ungkapan Prabu Tajimalela yang meninspirasikan Siabah Jadi Sang Pencerah
  Sebagai seorang yang dibesarkan di tanah Sunda, yaitu suatu desa di Sumedang, daerah dimana ia dilahirkan, Siabah pada awalnya mencari asal usul sejarah tentang Sumedang ini, yang konon dikemudian hari sebagai penerus dari kerajaan Pajajaran yang burak (bubar).
   Cikal bakal sumedang pada awalnya didirikan oleh Prabu Aji Putih atas dasar rekomendasi dari Raja galuh waktu itu, Prabu  Suryadewata. Tetapi Sumedang menjadi eksis sebagai kerajaan ketika diperintah oleh Prabu Tajimalela. 
Prabu Tajimalela adalah  seorang tokoh perkasa, dan sangat menyenangi bertapa. Dan setelah pertapaannya yang terakhir, ia berkata:” Insun Medal Insun Madangan”, yang artinya Saya dilahirkan saya menyinari (menerangi ) atau dalam isilah sekarang saya dilahirkan saya mencerahkan.
  Jadi hakekat kita dilahirkan ke dunia ini menurut Prabu Tajimalela adalah untuk mencerahkan. Nah perkataan Tajimalela inilah yag menginspirasikan untuk dirinya menjadi seorang pencerah


3. Konsep Konsep Sunda Yang Mencerahkan'
  Masyarakat Sunda tempo dulu dibangun dalam konsep yang mencerahkan. Dalam peradaban sunda klasik yang telah hilang, maka kita akan menemukan suatu konsep konsep-pencerahan yang sangat menakjubkan, yang justru telah banyak ditinggalkan oleh masyarakat sunda kini.
Masyarakat kita kini telah begitu lama meninggalkan akar budaya, dan terjebak menjadi pengekor yang penurut mengikuti irama kaki-kaki didepannya. Dan anehnya peran sebagai pengekor tetap dinikmati dan dipertahankan, dan tanpa upaya-upaya untuk menjadi bangsa yang leader,....Seolah hidup dibiarkan mengalir tanpa upaya-upaya memamfaatkan potensi yang sebenarnya sangat menjanjikan.
 Menjadi bangsa pengekor (bangsa buntut) mengikuti doktrin-doktrin yang sebenarnya sangat bertentangan dengan tradisi sunda, karena telah mengalami pembenaran-pembenaran manusia terjajah selama ratusan tahun. Sehingga hingga sekarangpun masyarakat kita kurang diperhatikan dalam kancah nasional maupun international, karena selalu berpegang teguh dan menikmati perannya sebagai 'pengekor' bukan sebagai leader. Padahal perannya sangat dibutuhkan, karena kalau dalam istilah 'catur' menjadi kuda hitam, bisa menjadi alternatif, karena perannya sangat dibutuhkan.
  Upaya-upaya menjadi bangsa leader memang harus segera dilakukan meskipun mungkin tidak akan mendapat dukungan dari mayoritas masyarakatnya karena telah menikmati perannya. Dan salah satu upaya dari membangkitkan sunda masa depan yang cerah adalah mencoba mengungkap kembali konsep-konsep pencerahan yang terdapat dalam peradaban klasik, baik dari kosa kata atau dari sejarah.

 a. Dari Asal-Usul Penamaan Tempat, Ibukota kerajaan dan nama kerajaan
a.1..Sunda
  Sunda berarti suci, murni atau puritan. Dalam sejarah nama sunda pertama kali diproklamirkan atau diperkenalkan oleh Maharaja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanagara, untuk menamai nama ibukotanya yang baru, Sundapura, yang berarti kota suci (pura yang suci).
  Jadi dengan menamai Sunda untuk ibukotanya ini, mungkin purnawarman, ingin membuat identifikasi yang jelas dan tegas tentang orientasinya ke depan, yaitu kesucian, kemurnian atau puritan, atau bisa juga diartikan sebagai golongan putih. Bagaimanapun penamaan mencerminkan suatu idealisme seseorang. Purnawarman adalah seorang maharaja besar, yang banyak membangun pusat-pusat peradaban, membangun sarana-sarana infrastruktur seperti jalan atau waktu itu sungai merupakan saranan lalulintas yang efektif. Maka ia membangun terusan-terusan, irigasi dan lain sebagainya dalam rangka memakmurkan bangsanya, dan itu tercatat dalam sejarah.
  Sunda, berarti suci, putih, murni atau puritan merupakan corak yang dicita-citakan Purnawarman. Jadi kemurnian , kesucian atau puritanisme adalah cita-cita yang hendak dibangun oleh pendirinya.

a.2. Galuh
   Ketika Wretikandayun menjadi pewaris tahta kerajaan Kendan, yang merupakan  negara bagian Tarumanagara, maka ia kemudian membangun sebuah ibukota baru yang akan menjadi pusat pemerintahan, Sang Wretikandayun manamainya dengan nama Galuh. Galuh adalah suatu kata yang berarti permata. Jadi disini Wretikandayun sang pendiri galuh, adalah seorang idealis. Dengan menamainya Galuh mengindikasikan tentang cita-citanya yang luhur yaitu membangun permata, permata kehidupan, permata dunia, sehingga orang selalu akan mengaguminya, atau membangun permata peradaban sehingga akan selalu dikenang oleh generasi berikutnya, karena dia telah meletakan kerangka yang baik, yaitu permata (galuh).
  Karena itu tokoh-tokoh Galuh tempo dulu merupakan permata-permata seorang ksatria sunda, seperti Ciung Wanara, Aki Balangantrang, merupakan percik-percik sejarah sunda yang penuh dengan pelajaran tentang ksatria, dan strategi disamping tetap menjunjung tinggi persaudaraan. Tidak hanya itu, cerita Lutung Kasarung juga berlatar sejarah Galuh.

a.3. . Pakuan
    Pakuan  berasal dari kata Paku, yang berarti kokoh, berdiri kokoh, anceug, teguh, dan arti yang lain yang berhubungan dengan kekuatan dan keteguhan. Pakuan adalah nama Ibukota kerajaan Sunda, yang sering disambung  dengan nama Pajajaran (karena berjajar). Jika paku berjajar maka akan menjadi kekuatan yang amat kokoh. Nama yang sepadan dengan paku sering juga digunakan sebagai nama raja-raja sunda, seperti Prabu Susuk tunggal. Nama susuk tunggal fungsinya sama dengan paku. Hal ini mengindikasikan bahwa pendiri ibukota Sunda,, adalah seorang idealis yang menginginkan keteguhan dalam prinsip. Sehingga dalam sejarah, kerajaan Sunda adalah kerajaan yang paling teguh dan paling lama berkuasa di tanah jawa, dengan sistem yang paling baik.

a. 4. Sumedang
   Sumedang berasal dari kata 'insun medal insun madangan' (saya dilahirkan saya menerangi), merupakan ungkapan yang sangat mencerahkan, yang dilontarkan oleh Prabu Tajimalela, ketika dia selesai bertapa. Prabu Tajimalela adalah putra Prabu Aji Putih. Prabu Tajimalela ini dianggap sebagai pendiri kerajaan Sumedang Larang yang sebenarnyya.
Pada awalnya Prabu Aji Putih mendapat restu dari Prabu Suryadewata untuk membangun suatu kerajaan keagamaan (kabuyutan) yang ia namai dengan nama Tembong Ageung (kelihatan besar). Prabu Aji Putih merupakan seorang idealis yang menginginkan generasi penerusnya akan menampakan diri menjadi bangsa yang besar, sehingga ia namai tembong ageung (kelihatan besar).
    Dan ketika Prabu tajimalela berkuasa, setelah ia kembali dari pertapaanya, dan ia berkata 'insun medal insun madangan' , maka setelah itu nama kerajaan tembong ageung menjadi sumedang larang yang berasal dari "inSUN MEdal insun maDANGan' (saya dilahirkan saya menerangi) yang berarti pula 'saya dilahirkan saya mencerahkan'.
 Dengan demikian Prabu Tajimalela lebih ingiin mengokohkan peranannya dalam kehidupan,(eksistensi sunda dalam kehidupan) bahwa kita dilahirkan mempunyai suatu tugas yang sangat mulia yang itu menerangi atau mencerahkan manusia. Mencerahkan berarti menjadikan agar orang lain itu menjadi manusia2 yang cerdas dan pinter, sehingga dengan kecerdasannya maka akan diraih suatu kemakmuran dan kesejahteraan. Pencerahan juga berarti, jangan membiarkan orang lain hidup dalam kebodohan, hidup dalam kezumudan. Karena kebodohan adalah sumber utama dari segala malapetaka dan kemiskinan.. Ada idiom, orang bodoh pasti miskin....

b. Dari Kosa Kata
b.1. Rancage
   Dulu orang tua sering mengajari bahwa hidup itu harus rancage. Yang menjadi pertanyaan adalah apa arti 'rancage' itu, sehingga tokoh besar sunda, Ayip Rosidi, menamai piagam atau penghargaan yang bernama "Rancage" bagi orang yang berprestasi dalam hal kebudayaan.
   Rancage adalah kosa kata Sunda yang sangat dinamis, yang berarti menuju ke tingkatan yang lebih tinggi (lebih baik). Seperti kita ketahui, dalam proses perjalanan manusia, ada tahapan untuk bisa berdiri tegak, jalan dan lari. Untuk bisa berjalan dikala kecil harus diajari berjalan selangkah demi selangkah, kemudian nantinya bisa berjalan sendiri dan kemudian lari. Contoh lain adalah dalam pencapaian ilmu, untuk menuju ke tahapan yang lebih tinggi, kita harus mengalami tahapan-tahapan pendidikan, dari SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi.
    Dengan demikian arti rancage disini berarti suatu proses atau tahapan atau upaya-upaya menjadi manusia yang lebih baik, (derajat lebih tinggi) dalam semua aspek kehidupan. Rancage adalah konsep otimistis dan konsep dinamisasi manusia sunda bahwa kita menjalani hidup harus tetap berproses secara bertahap menuju yang lebih baik.

c. Dari Peribahasa
c.1. "Lamun hayang ngakeul kudu ngakal"
   Dalam konsep Sunda untuk mendapatkan nafkah tidak langsung berkata harus kerja, tapi harus ngakal, yang berarti harus menggunakan akal. Suatu konsep yang intinya bahwa dalam mencari  nafkah harus menggunakan ilmu pengetahuan.
   Kerja biasanya diidentikan dengan hanya penggunaan otot  atau fisik. Jadi nenek moyang Sunda tempo dulu mengajarkan kepada generasi sesudahanya agar dalam mencari nafkah itu harus mengedepankan ilmu pengetahuan.
   'Lamun hayang ngakeul kudu ngakal" artinya kalau mau 'ngakeul' harus menggunakan akal". Ngakeul adalah proses pasca penanakan nasi yang akan disajikan. Orang sunda tempo dulu (dan hingga kini dikampung) ketika nasi telah selesai ditanak, dan akan disajikan, harus mengalami suatu proses yang disebut ngakeul, yaitu nasi yang sudah mateng dari dandangan diolah supaya 'pulen' dengan menghilangkan unsur-unsur asap dalam nasi, yaitu dimasukan pada suatu tempat yang disebut dulang, dan diaduk-aduk dan dikipasi dengan kipas yang dinamai hihid. Jadi ngakeul adalah proses panca penanakan dan pengolahan nasi agar 'pulen' dalam penghidangan.
  Sedang ngakal adalah penggunaan akal. Jadi sebenarnya konsep mencari nafkah yang ingin diajarkan oleh nenek moyang sunda sangatlah ideal, gunakan akalmu. Karena dengan akal banyak sekali cara yang bisa dilakukan, tidak hanya menggunakan otot saja, tetapi melalui metode atau tekhnik yang benar. Buah akal adalah pikiran dan strategi. Dengan menggunakan pikiran dan strategi maka akan mudahlah mencari nafkah.
   Nah inilah sebenarnya yang banyak ditinggalkan oleh orang sunda kini. Penjajahan yang lama membuat semua potensi akal tertutupi bahkan ditutupi. Ketakutan yang berlebihan membuat manusia-manusia sunda kurang kreatif. Padahal nenek moyang sunda mengajarkan sangat ideal bagi pencapaian derajat manusia yang sangat mumpuni, tapi sekarang banyak ditinggalkan, karena mencari nafkah cenderung hanya menggunakan otot, dan kebiasaan turun temurun bangsa terjajah, taklid, jumud dan tidak kreatif.
 Jadi intinya, nenek moyang sunda tempo dulu menginginkan generasi berikutnya menjadi manusia-manusia profesional, yang menggunakan akalnya. Profesi itu banyak sekali, bisa sebagai pengajar, bisa sebagai penulis buku, bisa sebagai penyair atau pengarang, tani, dipabrik-pabrik dan lain-lain.
 Jadi sangat sayang dan mungkin sangat kita kasihani jika banyak orang sunda yang mempunyai profesi sebagai buruh kasar, dengan gaji tidak seberapa, dan hak-haknya juga biasanya jarang diperhatikan baik oleh pemerintah maupun pengusaha karena memang mereka lemah dan tidak berdaya. Harusnya hal demikian bagi manusia sunda itu tidak diharapkan oleh para pendirinya, karena sunda sendiri merupakan daerah parahiyangan, yang merupakan turunan-turunan rahiyang. Bukan berarti menjadi buruh tidak boleh, tapi kita harus kasihan,....dan ini merupakan tugas dari para pemimpinnya, meskipun hal yang demikian sangat sulit, dan yang paling mungkin adalah merevolusi diri, jangan biarkan diri berada dalam kebodohan dan selalu mempertahankan kebodohan, konon orang bodaoh itu lebih sombong karena ketidaktahuannya. Karena kebodohan merupakan sumber malapetaka awal manusia. Orang bodoh itu pasti miskin, dan orang miskin belum tentu bodoh.
  Perbanyak membaca, perbanyak membaca, cari tahu yang tidak tahu, dan cara-cara lain agar kita meningkat pengetahuannya. Karena dengan pengetahuan adalah kesempatan, kesempatan awal untuk memulai menjadi manusia kompetitor, yang siap memenangkan persaingan. Meskipun persaingan bukan tujuan, tapi di dunia ini akan selalu bersaing, dan dengan pengetahuan kita akan selalu siap bersaing.

c.1.1. Perbedaan Konsep akal Sunda dan konsep akal Jawa
Judul ini bukan untuk menjelekkan salah satu dari keduanya, tetapi ini merupakan awal dari suatu langkah untuk mencari konsep yang mandiri (independen) dan tidak hanya menjadi bangsa pengekor. Konsep akal dalam tradisi jawa telah mengalami penegatifan konsep akal (konsep akal sudah dinegatifkan artinya. Hal ini bisa diungkapkan dalam kata 'ngakali' adalah suatu ungkapan atau kata yang menunjukan cara-cara yang negatif. Ngakali adalah suatu perbuatan atau cara untuk hal-hal yang berbau negatif, seperti mencelakan orang dan lain sebagainya. Jadi konsep akal dalam tradisi jawa telah mengalami penegatifan makna. Hal ini berbeda dengan konsep sunda yang memang  menyuruh kita menggunakan akal.
Tidak hanya akal, kata 'pinter' pun mempunyai pengertian yang berbeda. Dalam konsep jawa yang disebut orang pinter adalah dukun, atau paranormal, atau orang dianggap mempunyai pengetahuan tanpa belajar. Hal ini berbeda dengan konsep sunda tentang orang pinter. Yang disebut pinter dalam tradisi sunda adalah orang yang pinter secara akademik, untuk dukun tetap disebut dukun.
Dari keterangan diatas sebenarnya cukup mewakili, bahwa manusia harusnya menggunakan penggunaan akal yang maksimal. Karena itu sudah saatnya kita memulai membangun lagi tradisi sunda yang orsinil yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan penggunaan akal yang maksimal.
Dan sudah saatnya kita melepaskan budaya menjadi bangsa pengekor, dan meninggalkan cara-cara bangsa terjajah, yang menjunjung tinggi kemalasan dan sangat jarang menggunakan akalnya.


BAB II. Membangkitkan Potensi Diri

1. Harus Banyak Kahayang ( Banyak Kemauan)
Ketika siabah beriskusi dengan seorang kakek bijak, sebut saja namanya Aki Jamrong, dia berkata : " Jang pami janteun jalmi teh kedah loba kahayang. Ulah 'menjebakan diri' janteun jelema nu teu boga kahayang. Sabab hirup di dunia teh keur ngolah kahayang.". Aki teh osok seubeul eta ka jalma anu teu loba kahayang. Contona nu teu loba kahayang mah, pami janteun pamimpin, osok tara 'memperhatikan' rahayatna. jalan goreng oge osok dianteupkeun wae, da teu boga kahayang.".

2. Jangan Bicara Harus (Kudu)
Ceuk si aki jamrong, jelema anu "boga kahayang" mah ulah ngucap basa "kudu". Kudu benghar, kudu bageur, kudu geulis, kudu kasep, kudu pinter. Sabab anu loba nyaios basa 'kudu', biasanamah jalma-jalma anu males, jalma-jalma anu teu boga kahayang, jalma jalma anu otoriter, jalma-jalma anu jarang boga alternatif2, jalma anu teu kreatif. ku sabab kitu jalma anu loba ngucap 'kudu'. Ceuk si aki jamrong lamun jalma nu 'boga kahayang' mah, sok ngahareupkeun basa 'kumaha carana' (mikir cara anu positip). Kumaha carana jadi jalmi benghar, kumaha carana supaya pinter, kumaha carana supaya jadi pamimpin, kumaha carana jadi pejabat, kumaha carana, kumaha carana, kumaha carana..............kumaha carana......, : ceuk si aki
(lanjut)


3. Menilai Seseorang Berdasar Kahayang (kemauan) dan Khayalan Seseorang
Memang menarik sekali ketika berdiskusi dengan si aki jamrong yang terkenal bijak. Pada suatu ketika si aki berkata: " Jang, pami hoyong terang jalmi hoyong maju, jalmi anu optimis, jalmi anu tara ngarasula, tanya kahayangna, tanya lamunana, tanya hayalanana. Tah didinya engke urang bisa nilai yen jalmi eta teh osok ngarasula, pami ceuk orang melayu mah' orang yang tidak pernah menikmati kenikmatan dunia', nyaeta jalmi anu osok lamunana, hayalanana, kahayangna (maksadna kahayang nu positif). "ngalamun wae susah, komo kanyataanana (Melamun saja kok susah apalagi menghadapi realitas)",: Ceuk si aki
Bagi Siabah khayalan seseorang sangat berpengaruh terhadap kesuksesannya masa depan, Khayalan disini nantinyya bisa diartikan cita-cita, bisa diartikan mimpi, bisa diartikan khayalan itu sendiri. 
Cita cita adalah khayalan yang kemudian seseorang berusaha untuk merealisasikan dengan tahapan-tahapan yang jelas. Semakin gigih seseorang dalam merealisaikan khayalan dalam kehidupan maka peluang untuk meraih sesuai dengan khayalannya akan semakin dekat dengan realitasnya. khayalan jenis ini kemudian kadang diartikan positif dengan nama cita-cita, suatu ungkapan untuk membedakan dari ungkapan khayalan yang hanya angan-angan saja.
Arti khayalan yang kedua bisa berarti hanya angan-angan saja. Meskipun susah dalam membuat kesimpulan antara cita-cita dan angan  (lanjut)

3. Membangun Karakter Baru yang Lebih Bertanggung Jawab
Membangun karakter baru yang bertanggung jawab mungkin suatu karakter yang harus dibangun oleh bangsa kita. Mungkin masyarakat sunda sekarang ini harus sesegera mungkin membangun karakter yang demikian. Kita tidak boleh ikut-ikutan terbawa oleh budaya bangsa kita yang cenderung korup, cenderung aji mumpung, cenderung menutupi, kurang terbuka, dan hipokrit.
Karena apabila kita mengkaji secara epistemologipun masyarakat sunda sebenarnya bisa terdepan dalam merealisasikan hal tersebut. Jika kita meneliti asal kata "sunda", kita akan mendapatkan suatu pengertian yang orsinil yaitu kemurnian. Sunda berarti murni, suci. Nama yang pertama kali digunakan oleh Prabu Purnawarman dalam menamai ibukota barunya "Sunda Pura" (kota suci / kota murni). jadi harusnya secara epistemologi ini masyarakat sunda harus berupaya untuk membangun kemurnian dalam hidup, suatu kehidupan yang bertanggung jawab.
Tidak hanya itu, jika ditinjau dari segi huruf pun sangat jelas dan terang. Huruf-huruf yang digunakan oleh masyarakat sunda selalu tetap pengucapannya meskipun ditempatkan di depan, di tengah, dan di belakang. Huruf K misalnya, di depan ditengah, dan dibelakang harus tegas diucapkan K. Makanya orang sunda sebenarnya harus menolak penggunaan kata "Bapak", karena K disana tidak dibaca. Harusnya orang sunda konsisten bahwa K disana harus dibaca tegas, atau harus dihilangkan sama sekali, karena K disana tidak perlu. Karena jika penggunaan huruf saja sudah berubah-ubah maka karakter kita akan berubah-ubah. Ketika di depan demikian, di tengah berubah dan di belakang tambah berubah lagi. Dan hal ini bisa berkembang menjadi pemahaman, jika menjadi masyarakat biasa kok baik-baik, tetapi jika menjadi penguasa kok berubah, bisa serakah atau aji mumpung. Jadi marilah kita mengorek lagi budaya kita yang memang kita pelajari agar kita menjadi kuda hitam dalam menentukan ke arah masyarakat yang lebih bertanggung jawab


4. Membangun Karakter Kemodernan yang orsinil
   Bagaimanakah membangun suatu karakter orsinil yang modern. Bagaimana agar kemodernan dapat diterima sebagai suatu keharusan, bukan suatu keterpaksaan. Sehingga kemodernan dapat menjadi fasilitas dalam mencapai kesejahteraan masyarakat. Bukan seperti sekarang, kemodernan bagi kita merupakan keterpaksaan, karena memang dunia telah modern, sehingga kita hanya menjadi penonton dan pemakai dari kemodernan ini bukan sebagai pembuat atau pelaku dari kemodernan itu sendiri.
Mungkin kita harus belajar kepada jepang, yang bisa membangun kemodernan jepang yang orsinil. Dia adalah pelaku, dia adalah pembuat dan dia adalah pendesain. Kalau kita hanya jadi pemakai dan penonton kemoderan itu sendiri. karena orang jepang menganggap kemodernan merupakan suatu keharusan. Bukan seperti kita pemahaman kemodernan lebih diakibatkan oleh keterpaksaan. Dan ada yang wajib ditiru dari jepang, kemodernan baginya bukan berarti meninggalkan kejepangannya, tapi modern jepang karena memang orsinil jepang yang modern, bukan hanya sebagai pengekor yang tidak kreatif........

5. Tetap oftimis
Banyak orang memandang dunia ini dengan keluh kesah, dan banyak juga dengan perasaan oftimis, dan ada pula yang memandang dengan semangat tapi kadang dibarengi dengan kengerian dimasa lalu yang teralami,......itulah hidup....tapi daripada berkeluh kesah, mending enjoy-enjoy saja dalam memandang dunia, semangat & oftimis,....karena kedua hal tersebut bagaikan suplemen yang menyegarkan kehidupan dunia
Menurut Jalaludin Rumi, Kepedihan &penderitaan sesungguhnya merupakan wasilah (jalan) untuk mencapai lazzat(kepuasan batin), bahkan dalam kepedihan itulah tersimpannya kepuasan. Kadang untuk menyempurnakan martabat diri perlulah ditempuh jalan yang sulit dan sukar. Orang yang berani menempuh jalan Allah, pasti bertemu dengan yang baik, jahat, susah, sulit, yang memuaskan hati & yang mengecewakan, semuanya harus ditempuh dengan gagah berani


6. Harapan yang terhampar
   Jika memandang ke depan seolah terhampar jalan yang begitu luas. Batu sandungan dan duri meskipun menghalangi, bukan hal yang menyulitkan dan menghalangi bagi mereka yang punya harapan. Realitas hidup yang kadang naik turunpun itu merupakan perjalanan yang begitu menarik untuk dilalui. Harapan adalah sesuatu energi yang membuat orang itu tetap semangat dan tetap energik......


Bab III.  Membongkar Mitos Mitos Zaman Baheula
Karena dibesarkan dari desa, banyak sekali mitos-mitos yang menjadi kepercayaan terhadap masyarakat. Mitos atau cerita cerita mistik  ini bukan hanya menjadi konsumsi di desa  saja, tetapi mitos ini telah menjadi mitos bagi masyarakat baheula, bahkan hingga sekarang.
Dalam menanggapi mitos ini seolah masyarakat sudah terjebak pada kepercayaan yang turun temurun, sehingga generasi berikutnya harus menceritakan ke generasi berikutnya lagi, padahal yang namanya “kata orang”, biasanya akan berkembang dan berkembang. Jika cerita itu dikembangkan dengan suatu kebohongan maka kebohongan itu akan berkembang dengan kebohongan yang lain.
Siabah mencoba  “ngaguar” tentang berbagai kepercayaan masyarakat kita, yang sebanarnya dikembangkan dalam rangka pembodohan masyarakatnya, sehingga dengan mudah ditipunya. Dulu banyak sekali orang terutama penguasa atau centeng penjajah, yang memamfaatkan keluguan masyarakatnya demi keuntungan yang sangat besar, dengan lepas dari tuduhan.

1. Kepercayaan orang terhadap Jegig atau babi ngepet
Dalam ilmu strategi, kita mengenal tentang teori pengalihan, baik pengalihan opini maupun pegalihan fokus pandangan lainnya. Jadi untuk mencapai maksud tertentu atau dalam perang teori pegalihan ini sangat penting sekali. Karena perhatian seseorang akan teralihkan pada maksud yang sebenarnya, sehingga ada pembenaran dan yang disalahkan tidak tertuju pada si pelaku, bahkan mungkin akan tertuju pada lawannnya.
Tidak ada kebenaran yang diangkat dalam suatu cerita dengan maksud mencari keuntungan pribadi atau penguasa, tetapi bagaimana cerita itu mendapat pembenaran dari masyarakat. Jika sudah mendapat pembenaran maka akan terjadilah mitos, yaitu suatu pembenaran dari masyarakat karena ketidakberdayaan penggunaan akal yang maksimal, atau karena ketidakberdayaan dalam menjalani hidup atau ketidakberdayaan dalam menghadapi sang penguasa.
Salah satu mitos yang hingga kini ada adalah kepercayaan terhadap babi ngepet atau dalam istilah sunda “jegig”. Jegig atau babi ngepet sebenarnya merupakan teori pengalihan opini atau pengalihan fokus. Karena waktu itu kita dijajah belanda atau dikuasai oleh para penguasa irlander,yaitu penguasa yang pro-penjajah alias penguasa kacung.
Tentang berbagai cerita babi ngepet ini  pada awalnya 100 persen merupakn refleksi dari teori pengalihan opini yang dilakukan oleh penguasa tempo dulu, terutama penjajah dan juga kacungnya. Orang dialihkan dengan kepercayaan “jegig / babi ngepet” sehingga dengan mudah dapat menguras seluruh harta dari masyarakat, dan juga mengalami pembenaran.
Kalau sudah menjadi mitos maka mayarakat akan mudah tertipu. Dengan hanya melepas babi satu atau 2 ekor di tengah perkampungan dan membangunkan masyarakat dengan kentongan, maka masyarakat akan berduyun duyun mengejar babi babi tersebut, sedang rumah mereka ditinggalkan. Maka dengan mudahlah para penguasa penjajah dan kacungnya menggasak seluruh harta masyarakat itu.
(lanjut)


Bab IV. Kritik Terhadap Pembodohan Era Modern

1. Kritik Terhadap Iklan Orang Bejo (orang Beruntung)
Jika dalam suatu iklan berkata bahwa orang pintar kalah dengan orang beruntung (bejo), itu mungkin hanya ada di negeri kita yang kurang menjunjung tinggi intelektualitas dan kejujuran, suatu slogan / gerakan mendukung orang-orang malas. Kita yakinkan bahwa intelektualitas merupakan jalan awal dari kemenangan..., makanya kita harus belajar dan belajar terus..... kita jangan takut untuk menjadi orang pintar.

Di masyarakat Jawa yang disebut orang pinter itu bukan orang yang secara akademik cerdas, tetapi orang pinter merupakan gelar yang ditujukan pada dukun atau paranormal atau lebih halusnya katanya  orang-orang yang dieri kelebihan spranatural. Makanya secara mayoritas masyarakat lebih curiga kepada orang-orang yang cerdas. Karena disamping gelar pinter ditujukan pada paranormal atau dukun, juga kata akal telah ditempatkan pada titik terendah sebagai sesuatu yang harus dicurigai. Makanya di jawa dikenal kata "ngakali" yaitu suatu istilah upaya-upaya untuk membuat suatu rencana diluar kebenaran.
(lanjut)

2. Kritik Terhadap Dunia Klenik (Paranormal) yang mengalami Pembenaran
Sekarang ini kita disuguhi tontonan tentang kepercayaan terhadap dunia klenik (paranormal) yang begitu subur diklangan artis. Perseteruan antara yang dirugikan oleh eyang subur dan yang diuntungkan olehnya, seolah telah menohok kepada mata kita sendiri. Telah begitukah kepercayaan para artis kita terhadap perdukunan/ paranormal. Kubu Adi bing slamet adalah korban yang begitu gampangnya diperas oleh guru spiritualnya. Justru ketika mengadu, malah mendapat perlawanan dari murid-murid kesayangannya, yang memang banyak mendapat hadiah percuma, seperti para kru srimulat, dan juga unang yang kemudian menjadi pembela eyang subur yang palling gigih. Jadi pertarungannya sekarang horizontal antara para anak didik eyang subur dari yang dirugikan dan yang merasa diuntungkan. Memang dalam dunia klenik menganut 2 siisi yang berbeda, yang pertama harus ada yang dirugikan, haus ada yang diperas, atau sasarn diperas. Dan yang kedua harus ada yang diuntungkan, yang nantinya akan menjadi pengajak korban-korban berikutnya, yang intinya nantinya mereka akan menjadi marketingnya, pemasarannya. Dengan kebaikan dibei mobil percuma seperti kepada kru srimulat atau unang, maka mereka akan gigih membela orang yang telah memberi kebaikan kepadanya. Yah itulah dunia klenik, kadang yang salah juga dibela habis-habisan karena memang mereka sangat diuntungkan secara material. dan yang menderita, seolah mereka dituduh mengada-ada,..... kasus ini harusnya menyadarkan kita tentangpembodohan dari kepercayaan terhadap dunia klenik yang memang haus sedikit demi sedikit dihilangkan dari kepercayaan kita, karena dunia klenik adalah dunia menipu......

Bab V. Nasehat Terhadap Penguasa
1.  Melihat keunggulan Daerah Sendiri
"Lamun hayang nyaho kaunggulan sareng kagorengan bangsa sorangan (daerah) sorangan kudu ninggalina di daerah lain anu jauh, teras bandingkeun, tah didinya urang bisa nganilai daeah urang nu leuwih jelas (obyektif)," Ceuk aki Jamrong dina hiji diskusi. (kalau dalam bahasa indonesianya: Kalau ingin menilai keunngulan atau kejelekan suatu daerah sendiri melihatnya harus dari daerah lain yang jauh, kemudian membandingkannya. Disana kita akan bisa menilai dengan obyektif). Si aki jamrong melanjutkan lagi diskusinya:" Jadi jelemamah ulah ku'uleun, ulah siga bangkong ka kurung ku batok, meniilai dunia sadaun kelor. Pami ceuk dina agama mah geuning urang teh ditantang keliling dunia, keur neangan "pencerahan". 
Matak si aki mah sok 'iri', sok sirik ka daerah lain teh. Padahal perekonomian na oge teu sabaraha, tapi jalan-jalanana meuni aralus. Padahal di daerah pasundan (jawa barat), ceunah ceuk sensus mah, "berpenduduk terbesar, dan termasuk berpendapatan terbesar di Jawa, bahkan PLN sumber listrik negara, yang merupakan sumber duit, termasuk yang terbesar, penyuplai sumber energi terbesar". Tapi pami urang ngalakukeun "perjalanan darat" di daerah jawa timur lewat jawa tengah, terus ka jawa barat, jalan anu panggorengna ternyata di daerah urang, komo daerah sumedang mah, daerah si aki., lamun ceuk supir aki mah, "euweuh piliheun pisan". kaditu ngagejlok kadieu ngagejlok. 
Itu perjalanan darat, encan perjalanan udara. Naik pesawat lyon, garuda atawa anu sejena, ningali jalur penerbangan ka bandung geuning susah pisan, jeung pesawatna jarang deuih, tambah kadang kudu transit, ah pokokna kurang hebatlah. Padahal jawa barat teh ceunah berpenduduk terbesar, bandung raya wae pendudukna meureun leuwih di 5 jutaan. Padahal balikpapan misalna, penduduknya teu sabaraha, tos gaduh lapangan terbang international. pami ceuk urang pintermah, meureun urang teh berpotensi pisan, tapi potensina di kebiri, atawa meureun para pamimpin urang nu "teu loba kahayang". tah kitu pituah si aki jamrong.

2.  Membangkitkan Kahayang (kemauan)
Masih berbicara tentang kahayang, diskusi dengan si aki jamrong memang sangat mengasyikan. Si aki mencontohkan dengan pertanyaan: Mengapa di daerah jawa barat (di bandung dan sekitarnya) tidak ada bandara international, padahal jawa barat merupakan provinsi terbanyak penduduknya? ini suatu potensi. Yang kedua mengapa di daerah kita tidak ada stadion sepakbola yang megah seperti senayan, padahal para bobotoh termasuk yang paling fanatik di indonesia?, ini suatu potensi. Mengapa dan mengapa, itu merupakan cara untuk mengetahui tingkat 'kahayang' seseorang. Jadi dari pertanyaan tersebut diatas, kita bisa menyimpulkan, bahwa pemimpin2 kita dan mungkin juga kita, termasuk "jeleuma-jeleuma anu teu loba kahayang", kahirupan (kehidupan) hanya dilalui dengan kebiasaan-kebiasaan turun temurun dari generasi-ke generasi, dan tidak pernah bisa membuat generasi berikutnya bisa menepuk dadanya dengan bangganya. karena kita termasuk generasi "nu teu loba kahayang",: Kituh tah ceuk si aki.


3. Membangkitkan 'kahayang' 2
Jika ada bangunan seperti taj mahal ditatar sunda, mungkin kita akan bisa membanggakan warisan budaya yang tinggi. meskipun kita tidak punya, mengapa kita tidak mengangankan kedepan bahwa kita bisa memilikinya. Yang terpenting kita punya kemauan atau cita-cita, kalau kata orang sunda mah 'kudu loba kahayang' , sebab kahayang adalah langkah awal manusia untuk maju. Dan jika kahayang sudah menemukan jalannya, maka kehidupan akan mudah dijalani.
 Memang kita dari dulu telah mematikan kahayang ini. Perjalanan hidup sebagai bangsa terjajah yang terlalu lama telah melumpuhkan banyak kahayang orang sundai. Lihat saja hingga kini bangunan2 yang yang dianggap bersejarahpun merupakan warisan penjajah, seperti gedung sate tempat gubernur mengendalikan pemerintahannya. Atau hingga kinipun belum ada lapangan terbang berskala international, atau lapangan bola juga tidak begitu besar. Itu merupakan contoh 'euweuhkahayangna panguasa sunda', hal ini ditambah juga masyaraktanya tidak terlalu banyak kahayang. Jadilah kita menjadi bangsa yang tidak bisa membanggakan daerahnya sendiri,padahal potensi kita besar dan memang sangat besar. Jadi mengapa kita tidak membuat bangsa ini lebh besar dengan kebanggaan-kebanggaan hasil karyanya anak bangsa.
    Jadi mungkin kita harus memulai menata kahayang. Bangkitkeun kahayang. Mudah-mudahan jika kahayang sudah bangkit, maka kebangkitan dan kemakmuran urang sunda akan di depan mata.


4. Menyederhanakan Logika Berpikir Jika Menjadi Penguasa Pemerintahan
Banyak orang berpikir muluk-muluk jika menjadi penguasa, mensejahterakan masyarakat, membuat daerahnya maju, atau idiom-idiom lainnya yang seolah akan terlaksana begitu mudahnya. Padahal pada realitasnya mereka hanya seperti penguasa-penguasa lainnya yang punya keberuntungan bisa dengan mudah berkuasa, dan tidak melakukan apa-apa, kecuali kebiasaan-kebiasaan yang sebenarnya bisa dilakukan oleh setiap orang jika berkuasa.
Jika seseorang berkuasa pada intinya hanya melakukan tradisi-tradisi yang seolah bahwa dia telah begitu berjasa dalam membangun daerahnya, padahal sesungguhnya masyarakat dibiarkan stagnan, dan keeradaan sang penguasa hanya meneruskan tradisi-tradisi sebelumnya yang sebenarnya sangat membosankan. Mengapa hal ini terjadi? Karena para penguasa terlalu berpikir yang muluk-muluk padahal tidak melakukan apa-apa kecuali upacara-upacara  yang stagnan.
Ada trik dari siabah jika anda berkuasa menjadi penguasa suatu daerah. Menurut siabah banyak orang terlalu muluk-muluk ketika berkuasa padahal realitasnya mereka tidak melakukan apa-apa. Menurut siabah kebanyakan para penguasa sesungguhnya tidak melakukan apa-apa karena dia terlalu rumit dalam berpikir, sehingga harus disederhanakan agar pestasi selama berkuasa nampak jelas, yaitu:

a. Menurut siabah yang petama kali harus dihindari oleh para penguasa adalah berkata “harus”. harus ini, harus itu dan sebaginya. Kata harus adalah milik orang-orang males, sehingga tidak banyak pilihan Menurut siabah ketika sesorang berkuasa mulailah pergunakan kata “bagaimana” atau dalam istilah sundanya “kumaha”. Kita harus berbicara bagaimana bukan harus. Jadi jika kita berpikir suapaya masyarakat itu sejahtera itu bagaimana, bukan harus sejahtera. Jadi bagaimana masyarakat itu sejahtera. Setelah ada pertanyaan bagaimana atau kumaha? Maka menurut siabah menginjak ke point yang kedua yaitu pemetaan masalah.

b. Pemetaan. Seorang penguasa harus pandai memetakan masalah. Contoh jika kita ingin mensejahterakan masyarakat, jangan terlalu muluk-muluk harus berpendidikan tinggi atau yang lainnya. Tetapi harus pada pokok permasalahan sbenarnya yaitu akses-akses menuju kesejahteraan. Jika kita hanya berpikir bahwa dengan sekolah masyarakat akan berubah sehingga akan tercapai kesejahteraan dikemudian hari. Mungkin hal itu benar atau betul, tetapi sekolah perlu puluhan tahun, untuk itu. Jadi sebenarnya yang paling utama menuju kesejateraan masyarakat adalah membuat akses menuju kesejahteraan. Akses itu adalah akses jalan atau akes transformasi dari daerah ke daerah lainnya. Jadi intinya penguasa yang berhasil adalah yang banyak membuat jalan  yang manusiawi, yang tidak banyak bolong-bolong seperti sekarang ini. Jika jalan bagus, akses ke berbagai kampung biasa dengan mudah diakses maka perekonomian akan berjalan dengan sendirinya, Jadi kita tidak usah banyak ngomong kesejahteraabn rakyat padahal jalanya rusak-rusak, itu adalah pembohongan yang nyata,

c. Maping. Setelah kita memetakan masalah sebenarnya, kita harus belajar maping, atau mewanai daerah-daerah yang bermasalah baik secara ekonomi, akses jalan atau mutu pendidikan atau daerah-daerah yang sudah dibangun. Maping sangat bermamfaat supaya tidak terjadi kebijakan yang bertumpuk pada suatu daerah, sedang daerah lain dibiarkan terlunta-lunta.

d. Peta. Jika menonton film tentang Muhammad Al fatih, sang penguasa Turki Utsmani yang menaklukan ibukota Romawi, Konstantinopel, yang terkenal selama ratusan tahun tidak pernah tertaklukan. Alfatih adalah orang yang menguasai medan perang yang akan dilakukannya, sehingga ia dapat menaklukan benteng konstantinopel yang terkenal sangat kokoh, karena ia sangat menguasai medan perang. Di lantai ruang kerjanya sang sultan terdapat peta daerah kekuasaanya dan daerah-daerah yang akan ditaklukannya. Ia sangat menguasai peta, sehingga dimana saja perlu diabangun benteng, dimana ia harus menyerang, kemana kalau terdesak dan sebagainya. Dengan menguasai peta berarti menguasai peta permasalahan tiap daerah. Jadi menurut siabah kalau kita jadi penguasa harus mengikuti apa yang dialkukan oleh penguasa-penguasa besar. Kalau perlu diruang kerja harus ada peta besar daerah kekuasaan kita, dan jika perlu kita harus mewarnai apa-apa yang kurang dan apa-apa yang sudah dikerjakan. Sehingga sangat jelas permasalahan yang sebenarnya. Jika suatu daerah terisolir maka harus dibuat jalan, Jika daerah itu sering banjir maka harus dicari permaslahannya, Jika daerah itu sumber kemacetan maka harus ada penangannan yang lebih atau akses alternatif.

e. Sering Keliling daerah kekuasaannya tanpa  ada protokoler. Untuk semua hal tersebut diatas kita harus sering berkeliling ke daerah kekuasaan kita tanpa pengawalan yang ketat atau protokoler. Karena jika ada protokoler sebenanya telah ada kebohongan dalam setiap kunjungan.


 5. Nasehat Siabah Untuk gubernur Terpilih (Aher  dan Dedi Mizwar)
   Menurut siabah kesalahan manusia yang sulit untuk dihilangkan adalah bahwa mereka merasa telah melakukan banyak hal sesuai dengan prestasinya. Padahal hal demikian telah banyak dilakukan oleh orang-orang sebelumnya, atau justru pencapaiannya mungkin lebh dari yang sekarang ini. Mudah-mudahan kebiasaan seperti ini tidak terjadi pada pasangan gubernur jawa barat sekarang ini, Aher dan Dedi Mizwar. Tetapi sebagai manusia yang selalu diliputi oleh kesalahan, tugasnya 'amar ma'ruf nahi munkar harus selalu didengungkan walaupun terasa pahit. Konon semakin banyak orang yang mengingatkan kepada kita maka sesungguhnya orang itu begitu perhatiaanya terhadapnya sama besarnya dengan pengharapannya agar menjalankan tugas berada dalam rel yang benar.
    Kata Mang Dadang mah Siabah ini kapasitasnya sebagai apa? kok menulis  memakai kata "Nasehat Siabah kepada Aher dan Dedi Mizwar",. Menurut Mang Dadang mereka itu seorang gubernur dan wakil gubernur, sedangkan Siabah itu siapa?. Suatu kritikan yang menurut siabah benar juga. Yang jelas menurut Mang dadang tidak ada hak siabah memberi nasehat kepada gubernur dan wakil gubernur, karena siabah ini rakyat biasa.
  Siabah tidak mau berpolemik tentang kapasitas siabah yang orang biasa menasehati sang gubernur, menurut siabah itu merupakan tanggung jawab manusia dengan manusia yang lainnya, yang harus saling mengingatkan dalam kebenaran, dalam kebaikan (fastabiqul khairat),
   Analisis Siabah terhadap Aher, menurut Siabah ketika Aher pertama kali menang menjadi gubernur dan wakilnya Dede Yusuf, mungkin mereka termasuk orang yang tidak percaya bahwa mereka akan menjadi gubernur, karena lawannya yang begitu hebat-hebat. Ditahun pertamanya merupakan tahun euforia karena ketidakpercayaan dan  penyesuaian dengan sistem birokrasi yang baru. Di tahun kedua mereka baru bisa menerima realitas bahwa mereka benar-benar jadi gubernur. Tahun kedua merupakan tahun penyesuaian dan pembelajaran yang sebenarnya. Tahun ketiga mereka baru bisa menjadi gubernur yang sebenarnya, dan ditahun ini mereka mulai mengetahui orang-orang yang sejalan dengannya. Ditahun ke-4 sebenarnya proses pematangan kekuasaanya, dan mungkin ditahun-tahun ini ide-ide barunya baru muncul. Di tahun ke-4 ini ketika ide-idenya mulai matang, ditahun ke-5 justru harus melakukan terobosan-teobosan untuk memenangkan pilkada berikutmya.
 diakhir tahun kepemimpinannya, biasanya mereka menyanyangkan terhadap diri sendiri bahwa sebenarnya mereka seharusnya banyak melakukan hal-hal yang signifikan. Tetapi karena harus berhadapan dengan akhir kepemimpinnya, maka mereka harus melakukan terobosan terobosan untuk melakukan pemenangan pilkada berikutnya.
    Ketika pilkada berikutnya dimenangkan, harusnya bapak Aher melakukan lompatan besar, dan terobosan baru dengan pencapaian-pencapan yang signifikan. Karena di tahun ke-6 ini proses pematangan dalam berpikir dan dalam melakukan kebijakan sesungguhnya di mulai. Hasil karya sekarang dan ke depan jangan diukur 5 tahun ke belakang, karena  5 tahun ke belakang adalah proses pembelajaran dalam birokrasi yang itu-itu saja(stagnan). Harusnya Aher pada tahun ini melakukan lompatan-lompatan yang besar, melakukan revolusi dalam kebijakan di jawa barat yang mempunyai potensi ekonomi sangat besar. Tetapi sepertinya mengikuti kebijakan pendahulunya, yaitu kebijakan yang mengekor dibelakang kebijakan Jakarta tetap dipertahankan.
   Keberhasilan 5 tahun ke belakang mungkin terlalu banyak melihat pencapaian di dalam wilayahnya, tanpa melihat dari kejauhan. Menurut siabah kadang-kadang kita harus melihat daerah kekuasaan kita dari jauh, atau membandingkan dengan pencapaian-pencapaian di daerah lainnya. Karena akan begitu nampak kekurangan-kekuragannya.  Tetapi karena terbiasa memandang dari dalam, sesuatu yang biasapun seolah begitu wah, padahal didaerah lain hal itu belum apa-apanya.
  Seperti ketika siabah pulang kampung ke kampung halaman di jawa barat. sangat kontras ketika melalui jalan di wilyah jawa barat, padahal itu merupakan jalan provinsi, Kata istri siabah yang orang jawa timur, tidak ada pilihan ketika melewati jalan-jalan yang dialaluinya, maksudnya saking jeleknya, sehingga tidak ada pilihan lagi, mau tidak mau harus melewati jalan itu. Hal itu belum masuk  ke jalan desa-desa. Jika menanggapi komentar-komentar istri siabah tentang jalan yang dilaluinya,  ia memuji kesabaran orang sunda, dan menurutnya jika hal ini terjadi di Jawa Timur  maka orang-orang akan protes atau demo. Jadi mengapa  dikampungnya jalan lebih mendingan dari jalan di kampung suaminya.
   Kesabaran yang dipendam oleh para sopir melalui jalan jelek tersebut, bukan karena ia tidak mau protes. karena menurutnya harus protes ke siapa, karena para penguasa tetap diam dan tetap tidak mau tahu. Mereka mengumpat tiap hari terhadap pemimpin-pemmpin mereka yang tidak pernah memperdulikan kaum lemah. Umpatan-umpatan yang didengar setiap hari oleh pengguna jalan,  mungkin akan menjadi hambatan sang pemimpin dalam menuju surga. Padahal dulu akses jalan ke kampung tersebut  tidak pernah sejelek itu,. Sesungguhnya siapa yang salah, kebijakan yang salah atau pemimpin yang tidak pernah memperhatikan rakyatnya atau pemimpin yang telah puas terhadap kebijakan-kebijakan yang telah dianggapnya sebagai kebijakan yang berhasil. Sebenarnya siabah bukan hanya kasihan terhadap masyarakatnya, tetapi juga kepada para pemimpinnya yang telah membuat hambatan menuju surga. Hal ini mungkin berbeda dari para pejabat, yang tiap hari menggunakan mobil Volvo atau Mrcedes Benz, dan di rumahnya  dipenuhi oleh fasilitas negara  yang taiada terbatas.
  Siabah selalu mengingatkan bahwa sesungguhnya keberhasilan penguasa suatu daerah adalah banyak membuat akses warganya agar lebih mudah, Adalah kebohongan yang besar jika kita berbicara tentang kemakmuran, kesejahteraan dan kemajuan sedang jalan-jalan di wilayahnya, aksesnya begitu memprihatinkan, begitu jeleknya atau bahkan tidak ada akses sama sekali, Atau akses yang awalnya bagus, ketika kita berkuasa ternyata banyak yang rusak, jadi tolak ukur keberhasilannya dimana?
   Konon orang yang banyak membuka akses masyarakat lebih baik, atau lebih banyak maka akan memudahkan kita dalam menuju surga. Surgaa jika dikonfersikan dalam arti di dunia, berarti kesejahteraan masyarakat, karena nikmat yang begitu besar di surga. jadi ketika seseorang banyak membangun akses jalan yang bagus, yang manusiawi sesungguhnya mereka telah membangun  jalan menuju surga kesejahteraan.
   Jadi menurut siabah jika seseorang berkuasa jangan muluk-muluk kita berbicara tentang kemakmuran masyarakat, kesejahteraan masyarakat, sedangkan jalan dimana-mana jelek. Padahal akses jalan sesungguhnya merupakan dasar menuju kemakmuran. karena dengan akses/ jalan bagus maka perekonomian akan jalan sendiri.
    Dan yang perlu dibangun di daerah jawa barat adalah fasilitas transfortasi yang layak, dan secara ekonomi dapat membangkitkan kinerja ekspor. Karena siabah melihat bahwa disamping transfortasi darat banyak yang rusak. Transfortasi udara dan lautpun jauh dari kata yang layak. Padahal potensi ekonomi yang sangat besar, penduduk terbanyak, tempat para tenaga ahli atau juga pekerja yang melanglang ke mana-mana (banyak yang ke luar pulau). Suatu potensi transfortasi udara yang sangat menjanjikan, disamping itu daerah jawa barat merupakan surganya wisata kuliner, wisata alam dan mode.
      Siabah karena sering berada di luar daerahnya, sehingga mereka dengan jelas memandang daerahnya sendiri sebagai surgawi yang penuh potensi. tetapi karena kurang keberanian dalam melakukan kebijakan (atau mungkin kurang punya ide). Konon kekurangan orang jawa barat itu kurang suka pamer, sehingga  mereka kadang kurang bisa keras menepuk dadanya sendiri. Ide-ide yang brilyan kadang dipendam di dalam hati, sehingga ide-ide besar pun seolah tidak banyak bermamfaat.
      Menurut siabah kita harus 'loba kahayang', harus banyak kemauan, sehingga ide-ide itu  akan muncu dengan sendirinya. Dan jangan lekas puas terhadap prestasi yang kita kerjakan. Karena sifat lekas puas sebenarnya justru menutup diri dari keberhasilan-keberhasilan yang sesungguhnya. Karena jika kita lekas puas terhadap pencapaian-pencapaian yang kita kerjakan, berarti kita baru puas terhadap asumsi-asumsi yang dibuat kita sendiri, bukan oleh pendapat banyak pihak.
      Jika melihat potensi yang dimiliki oleh wilayah jawa barat sesungguhnya, harusnya kita banyak melakukan lompatan-lompatan besar, atau membuat alternatif-alternatif  ataupun membuat terobosan-terobosan yang besar. Jawa barat itu adalah potensi yang tiada terbatas, disini terdapat ppusat-pusat intelektual yang bergengsi, alamnya bagaikan surga yang memberikan banyak keindahan yang sangat layak untuk dikunjungi, pusat mode di indonesia, dan surganya kuliner dinegeri ini. Disamping itu pusat-pusat industri juga terdapat di daerah ini.
       Melihat potensi tersebut harusnya  hal ini memberikan ide-ide untuk membuat akses-akses transfortasi untuk mempermudah orang untuk mengunjunginya. Tetapi rupanya hal inilah yang justru tidak digarap sama sekali oleh para penguasa  jawa barat. Suatu potensi yang disia-siakan.  Menurut siabah di jawa barat itu tidak akan rugi jika dibangun bandara atau lapangan pesawat terbang 3 buah juga yang bertaraf international, karena potensi ekonomi yang sangat menjanjikan, potensi penduduk yang sangat melimpah, dan potensi wisata yang sangat mejanjikan. Harusya di Jawa barat itu minimal ada 23 bandara yang dibangun berbarengan,  bisa di Karawang, atau di majalengka, di bandung dan daerah selatan, di Tasikmalaya. Jika bapak gubernur sering jalan-jalan ke luar pulau, sangat banyak para pekerja yang bekerja di berbagai pulau, sbegai tenaga ahli atau sebagai tenaga kerja/ kontraktor, dimana mereka  kadang tiap bulan atau tiap tiga bulan mereka harus pulang pergi dari kampung halamannya ke pulau tersebut.
     Disamping itu, potensi ekspor dari jawa barat harus melalui pelabuhan tanjung priuk di jakarta, sehingga kjawa barat harus puas dengan kebagian 40 persen dari jasa ekspor inpor, sedang 60 persennya harus berbagi dengan pemilik pelabuhan. Suatu kerugian yang sangat besar. Keuntungan yang harusnya bisa untuk membangun daerahnya justru harus rela dbagi dengan perbandingan yang lebih kecil. Suatu kesalahan yang sangat patal. harusnya di jawa barat dibangun pelabuhan bertaraf international seperti di karawang atau di subang.
     Jika PT. angkasa Pura tidak berminat membangun bandara di Jawa barat, maka bisa bekerja sama dengan pengelola dunia. Dan jika Pelindo tidak berminat untuk membangun pelabuhan di jawa barat, hal ini juga harusnya membuka peluang kita untuk bekerjasama dengan pelabuhan dunia, atau bisa dikelola sendiri dengan membangun perusahaan  daerah. Hal itu sagngat tergantung pada kemauan dari gubernurnya. kalau tidak ada kemauan atau teu boga kahayang, harusnya jangan jadi gubernur saja, karena hal ini berarti dia telah menghambat masyarakatnya untuk maju.
   Menurut siabah harusnya gubernur jawa barat itu membuat terobosan-terobosan yang spektakuler, jangan membiarkan hanya menjadi pengikut yang merasa puas dengan pencapaian-pencapaian, padahal tidak melakukan apa-apa.
   Jika melihat bandara ibukota propinsi di bandung misalnya, sangat jauh dari kota-kota  di balikpapan misalnya. Apalagi dibandingkan dengan surabaya, medan, makasar, sungguh sangat memprihatinkan. Menurut siabah kita ini mempunyai penduduk terbesar, potensi wisata yang besar, potensi tenaga ahli yang besar, tapi karena dadanya kurang dibusungkan. Potensi yang besar dibiarkan hilang begitu saja.
   Empat tahun lalu ketika kerja siabah di bontang kalimantan timur, bandara sepingan Balikpapan belum apa-apa. tetapi 2 tahun yang lalu sudah ada perubahan, dan sekarang mungkin balikpapan akan mempunyai bandara yang signifikan, Di Bandung dari dulu cuma itu itu saja. jadi sesungguhnya sangat sulit dimana sesungguhnya keberhasilan ketika  berkuasa,
    Mungkin dulu siabah sering menyampaikan hal demikian ke facebook bapak dede yusuf yang waktu itu menjadi waikil  gubernur, dan  sudah 5 tahun, ternyata ketika siabah ke bandung melalui bandara Husein, sungguh sangat memprihatinkan.  Bandara kota besar mungkin fasilitasnya jauh dari layak untuk ukuran kota besar. Hal ini menunjukan bahwa sesungguhnya para penguasanya kurang mempunyai greget untuk membangun, kurang greget dalam menangkap peluang dan  kurang bisa membusungkan dadanya. ,,,,,,,,,,,,,,
     Jadi suatu kesempatan yang baik bagi bapak Aher untuk melakukan lompatan-lompatan besar, karena di tahun ke-6 ini merupakan tahun kematangan seorang gubernur, karena setelah 5 tahun ke-depan mereka harus lengser dengan sendirinya. Sungguh suatu kegagalan jika kita tidak melakukan apa-apa, tanpa melakukan terobosan-terobosan yang signifikan. Mungkin kita akan cuma dikenang dalam daftar yang hanya lewat dalam daftar gubernur yang tidak mempunyai prestasi yang lebih. Jadi apa yang membedakan diri kita semasa berkuasa dengan gubernur sebelumnya. Jika dibandingkan dan ditelusuri dengan seksama, mungkin prestasi kita belum sberapa. Jadi alangkah indahnya jika bapak Aher sekarang ini memulai melakukan terobosan-terobasan atau lompatan-lompatan besar untuk membangun daerahnya dengan prestasi yang mungkin akan dikenang oleh generasi berikutnya.    ......(lanjut)


6. Jalur Selatan Jawa Barat Mutiara Yang Disi-sia-kan 
   Bali sangat gencar membangun fasiliatas wisata diberbagai pelosok wilayahnya, sehingga sekarang banyak alternatif obyek wisata di Bali yang banyak dikunjungi. Jadi jika ke Bali sekarang wisatawan tidak hanya ke pantai kuta, pantai sanur, besakih, bedugul atau kintamani yang biasa dikunjungi oleh wisatawan paketan. padahal sebenarnya banyak sekali obyek wisata lainnya di Bali yang sangat bagus untuk dikunjungi.
  Jika melihat tentang  Bali di televisi, sangat sempurna untuk tujuan wisata. Dan masyarakat Bali seolah telah menangkap peluang dengan bagus, dengan memaksimalkan segala potensi, baik alam maupun kekayaan budaya.
  Di Jawa, mungkin Jogjakarta yang men-serius-kan diri dalam obyek wisata ini. Wilayah Yogyakarta sangat kaya akan warisan kebudayaan tempo dulu berupa bangunan candi yang spektakuler seperti candi borobudur atau candi roro jongrang, dan candi lainnya. Disni juga ada keraton yang masih lestari. Tetapi kelemahan dari Jogjakarta adalah tidak punya pantai putih yang indah seperti Bali.
   Di daerah pulau jawa yang mempunyai keindahan pantai seperti bali adalah di pantai selatan Jawa Barat. Seperti Pangandaran, dan lainnya hingga ke Pelabuhan Ratu di Sukabumi. Jadi jika melihat peluang sebenarnya jalur pantai selatan Jawa Barat adalah gugusan mutiara yang disia-siakan.
 Waktu pilkada jawa barat, calon gubernur yang mengkampanyekan tentang pembangunan wilayah selatan adalah bapak Dikdik dari independen. Pa Dikdik adalah putra jawa barat yang banyak melanglangbuana ke luar jawa barat karena tugas mengharuskan pindah-pindah ke daerah lain. Mungkin dia banyak melihat, banyak menyaksikan, banyak membandingkan bahwa sesungguhnya wilayah selatan jawa barat mempunyai potensi yang sangat besar Dengan membuka akses ke selatan berarti membuka potensi. Tetapi Dikdik mungkin orang yang belum berhasil, dan ide-idenya harus kandas, seiring dengan tergerusnya dia dari calon gubernur, karena suaranya yang minim di tempat buncit.
   Dalam pilkada gubernur  tersebut dimenangkan oleh Ahmad Heryawan dan Dedy Mizwar. Jika Ahmad Heryawan atau Aher mengetahui peluang, harusnya semacam bapak Dikdik itu dirangkul misal menjadi asisten khusus untuk pembangunan wilayah selatan. Tidak akan rugi jika Aher menggandeng dia untuk pembangunan wilayah selatan Jawa Barat, yang hingga kini seolah disia-siakan.

    Kembali lagi ke potensi wialayah selatan yang menurut siabah bagai mutiara yang disia-siakan. Harusnya mulai digarap dengan serius. Yang pertama yang harus dibangun adalah akses melingkar dari pelabuhan ratu ke pameumpeuk garut, tasikmalaya kemudian ke pangandaran di ciamis / banjar. Kemudian membangun akses-akses dari utara langsung ke selatan, misal dari bandung ke Jampang dan lain-lain. Kemudian membangun bandara international di wilayah selatan, misal di tasikmalaya. Kalau perlu Bandara Atang Sonjaya diperbesar dan dipermodern, sehingga nantinya bisa menjadi akses ke daerah-ddaerah wisata diselatan jawa barat, pangandaran, garut dan lain-lain. ............. (lanjut)



VII. Peradaban Sunda Ke Depan
1. Mengenalkan Kembali Pemikiran Sunda Klasik Suatu Perbincangan dengan Siabah
 Menarik sekali berbincang-bincang dengan Siabah tentang sejarah pemikiran sunda yang kata Siabah memang sudah dilupakan oleh para intelektuanya atau memang sengaja dilupakan. Berbicara tentang kesjarahan dalam hubungannya dengan naskah-naskah sunda klasik, menurut siabah meskipun sudah mulai bermunculan yang mulai meng"eksis"kan pada kajian kesundaan, seperti kelompok "Salakanagara", tapi menurut siabah masih terlalu sedikit daripada penduduk tataran sunda yang lebih dari 45 juta jiwa.
 Menurut siabah:" Sekarang  ini banyak orang sunda yang tidak mengenal naskah naskah peninggalan kaum intelektual nenek moyangnya.  Yang lebih mengkhawatirkan lagi justru hal ini juga melanda kalangan intelektual masyarakat sunda itu sendiri. Mereka lebih peduli dengan sejarah sejarah  yang berasal dari daerah lain daripada daerahnya sendiri. Nasionalisme yang dikembangkan oleh bangsa ini telah menggerus sendi sendi budaya bangsanya sendiri. Mereka mendidik anak bangsa yang tidak pernah mengenal hasil budayanya sendiri. Mereka telah mendidik manusia-manusia mengambang yang tidak mempunyai pijakan yang sangat kokoh."
Siabah membandingkan dengan bangsa jepang yang termasuk bangsa yang maju/ Siabah berkata:"Berbeda dengan Jepang, meskipun mereka telah menjadi negara maju, tetapi  komunikasi eengan sejarah masa lampaunya tidak pernah dilupakan, Makanya cerita-cerita masa lampaunya telah banyak menginspirasi kemajuan jepang itu sendiri juga termasuk yang berkaitan dengan kisah-kisah lama yang termodernkan. Karena itu jepang meerupakan negara yang sangat modern yang tidak terputus dengan peradaban masa lampaunya."
Siabah mengkritik ketidakpedulian kaum intelektual sunda terhadap sejarahnya sendiri yang justru mendapat dukungan dari penguanya yang dinilai siabah tidak terlalu cerdas. Menurut siabah:"Masyarakatnya yang kurang peduli,  mendapat tempat pada penguasanya yang  kurang cerdas, sehingga potensi masa lampau yang dapat memperkaya kekinian justru  terputus, atau dengan kata lain, bahwa masayarakat sunda  kini telah terputus dengan peradaban masa lampaunya, sehingga dalam menjalani kehidupannya mereka telah kehilangaan orientasi (disorientation) terhadap peradabannya itu sendiri. Menjadi manusia sempurna dalam arti yang tidak melakukan apa apa telah melanda masyarakat sunda.  Padahal dalam sejarahnya, manusia sunda adalah maanusia proses yang menuju kepada perbaaikan ke perbaikan selanjutnya (rancage). Dan dapat dilihat dari kisah carita parahiyangan bagaimana para leluhur kita membuat suatu kerajaan, mereka meninggalkan pertapaan karena kritik dari seekor burung, yang mengatakan bahwa “sang pendiri? Yang awalnya seorang pertapa telah dikritik habis-habisan, bahwa dia hanya orang yang tidak berguna yang pekerjaannya hanya duduk saja dan tidak bisa melakukan apa-apa."
Siabah juga mengatakan bahwa pentingnya menjaga situs-situs kebudayaan klasik sebagai tanggung jawab terhadap generasi berikutnya. Siabah berkata:"Menjaga hasil karya peraadaban klasik harusnya  merupakan suatu kebanggan dari anak bangsa sekarang ini. Meskipun dari kebudayaan yang berbeda, dari agama yang berbeda. Karena hasil peadaban masa lampau akan menginspirasi anaak bangsanya dikemudian hari. Karena itu menjaga situs-situs kebudayaan kuno bukan berarti menjaga tahayulisme seperti yang dikembangkan kaum dukun, tetapi lebih upaya daripada pencarian jatidiri kita sebagai manusia sunda, untuk membangun peradabannya ke depan."

Pembodohan dari kaum sejarawan nasional
Siabah tidak hanya menyoroti tentang ketidakpedulian masyarakatnya tehadap kebudayaan sunda itu sendiri, tetapi memang ada pembodohan yang dikembangkan oleh kaum sejarawan penguasa. Si abah berkata:"Jauhnya masyarakat sunda dari kebudayaannya bukan hanya dikarenakan ketidakpedulian dari masyarakatnya, tetapi lebih disebabkan oleh para sejarawan nasional yang dikuti oleh kaum sejarawan sunda yang kurang kritis terhadap berbagai permasahan kesundaan. Para sejarawan nasional telah bersikukuh menjadikan kitab negarakertagama sebagai sumber sejarah rujukan untuk membuat peran-peran majapahit agar lebih menonjol. Para sejarawan sunda yang berpendidikan formal kebanyakan kurang percaya diri menjadikan carita parahiyangan sebagai sumber berita tentang keberadaan kerajaan sunda."
Siabah berkata:"Sejarawan nasional telah membuat sejarah majaoahit seolah menjadi cikal bakal negara indonesia. Padahal indonesia merupana warisan dari ex. Jajahan belanda. Jadi secara de fakto sejarah indonesi bermula dari penjajahan belanda. Karena 100 persen negara indonesia merupakan ex, jajahan belanda., yang tidak ada hubungannya dengan kerajaan majapahit yang sudah hancur pada abad 15 M. Jadi tidak ada hubungannya antara majapahit dengan indonesia sekarang ini."
Siabah iri dengan negara-negara maju, seperti di inggris yang banyak membuat fil-filmya yang diangkat dari cerita-cerita klasiknya. Siabah berkata:"Negara negara barat sepeti dalam cerita-cerita di negeri inggris banyak dipengaruhi oleh cerita-cerita trdisionalnya, meskipun kadang tidak masuk akal. Tapi bagi mereka bukan masuk akal atau tidaknya, hal tersebut tidak terlalu penting. Yang penting darinya adalah cerita-cerita tersebut dianggap sebagai awal dari penyelidikan untuk pengkajian sejarahnya. Jadi perbedaan kaum intelek di negeri elisabet dengan sejarawan kita adalah, jika mereka mencari sumber dari sumber sedikit kemudian dilakukan penyelidikan-penyelidikan. Kalau dinegeri ini informasi yang banyakpun seolah dibiarkan terlunta, karena keengganan untuk berpikir dan sikap pengekornya begitu kuat, apalagi informasi sedikit, oleh para sejarawan kita dianggap sebagai dongeng yang tiada berguna. Makanya jangan heran situs-situs di tanah sunda seolah di telan bumi. Keberadaannya juga selalu ditutup-tutupi oleh kaum intelektualnya itu sendiri."

Tanggung Jawab Generasi Sekarang
Siabah menekankan tentang tanggungjawab dari gebnerasi sekarang ini, untuk mengumpulkan cerita, cerita atau dongeng-dongeng, atau sejarah yang berkaitan dengan pembentukan sutu daerah atau kerajaan, yang kemudian dipublikasikan. Menurut siabah:"Sebeleum mencapai ke tingkat penyelidikan kesejarahan tanah sunda, generasi sekarang mungkin  harus membuka wacana seluas-luasnya, dengan mengumpulkan sumber yang banyak dari berbagai pelosok tataran sunda. Kumpulkan dan publikasikan, mungkin sekarang ini yang harus kita lakukan, hingga munculnya kaum intelaktual /sejarawan  sunda yang kritis yang tidak terikat oleh kaum sejarawan para penguasa, yang cenderung menghilangkan potensi-potensi kesejarahan sunda itu sendiri."
Menuerutnya juga:" Cerita-cerita, dongeng-dongeng dari tanah sunda dari siapapun mulai sekarang harus mulai dikumpulkan dan dipublikasikan. Hal ini untuk mendorong sistem crosscek sejarah dari sumber-sumber yang mungkin memiliki cerita sama tetapi dari analisa yang berbeda, sehingga menimbulkan cerita atau sejarah berbeda."
Siabah juga mengkritik para pembuat sejarah kekuasaan, sejarah hanya untuk legitimasi kekuasaan yang ada. Menurut siabah:"Jangan percaya kepada kaum sejarawan sekarang ini, karena sejarawan indonesia, termasuk dari sunda adalah pendukung atau penganut sejarah kekuasaan. Jadi bagi mereka sejarah yang mendukung dan menguntungkan kekuasaan yang sedang berkuasa itulah yang mereka dukung dan kembangkan. Padahal sejarah itu sendiri adalah independen. Tetapi semua buku wajib kita miliki dan baca untuk memperkaya intelektual kita itu sendiri, Tetapi menyangkut kesimpulan sejarah, kita mungkin harus mengembangkan sejarah yang kritis. Dan yang terpenting dari kita sekarang ini adalah kita harus berprinsip, sekecil apapun informasi, sedikit apapun berita, harus dijadikan awal dari penyelidikan kita terhadap sejarah."
(Sundasiabah.blogspot.com, sabtu 20 April 2013)

2. Mengkonsep masa depan peradaban sunda

Harus bagaimana membangun masyarakat sunda ke depan. Mungkin itu yang selalu dibayangkan, apakah mengkonsep seadanya seperti sekarang ini atau kita harus mencontoh konsep peradaban bangsa-bangsa terdepan dalam sejarah manusia. Jika kita hanya mengikuti apa kata zaman mungkin bangsa kita akan hilang ditelan zaman itu sendiri.
Mungkin banyak orang yang merasa nyaman dengan kondisi seperti sekarang ini, karena berbagai fasilitas yang didapat dengan mudah meskipun telah menganiaya bangsanya sendiri. Mungkin juga ada orang acuh tak acuh terhadap permasalahan bangsanya dan mengikuti buih-buih ombak yang secara real tidak mempunyai kekuatan dan pengaruh apa-apa. Atau ada yang tidak peduli sama sekali terhadap isue-isue kemakmuran bangsanya sendiri, seolah mereka telah mati perasaan dan prustasi atau bahkan skeptis terhadap berbagai perubahan.
Dan mungkin juga banyak yang mengeadilisasikan yang lebih baik, tetapi tidak pernah tahu cara dan metode terbaik untuk mengkonsep masa depannya. Karena itu sumber bacaan sangat diperlukan agar tujuan memenuhi sasarannya. Dengan banyak sumber bacaan mungkn kita akan dengan mudah menyelesaikan berbagai masalah.
Karena itu langkah pertama jika mau mebangun suatu konsep masa depan yang terarah adalah dengan membangun pusat-pusat sumber bacaan. Dengan demikian hal yang pertama untuk mencapai tujuan yang mulia tersebut adalah dengan membangun perpustakaan-perpustakaan peradaban sunda dan peradaban Islam di tataran sunda,.....mudah-mudahan hal ini menjadi gerakan.....jika sudah bergerak berarti pasti ada perubahan,.......dan jika sudah ada perubahan berarti ada peluang,...dan peluang itu kita ciptakan nantinya akan menjadi suatu gerakan sosial,...dan peluang kemakmuran mungkin akan lebih dekat di depan mata......


3. Kaum Idealis Sunda ke Depan
Jika siabah menerawang tentang masyarakat sunda masa depan, disana mungkin  banyak sekali kaum idealis yang ingin membangun daerahya berdasar kosep masa depan. Mereka adalah kaum-kaum idealis yang praktis, bukan idealis yang kaku/  rigid, yang banyak doktrin harus itu dan harus ini. Mereka menyadari,realitas tetang kebudayaanya,yang secara politik maupun budaya yang sengaja dipinggirkan, baik oleh penguasa nasional maupun daerahnya sendiri. Yang mereka pikirkan ke depan adalah  bagaimana agar masyarakat sunda itu sejahtera dan makmur. Karena itu hal yang paling utama untuk tujuan demikian adalah dengan membangkitkan kembali semangat intelektual masyarakat sunda yang hilang.

4. Pentingnya Perpustakaan dalam Mengkonsep Peradaban Sunda ke Depan
Jika di tatar sunda di tiap daerah dan desa terdapat perpustakaan2 tentang peradaban sunda dan peradaban islam, bukan hal yang mustahil disini akan lahir para pemikir2 yang hebat dalam berbagai bidang. Seolah masyarakat sunda masih belum punya arah yang jelas tentang konsep masa depannya, seolah masih dalam kebingungan,........
Karena itu sumber bacaan sangat penting sebagai sumber inspirasi dalam menjalani hidup. Dengan banyak buku akan dengan mudah menyelesaikan berbagai persoalan. Karena disanalah justru banyak solusi, disanalah banyak inspirasi ...dan disanalah banyak panduan untuk melangkah ke depan dengan lebih pasti.....bukan hanya kata orang ini kata orang itu, karena buku menjanjikan kedalaman......yang belum bisa disamai oleh media lainpun.......

5. Membangun 'ciri' ( karakter) baru masyarakat sunda
Ciri apa yang harus dikembangkan oleh masyarakat sunda agar eksistensinya mempunyai nilai lebih dalam wacana kenegaraan di indonesia. Kalau kita menyadari sesungguhnya masyarakat sunda akan menjadi kuda hitam yang sangat menentukan ditinjau dari segi kuantitas, sebagai masyarakat terbanyak kedua setelah jawa. tetapi keberadaannya masih dipandang sebelah mata.Bahkan tidak telalu dominan. 
Tidak hanya itu dari segi pendidikan dan kualitas hidup juga tidak terlalu buruk, bahkan mungkin masih tinggi daripada masyarakat di pulau jawa lainnya. Pusat-pusat pendidikan terbaikpun masih ada di tatar sunda. Bahkan masyarakat sunda yang merantaupun berada pada kalangan masyarakat terdidik. Jadi sbenarnya merupakan potensi tersembunyi yang tidak disadari oleh masyarakat sunda sendiri.Bahkan dalam tataran budaya dan sejarah juga kita masih termasuk bangsa yang besar dan stabil
 Masyarakat yang kalem, cool, tidak reaktif,sopan,  mungkin salah satu ciri yang mashi kental yang melekat pada mayarakat sunda. Tetapi hal demikian juga bukan  jaminan menjadi bangsa yang diperhitugkan dalam suatu masyarakat yang beringas seperti yang terjadi di negeri ini.bahkan mungkin  lambat laun  akan terpinggirkan dengan sendirinya.
Jadimmungkin saatnya sekarang ini kita mendiskusikan karakter-karakter baru, sehingga peran-peran masyarakat sunda mungkin akan lebih dominan dimasa yang akan datang

Bab VIII. Pandangannya Tentang Peradaban ke Depan 
1. Bangkitnya Bangsa Yang Pernah Terjajah 
Suatu bangsa yang pernah terjajah akan mengalami kemajuan sebanding dengan lamanya ia terjajah. Mungkin itu kesimpulan dari ilmuwan besar muslim, Ibn Khaldun, ketika menganalisa tentang Bani Israil, yang menjadi budak selama 450 tahun, dan mulai bangkit di era Thalut, Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman, 450 tahun setelah pembebasan Bani Israil oleh Nabi Musa.
Ilmuwan besar muslim melayu / indonesia yang sangat konsent terhadap teori Ibn Khaldun ini adalah Buya Hamka, seorang ulama besar dan ketua MUI pertama Indonesia. Dalam karya tafsirnya yang terkenal " Al Azhar", Buya Hamka menganalisis secara terperinci tentang upaya-upaya awal kebangkitan yang tidak banyak dukungan dari kaum mayoritas, hingga hidup bangsa bani israil terkatung-katung selama 450 tahun hingga datangnya Thalut dan Dawud, orang yang benar-benar baru, dari kaum biasa yang memiliki "basthattan fi jasad wail ilmi" yang memiliki kekuatan fisik dan ilmu.
Bani Israil adalah sebutan dari keturunan nabi Yakub as. Nabi yakub sendiri sering disebut dengan nama Israil, yang berarti orang yang berjalan dimalam hari, karena mau dibunuh oleh kakaknya, sehingga ia harus berjalan diwaktu malam hari dan bersembuni di siang hari. Bani Israil mengungsi ke tanah Mesir di era Nabi Yusuf menjadi bendahara kerajaan di Mesir. Nabi Yusuf adalah putra bungsu dari Nabi Yakub, yang oleh saudara-saudaranya dsingkirkan.
Seiring dengan waktu, populasi Bani Israil di mesir dengan pesaat berkembang, sehingga dianggap sebagai ancaman bagi bangsa Mesir, yang akhirnya bangsa Israil dijadikan menjadi budak. Hal ini berlangsung 450 tahun hingga datangnya Nabi Musa sebagai penyelamat dan pembawa kemerdekaan Bani Israil.
Bani Israil terkatung katung selama 450 tahun, karena menolak pembaharuan dalam pemikiran hingga datangnya suatu generasi yang orsinil, yaitu di era Thalut dan Dawud. Thalut adalah tokoh dari kalangan biasa yang memiliki basthathan fi lasad wal ilmi', yang akhirnya bisa mengalahkan jalut (goliat)
Belajar dari sejarah Bani Israil, dengan bangsa indonesia ada kemiripan yang sangat jelas. Bangsa yang terjajah selama ratusan tahun (konon 350 tahun). Jadi jika menganalisa teori Ibn Khaldun maka bangsa ini akan bangkit 350 tahun setelah merdeka. Mengingat bangsa ini adalah bangsa yang statis, maka bukan hal yang tidak mungkin bahwa teori ini benar adanya. (350 tahun baru bangkit).
Ada satu cara untuk membangkitkan semangat kebangkitan ini, yaitu dengan cara revolusioner yang dicontohkan nabi Muhammad SAW.  Nabi Muhammad hanya perlu 13 tahun untuk membangun peradaban yang sangat modern.........Tapi mengingat bangsa ini merupakaan bangsa statis, hal itu mungkin akan mengalami hal yang sama dengan bani israil.
Banyak contoh dari hal tersebut diatas, misalnya, konon bagi kaum tradisi bahwa penerimaan sekolah yang menggunakan model seperti ssekarang  itu hampir 80 tahun. Ketika Ahmad dahlan mendirikan sekolah agama yang mengajarkan ilmu pengetahuan umum, ia dikritik habis-habisan oleh para ulama tradsi, ketika ada wacana arah kiblat salah yang dikumandangkan oleh Ahmad dahlan, juga dikecam habis-habisan, sekolah pakai bangku juga dikecam habis-habisan. Jadi konon para ulama tradisi baru menadari kekeliruannya setelah hampir 75 tahun, ketika organisasinya kekurangan para  intelektual. Dan tentang arah kiblat yang salah, ulama tradisi dan kaum awam perlu hampir 100 tahun untuk menadari kekeliruannya. dan mungkin budaya tahlilan akan disadari kekeliruannya 50 tahun yang akan datang, dan sebagainya.
Masyarakat Sunda harusnya belajar dari sejarah, apakah kita akan membiarkan pandangan-pandangan yang salah menutupi diri, menutupi keagungaan agama beratus-ratus tahun. Apakah kebodohan , ketidaktahuan kita terhadap agaama  akan tetap selamanya menutupi keagungan agama kita. Apakah kita akan membiarkan suatu ungkapan 'kehebatan (keagungan) Islam tertutup oleh kebodohan umatnya'.
Kita memang harus mengembangkan berbagai pertanyaan untuk diri kita, pertanyaan terhadap kebiasaan-kebiasaan kita, pertanyaan terhadap tradisi-tradis kita, pertanyaan terhadap pengetahuan kita, pertanyaan pada komitmen kita, pertanyaan pada idealisme kita. Mungkin kita harus mengungkap pertanyyaan-pertanyaan tersebut. Dan jika pertanyaan ini disistematisasikan dan dijawab dengan kejujuran hati, dan pengetahuan yyang luas maka kita akan mendapat suatu masyarakat yang berperadaban, dan masa depan yang cemerlang akan di depan mata.
Jika tidak bisa disebarkan pada masyarakat luas minimal untuk diri kita, atau keluarga kita, atau minimal kita buat sejarah buat kita sendiri, siapa tahun akan menginspirasikan generasi muda masa depan yang idealis.


2. Kesinambungan Sejarah
2 April 2011 pukul 22:55
Kesinambungan sejarah, suatu tema yang banyak dibicarakan oleh para pemikir futuristik. Mengapa begitu penting tema ini, dikarenakan ada korelasi hubungan antara bangsa bangsa besar didunia dengan tema tersebut. dan hanya bangsa yang " mempertahankan kesinambungan sejarah ini" akan menjadi bangsa besar dikemudian hari, atau minimal dapat menjadi bangsa moderrn dizamannya. salah satu ciri bangsa besar adalah tidak pernah mengganti-ganti huruf atau tulisan. Karena dengan tidak merubah huruf atau tulisan berarti akan ada komunikasi antara masyarakat sekarang dengan hasil intelktual dimasa lampaunya. Indonesia adalah bangsa yang selalu berganti-ganti huruf, sehingga kurang mempunyai ciri dari bangsa besar ini. Di Asia Jepang adalah salah satu contoh bangsa yang tidak pernah mengubah huruf atau tulisan, berbeda dengan Turki, suatu bangsa besar dimasa lampau, tetapi karena hurufnya diganti sangat susah untuk menjadi bangsa yang modern. Dan mungkin dimasa depan mungkin Cina adalah bangsa yang menjanjikan menguasai tekhnologi, karena mereka tidak pernah mengganti huruf atau tulisan.dengan demikian masyarakat Cina hingga kinipun bisa menikmati karya-karya intelektual dari berbagai zaman, dan terbukti Cina sekarang ini mulai menguasai pangsa pasar tekhnologi.


3. Perlunya Umat Islam mengkonsep masa depannya dengan konsep peradaban
   Membaca tulisan rekan saya di republika online tentang begitu maraknya perayaan tahun baru masehi di tengah penduduk yang mayoritas muslim, ynag merupakan suatu ironi. Dia menyimpulkan bahwa umat islam masih berada diluar pagar peradaban. Dia menawarkan tentang perlunya umat islam mengkonsep dirinya berdasar konsep peradaban, yaitu suatu konsep yang mengedepankan intelektualitas dan ilmu. Dan dia mengajak agar masyarakat muslim memulai mentransformasikan dirinya dari dari budaya lisan kepada budaya tulisan, yang intinya mulai sekarang harus senang membaca dan membaca.

4. Tahapan Tahapan Membangun Peradaban
"Perubahan" (bahasa arabnya "Taghyir")  adalah kata yang harus tetap kita pegang dalam hidup di dunia ini. Islam mengajarkan kepada kita bahwa hari ini harus lebih baik daripada kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari sekarang. Suatu perkataan dinamis (bergerak) menuju ke arah yang lebih baik, yang berarti pula adalah bahwa kita itu harus berubah tiap hari (dinamis).
Dunia ini memang sangat dinamis, dan memang manusia harus menyadari  bahwa perubahan itu memang perlu, karena kita memang hidup di dunia yang bergerak. Tetapi bangsa kita termasuk bangsa yang statis, yang mempunyai respond terhadap perubahan sangatlah rendah. Coba kita bayangkan betapa nenek moyang kita adalah  nenek moyang yang statis, yang menikmati penjajahan selama ratusan tahun. Menikmati penderitaan begitu nyenyaknya. Tanpa usaha dan upaya untuk melepaskannya. Kaum mayoritas menikmati penderitaan dan penderitaan  selama beberapa keturunan. Dan jika ada orang yang mengingatkan, ada orang yang mencoba membangkitkan potensi-potensi diri selalu dicibir, didukung adalah hal yang mustahil, padahal dijangka panjang sangat menjanjikan. Mereka selalu berdalih tidak sesuai dengan budaya bangsa, budaya bangsa budak yang dijajah ratusan tahun, yaitu jumud, taklid, tidak berilmu, pasrah terhadap keadaan, menunggu takdir yang lewat siapa tahu lagi hooki.
Konon bangsa ini menyadari bahwa arah kiblat itu keliru sudah hampir seratus tahun disadari, padahal 100 tahun yang lalu sudah ada orang yang mengingatkannya. Suatu perjalanan yang sia-sia selama seratus tahun, dan anehnya ini didukung oleh mayoritas umat. Kebodohan dipegang dengan erat selama  ratusan tahun.
Mengikuti generasi lama adalah kesia-siaan dalam hidup, mengubah bahwa pandangan yang salahpun perlu energi yang sangat banyak, karena kita akan melawan mayoritas umat dan juga mayoritas ulama tradisi., yang sangat menikmati perannya sebagai tokoh pembodohan, yang tidak disadarinya. Generasi lama harus kita biarkan saja menikmati pembodohannya, tetapi bagaimana generasi mendatang bisa terlepas dari pembodohan yang akut tersebut.
Perubahan, perbaikan, pembangunan suatu kata-kata dinamis yang harus kita dengung-dengungkan, karena kata-kata tersebut seolah membawa semangat kepada diri kita dalam upayanya mencapai kehidupan yang lebih baik.
Untuk mencapai perubahan-perubahan tersebut, setidaknya kita harus ada perbandingan. Suatu bentuk perbandingan peran-peran dalam kehidupan. Berarti kita harus ada suatu media yang dapat menampung perbandingan-prrbandingan tersebut. Buku adalah tempat dimana perbandingan-perbandingan itu ditulis.

5. Empat Langkah Mengkonsep Peradaban ke Depan
Setidaknya menurut siabah ada 4 konsep menuju keberhasilan dalam menguasai peraadabaan ke depan. Disni ada korelasi antara peradaban sunda dengan peradaban islam. Karena oang sunda adalah orang orang islam. dan seratus persen orang sunda adalah oraang islam,

a. Membuat Sungai Sungai Kecil Peradaban
Menyangkut tentang peradaban Islam di Indonesia, katanya  mengutip pendapat dari Nurcholis Majid, katanya baru tahap embrio. Meskipun Islam telah masuk ratusan tahun di negeri ini, tapi baru menyangkut tingkat dasar manusia. Baru memikirkan kebutuhan diri, belum melangkah ke tingkatan yang lebih tinggi lagi, yaitu idealism membangun peradaban Islam di negeri ini. Jika dibandingkan dengan negeri tetangga, Malayasia, mungkin kita masih tertinggal. Meskipun paling maju di bandingkan Negara asia tenggara lainnya, termasuk Indonesia. Negara ini masih mempertahankan idealismenya, jati dirinya yaitu Islam.
  Tapi siabah tidak pernah mau menyalahkan siapa siapa katanya, karena hal itu diakibatkan oleh ketidaktahuan kita atau wacana yang sangat kurang, disamping kurang percaya diri dari kita sendiri.
    Membicarakan tentang peradaban, hal ini sangat menarik. “ Jika di andaikan sungai” kata siabah sambil diam sejenak. Dan ia meneruskan lagi:” Jika peradaban itu diandaikan sbagai sebuah sungai. Maka sungai itu akan besar jika banyak cabang skecil ungai-sungai kecil di hulunya. Semakin banyak sungai kecil, maka sungai itu akan menjadi sangat besar. Seperti sungai amazone atau sungai nil, sangat tergantung cabang-cabang sungai kecil di hulunya”. Demikian juga peradaban maka peradaban Islam di indoonesia akan menjadi besar, jika banyak cabang sungai kecil dihulunya. Semakin banyak cabaang kecil dihulu maka akan semakin besar hasil suatu peradaban.
 Peradaban itu menurut siabah adalah menyangkut dominasi. Dominasi itu menyangkut idelisme dan tindakan atau hasil karya. “Nah kita ini selama ini baru pada tahap kebutuhan perut, dan jika menyangkut agamapun baru tingkat paling dasar, dan cenderung itu-itu saja, dan diulang-ulang, karena kita dari dulu hingga kini hanya mengembangkan budaya lisan, belum pada tahap hasil karya berupa tulisan. Karena kalau berupa tulisan maka kita akan melihat tingkatan pemikiran.”
  “oh iya” kata si abah diam sjenak. Dan ia berkata lagi “Jika belajar pada peradaban Islam tempo dulu yang sangat kaya, maka kita akan melihat begitu dominannya pemikiran dalam bentuk karya tulisan”. Semakin banyak karya tulis yang dibuat maka ulama itu akan sangat terkenal dan dihormati. Nah hal ini berbeda dengan bangsa kita. Ulama yang terkenal adalah ulama yang tampil di TV dengan ceramah yang itu-itu saja, dan diulang-ulang.” Dan hal ini jika menjadi tren dari masa ke masa, maka selmanya bangsa ini akan terjerembab ke kedaan selalu berangkat dari nol dan dari nol.tidak pernah beranjak ke tingkat yang lebih tinggi lagi, karena semua ucapan tidak tercatat sehingga tidak pernah tahu sampai tingkatan apa kita menaiki tangga peradaban.
  Menurut siabah, jika tingkatan peradaban itu diibaratkan naik tangga, maka kita harus mengetahui sampai mana tingkatan itu kita taiki. Kalau hanya bahasa lisan, kita sulit untuk menentukan sampai tangga dimana kita naik. Atau mungkin hanya tetap disana saja, belum pernah naik naik.
  Dan menurut siabah juga seperti halnya peradaban barat, peradaban islam klasik (peradban islam tempo dulu) mengalami peningkatan ketika ada transformasi dari bahasa lisan ke bahasa tulisan. Hal ini dimulai oleh Nabi Muhammad SAW. Dan wahyu pertama juga memperjelas tentang itu.  Ayat pertama dari Surat pertaama yang menyuruh membaca (iqro) menandai hal itu.  Jadi bukan menyuruh mendengar. Karena prosses mendengar cenderung statis, sedang membaca selalu ada proses yang berkelanjutan. Membaca itu khan harus ada yang dibaca, berarti juga harus ada buku. Dan proses itu berlanjut, berarti harus ada yang menulis buku. Nah hal ini juga berarti harus ada yang membuat atau mencetak buku. Untuk membuat buku harus ada kertas, harus ada mesin cetak, harus ada tinta dan seterusnya, hingga harus ada perpustakaan dan penjual buku. Jadi proses membaca disamping prosesnya sangat panjang. Hal ini juga berarti lapangan kerja yang begitu banyak dibelakangnya.
  Jadi proses membaca disamping akan membuat revolusi pemikiraan yang dasyat, juga akan mengembangkan potensi ekonomi yang luar biasa. Yang kadang diluar dugaan. Tapi jika selamanya hanya mengandalkan budaya lisan, maka disamping keilmuan yang cenderung tidak bertambah, karena yang dibahas selalu diulang-ulang, juga cenderung membodohi. Karena bahasa lisan cenderung lebih mengarah bagaimana menyenangkan pendengar, bukan mengungkap kebenaran yang sebenarnya, yang justru kadang menyakitkan.
  Siabah memperjelas lagi, bahwa bahasa tulisan, disamping potensi ekonomi pemikiran dan ekonomi yang luar biasa, juga bahasa tulisan lebih mencerahkan. Karena dalam bahasa tulisan terdapat pendalaman suatu masalah atau suatu ide. Dan tingkatan daari suatu pemikiran cenderung bisa diukur, apakan tulisan itu sederhana, atau hanya menulis saja, atau justru tingkatan yang tinggi.
  Jadi jika peradaban Islam di negeri ini akan maju, berarti pula haarus merubah pandangan yang revolusioner. Jangan terlalu percaya pada ungkapan kata-kata, tapi mulailah dengan banyak membaca. Bahasa lisan hanya bisa dijadikan awal dari pembahasan yang lebih mendalam, bukan dijadikan sebagai bahasa da’wah yang cenderung dipertahankan. Umat harus dibawa kearah yang lebih mendalam. Dan hal ini hanya akan ditemui dibuku-buku.
Menurut siabah sebenarnya sangat gampang untuk menilai peradaban suatu bangsa. “lihatlah perpustakaannya.”. Atau kalau mau menilai sekolah atau perguruan tinggi apakah intelek atau tidaknya, maka lihatlah perputastakaannya. Termasuk menilai tentang intelektual seseorang,”Lihatlah rumahnya, apakah banyak buku ataau tidak. Karena buku itu cerminan  intelektual seseorang. Semakin banyak buku, berarti orang itu senang membaca, berarti pula intelektualnya tinggi juga.
  Jadi menurut siabah merujuk pada ungkapan nurcholish majid itu bahwa peradaban umat islam bangsa ini baru tahap embrio, mungkin tidak terlalu salah. Karena karya intelektual masih bisa dihitung jari. Dibandingkan dengan jumlah penduduk yang 200 juta lebih. Jika di Indonesia ada 100ribu doctor, dan rata-rata membuat 3 buah karya. Maka 300ribu karya. Dan itupun yang bisa dibaca oleh masyarakat umum, mungkin hanya 1 persen, berarti hanya 3000 judul buku. Itupun mungkin terkendala oleh susahnya penerbitan. Tapi dibandingkan dengan jumlah warga Negara yang 200 juta orang, maka sungguh sangatjauh dari tingkat ideal.
  Tidak hanya itu, menurut siabah, jika dibandingkan dengan hasil peradaban hindu budha di negeri ini, sungguh jauh. Apa yang dibanggakan dari hasil karya kita. Pusat-pusat pemerintahanpun merupakan karya-karya penjajah, bukan karya kita sendiri. Istana Negara bangsa ini yang didiami presiden yang  dibanggakan juga merupakan karya dari bangsa penjajah, gedung sate di kota bandung yang terkenal sebagai pusat pemerintahan jawa baratpun merupakan hasil karya penjajah. Dan hampir semua pemerintahan di propinsi dan kota-kota di negeri ini juga merupakan hasil karya penjajah. Jadi kapan kita bisa menepuk dada kita
  Dan sebagai suatu ungkapan terakhir dari perbincangan itu siabah berpesan agar kita memulai membangun cabang sungai-sungai kecil dihulu peradaban. Dan kita harus merupakan bagian dari pembangun peradaban islam di negeri ini. Dan menjadi bagian dari perubah budaya dari budaya lisan menjadi budaya tulisan. Dan siabah juga memulai hal ini dengan menulis, merangkum dan meringkas tokoh dan intelektual peradaban islam dari dulu hingga kini.
  Dan ketika ditanya tentang hasil karyanya yang tebal, lebih dari 1500 halaman. Itu baru satu judul, belum judul yang lain. “Untuk apa  bah, hasil karya itu ditulis kalau tidak diterbitkan?. Siabah yah enteng saja menjawabnya: “Mudah mudahan menjadi bagian dari cabang kecil dari sungai peradaban islam bangsa ini.”
(Kutipan dari Sundasiabah.Blogspot.Com)

b. Belajar Pada Bangsa Bangsa Besar
  Ketika berkunjung ke rumah siabah, saya menyaksikan buku tebal yang katanya merupakan hasil karyanya selama berrtahun tahun.  Siabah katanya telah membaca ratusan buku hanya untuk diambil ringkasan dari riwayat para tokoh.  Buku ini katanya diawali dengan tulisan tangan, kemudian di tik pakai mesin tik, karena computer waktu itu belum seperti sekarang, katanya. Kemudian ketika era computer mulai booming, maka siabaah mencoba mem-file-kannya ke dalam computer. Dan sekarang di era internet, maka siabah mencoba tulisannya tempo dulu dilengkapi oleh foto-foto di internet, dan data-data yang kurang mulai ditambah diambil dari internet.
  Konon katanya, sebelum booming era internet seperti sekarang ini, buku ini pernah ditawarkan di penerbitan Surabaya, penerbitan di Jakarta dan penerbitan di Bandung. Di Surabaya (di penerbitan bina ilmu) katanya bukunya itu pernah menginap selama sebulan, penerbitan Jakarta (di pusaka alkautsar) juga pernah menginap sebulan, demikian juga di bandung ( Remaja rosdakarya) juga pernah menginap sebulan. Tapi semuanya di tolak, yah mungkin karena datanya kurang atau karena terlalu tebal dan tidak pasar oriented. Tetapi rupanya siabah tidak pernah putus asa.
  Tadinya karyanya ini bukan untuk dijual atau dipasarkan, tetapi sebagai refleksi dari hobbi dan siapa tahu kalau sudah punya rizki akan dia terbitkan sendiri, yah minimal untuk konsumsi anak dan cucu. Siapa tahu generasi berikutnya bisa tidaknyamengebangkan pemikiran yang begitu beragam. Setidaknya anak cucu siabah tidak haarus menaiki tangga peradaban dari nol terus, minimal dia bisa memulainya dri taangga 1 atau tangga 2 peradaban. Siabah mencoba menawarkan tulisannya ini katanya hanya didesak oleh rekan-reakannya, untuk apa menulis buku kalau tidak pernah diterbitkan. “Yah untuk menyenangkan rekan-rekan, karena seolah dia mewakili pasar ‘mungkin’ begitu pentingnya tulisan ini.”
  Rasa optimistis merupakan bagian dari prinsip hidup dari siabah.Menurutnya meskipun kebutuhan diri terus mengejaar seolah tanpa henti, jangan tinggalkan idealismemu mati, tetapi tetap harus dijaga walau sedikit. Karena kadang idealism mati dengan timbulnya kebutuhan yang sangat mendesak atau kebutuhan yang terus menerus mengejar seolah tiada henti.
 Menurut siabah, nanti umat islaam Indonesia akan mengalami kejenuhan terhadap model da’wah yang dikembangkan sekarang ini. Menurut siabah nanti padaa generasi mendatang akan muncul suatu generasi yang merindukan peradaban Islam yang sebenarnya. Mereka bosan terhadap upacara-upacara yang tiada contoh dari Rasulullah.Mereka akan bosan terhadap model ceramah-ceramah yang dikembangkan sekarang ini. Mereka akan merindukan bacaan-bacaan yang mencerahkan, yang membangkitkan dirinya untuk bisa menepuk dadanya sendiri.
Menurut siabah juga katanya umat islam sekarang ini telah mengalami kebingunagn ideantitas. Dimana mereka mencoba menawarkan berbagai alternative dan percobaan yang kadang justru membuat bingung sendiri.  Karena menurut siabah konsep dewasa ini masih dikembangkan baru bentuk parsal dari peradaban. Sedang kaum tradisi masih terjebak pada model-model yang jumud dan stagnan. Dan tidak pernah beraani merevisi tradisi yang hanya itu itusaja yang diucapkan. Umat belum pernah melangkah ke tahapan berikutnya, yaitu membicarakan peradaban.
  Jika peradaban suatu bangsa ingin besar, maka mereka harus belajar kepada bangsa-bangsa besar yang telah mengalaminya. Eropa sekarang ini menguasai peradaban karena mereka  mulai bisa berkomunikasi dengan peradaban besar sebelumnya, dan mencoba menghilangkan sekat dominasi lawaannya.  Bangsa eropa mulai besar ketika ia mulai mengungkapkan pemikiran-pemikiran besar  dari bangsa tradisionalnya, yaitu peradaban Yunani.  Dan peradaban islam sebagai jembatannya dicoba dihilangkan perannya
  Menurut siabah, kita bukan ingin  mengikuti peradaban barat yang sekarang ini mendominasi, dalam arti yang membabi buta. Tetapi yang kita harus akui  adalah proses yang hampir sama, adalah langkahnya terutama masalah transisi tradisi lisan kepada tradisi tulisan. Eropa mengalami pencerahan yang sangat mengagumkan karena ia bisa melewati transisi ini. Tradisi tulisan merupakan langkah awal revolusioner menuju suatu kemajuan yang sangat mengagumkan. Dan tidak adaa bangsa besar hanya mengandalkan bahasa lisan yang cenderung mengulang-ulang.
   Menurut siabah Peradaban identik dengan dominasi segala aspek kehidupan. Bangsa yang memimpin peradaban selalu dijadikan contoh dan juga rujukan dalam berbagai hal, termasuk bernegara, politik, ekonomi, hingga mode atau style. Dan bangsa terbelakang akan selalu mengekor di belakangnya, dan akan selalu bangga mengkampanyekan apa apa yang datang dari mereka.
  Sebagai bagian dari bangsa dibelakang atau bangsa yang tidak dominan seolah kita tidak pernah akaan bisa mengalahkan dominasi yang begitu menggurita. Hampir semua aspek kita kalah semua, baik politik, ekonomi apalgi tekhnologi. Jangankan kita bisa mendominasi, mengikutipun seolah kita harus tergopoh-gopoh. Karena berbagai kekurangan yang begitu menganga. Banyak orang yang seolah=olah optimispun, tapi hatinya selalu berbicara sinis.
  Memang didunia ini tidak ada yang tidak mungkin, suatu ungkapan yang kadang amat gampang diungkapkan, tapi realitasnya kadang justru tidak mungkin. Karena upaya upayaa untuk itu seolah tidak pernah ada. Jika adapun seolah dibuat secara evolusioner, Padahal masyarakat dominan sendiri selalu berlari didepan kita.Melepaskan diri dari dominasi suatu hal yang tidak mungkin terjadi, karena konsep untuk itu kita justru belum punya. Dan menghilangkan dominasipun akan menjadi kurang produktif atau bahkan tidak produktif sama sekali.
  Menurut siabah  kita wajib mempelajari peadaban dewasa ini, sambil mencari peluang kemungkinan bisa mendominasi peradaban. Tetapi kita jangan terjebak seperti orang yang mengambang yang tidak pernah bisa ke atas dan tidak pernah bisa ke bawah.  Kita berkewajiban mengungkap hasil peradaban kita tempo dulu agar kita bisa bertumpu pada kaki sendiri. Yang nantinya anak cucu kita akan bisa menepuk dadanya sendiri. Menepuk dengan bangganya.
  Menurut siabah kita harus mengikuti bangsa barat dalam metodenya bisa berkomunikasi dengan kebesaran pemikiran masa lampaunya, yaitu peradaban Yunani. Nah umat islam juga harus mengikuti hal ini, kita harus bisa berkomunikasi dengan kebesaran peradaban islam tempo dulu. Yaitu dengan mengungkap seluruh pemikiran yang berkembang di masa itu. Berarti tanggung jawab generasi sekarang ini adalah memberikan jalan kepada generasi muslim masa depan untuk bisa mengkomunikasikan peradaban dewasa ini dengan peradaban islam klasik  yang kaya.
  Jadi menurut siabah, ia menulis, mengumpulkan, meringkas tokoh dan intelektual muslim dari masa ke masa adalah suatu upaya untuk itu.  Siabah tidak peduli disebut plagiat atau apapun yang bersifat negatif, karena orang lainpun belum begitu peduli terhadap hal demikian.  Jadi menurut siabah,upayanya itu mudah-mudahan menjadi pembuka jalan generasi mendatang untuk bisa berkomunikasi dengan peradaban masa lampaunya yang kaya.“Nah mengumpulkan riawyat hidup, karya-karya dan peranannya serta pemikirannya dari para pemikir muslim tempo dulu. Karena disana ada hikmah, ada pelajaran dan mungkin ada kebanggaan.”
  Setelah kita mengumpulkan semua ilmuwa, karya tulis dan berbagai pemikirannya, maka mungkin generasi mendatang  harus memulai mengumpulkan atau memperbanyak (di fotocopy atau discan) semua buku peninggalan peradaban islam klasik, kemudian dibangun perpustakaan-perpustakaan. Setelah itu generasi mendatang harus mulai mencetak semua manuskrip (tulisan tangan) hasil peradaban islam tempo dulu. Setelah mencetak seluruh hasil peradaban islam klasik dan disebar  ke berbagai perpustakaan, baru menginjak proses selanjutnya, yaitu menterjemahkan  hasil peradabaan itu ke berbagai bahasa di dunia. Agar isinya diketahui oleh semua oraang.
  Menurut siabaah jika proses itu bisa dilalui, maka dominaasi peradaban kemungkinan akan terbuka.  Proses tersebut diatas sangat rumit dan memerlukan dana yang sangat besar. Karena itu hingga kinipun orang banyak yang tidak pernah memulai, karena memerlukan dana yang luar biasa. Dan meskipun ada dana pun mending untuk investasi yang lain. Hanya orang=orang yang idealislah yang mungkin akan bisa merealisasikannya.
  Jadi sebagai suatu kesimpulan menurut siabah, mungkin peranan yang bisa kita ambil dari berbagai hal tersebut diatas adalah bagaimana kita menjadi bagian dari pembuat cabang sungai-sungai kecil di hulu peradaban. Dan hal ini harus cepat dimulai, sehingga kita bisa menetapkan angka nol  (awal) yang menuju positif. Karena jika tidak pernah dimulai, mungkin generasi mendatang akan berangkat dari nol juga. Dan hal ini akan terus menerus dari generasi ke generasi
(Kutipan dari Sundasiabah.Blogspot.Com)


c. Pentingnya Perpustakaan
 Jika sudah kenal memang sangat nyaman kalau berkomunikasi, seolah tiada penghalang untuk mengungkapkan berbagai pikiran dan pemikiran satu sama lain. Saya dengan siabah menandai masa itu, masa sudah kenal dan saling mempercayai serta memahami. Sehingga pemikiran siabah dengan derasnya keluar dari mulutnya melalui suatu ungkapan-ungkapan yang sangat bermakna.
Setelah tema pertama membuat sungai sungai kecil dihulu sungai peradaban. Yang kedua tentang belajar dari bangsa bangsa besar. Dari kedua judul itu isinya menekankan tentang begitu pentingnya membaca, yang merupakan salah satu bentuk atau aktifitas tarnsformasi dari bahasa lisan ke bahasa tulisan. Dan  setelah itu adalah pembukuan. Siabah sangat bersemangat ketika berbicara tentang masalah pembukuan ini, dan ujung dari pembicaraan mengenai perpustakaan. Siabah sangat prihatin tentang perpustakaan ini. Di Negara ini perpustakaan hanyalah sebagai pelengkap penderita, bukan sesuatu yang amaat penting dalam berbagai institusi. Mungkin hanya universitas-universitas favoritlah perpustakaan mendapat perhatian khusus. Selain itu mungkin belum ada yang serius menanganinya atau hanya apa adanya.
 Siabah berbicara: “Ada suatu ungkapan, jika mau melihat atau menilai intelektual seseorang adalah dengan melihat buku bacaannya”. Dan siabah meneruskan pembicaraannya:” Jika mau menilai intelektualitas sekolah atau perguruan tinggi maka lihatlah yang perpustakaanya. Perpustakaan adalah kumpulan buku-buku. Seolah memang benda mati karena hanya kumpulan buku-buku. Padahal perpustakaan mencerminkan hidupnya pemikiran suatu lembaga pendidikan atau suatu daerah. Jika perpustakaan suatu sekolah bukunya sedikit, tidak terurus dan banyak yang tua dan tidak berkualitas. Maka hal tersebut mencerminkan intelektual isi sekolah tersebut, baik guru, kepala sekolah maupun siswanya. Demikian juga suatu universitas, kota atau daerah, atau masjid bahkan Negara”.
 Perpustakaan yang hebat di negeri ini mungkin baru di universitas ternama saja, sperti ITB, UI dan lainnya. Jadi perpustakaan baru milik lembaga pendidikan yang mungkin agak lengkap. Tetapi itu belum mencerminkan mayoritas anak bangsa. Perpustakaan belum menjadi gerakan universal, terutama dilembaga-lembaga pendidikan islam atau di masjid masjid. Seperti yang kita ketahui Masjid dalam tradisi islam awal adalah pusat ilmu pengetahuan. Tempat dimana tempat mencari ilmu dan tempat mencari solusi permasalahan .
 Siabah pernah berkeliling ke kota-kota besar, jangankan masjid di desa-desa, perpustkaan di Masjid istiqlal hanyalah menempati ruangan bawah masjid yang sepi pengunjung. Siabah dulu termasuk yang aktif membaca di perpustaakaan masjid istiqlal. Disamping tempatnya kurang menarik, seolah kurang promosi dan apa adanya. Padahal itu di masjid terbesar di indonesia. Demikian juga di Masjid agung bandung, Masjid al akbar Surabaya, bahkan islamic centr termegah di Samarinda juga sangat jarang bukunya.
 Jadi hal ini mengindikasikan tentang minimnya pengetahuan kita terhadap peradaban Islam. Seolah hal ini dibiarkan bertahun-tahun dan menjadi suatu kebiasaan yang terus dipertahankan. Perpustkaaan / kumpulan buku buku koleksi seolah benda mati yang tidak mencerminkan intelektualitas pengurusnya. Padahal perpustkaaan mencerminkan hidupnya intelektualitas dari komunitasnya. Jadi seolah peran kita hanya dinilai oleh diri kita sendiri, dinilai oleh kebiasaan-kebiasaan yang stagnan, karena secara ekonomi kita diuntungkan. Padahal ini merupakan peluang dan kesempatan untuk memakmurkan masjidnya. Tanpa buku atau saarana intelektual lainnya, masjid nantinya hanya akan menjadi tempat berkumpulnya kaum tua yang hanya untuk kegiatan-kegaiatan seremonial. Seolah masjid sebagai tempat dimana menjadi sumber inspirasi sudah banyak ditinggalkan.
(Kutipan dari Sundasiabah.Blogspot.Com)

d. Membangun lembaga pendidikan Alternatif Berkonsep Peradaban
   Pembicaraan dengan siabah menginjak kepada tema-tema yang variatif. Setidaknya banyak pemikiran-pemikiran yang agak berbeda yang mungkin kata siabah akan banyak menyinggung perasaan sebagaian orang di negeri ini. Tapi menurut siabah hal itu bukan maksud menyinggungnya tetapi upaya-upaya mengungkap konsep ideal yang kadang harus bertentangan dengan realitas manusia yang sangat subyektif dalam cara berpikir dan cara bertindak.
   Setelah tentang transformasi dari bahasa lisan ke bahasa tulisan yang merupakan awal dari revolusi menuju masyarakat berkonsep peradaban, dan tema-tema pendukungnya, terutama tentang pentingnya umat islam memulai mentradisikan menulis, dan mengumpulkan hasil karya tulisan umat manusia dalam upaya cara berpikir agar selalu tidak memulai dari nol. Dan selanjutnya adalah tentang perlunya membangun lembaga pendidikan berkonsep masa depan (berkonsep peradaban).
  Menurut siabah pada hakekatnya lembaga pendidikan yang diperlukan bangsa ini adalah suatu lembaga yang dapat mencetak  kader-kader berikutnya bisa membusungkan dadanya, atau menepuk dadanya dihadapan bangsa lain. Disini bukan berarti sombong tetapi bentuk suatu kebanggaan diri karena keunggulan-keunggulan yang dimiliki. Jadi lembaga pendidikan pada hakekatnya adalah lembaga pengkaderan generasi unggul.
 Kaum pembaharu pendidikan islam  belakangan ini mendefinisikan generasi unggul itu dengan mengutip apa yang diungkapkan dalam suatu ayat alqur’an, yaitu suatu generasi yang mempunyai kekuatan fisik dan juga kekuatan ilmu (basthatan fil jasad wal ilmi’). Sehingga kemudian bisa menepuk dadanya sendiri, yang dapat mengandalkan kemampuan dirinya sendiri. Bukan karena factor-faktor yang subyektif seperti keluarga atau kekayaan.
   Siabah agak mengkritik tentang model pendidikan seperti sekolah umum. Menurutnya model ini belum banyaak memberikan lompatan-lompatan ke depan secara signifikan. Karena banyak dikonsep secara mengambang. Belum bisa  mencetak manusia unggul, seolah masih mengambang, dan fondasi yang dibangun juga belum kokoh, baik dari intelektual maupun dari segi spiritual. Hal ini karena belum menjadi gerakan atau hasil yang menyeluruh.
   Sekolah di negeri ini menurut siabah kebanyakan hanya untuk status local saja, belum menjadi fundamen pendorong bagi intelektualitas selanjutnya. Karena orientasi pemikirannya juga kurang berfokus. Pendidikan kebanyakan baru mencari status, dan mencari ilmu bukan menjadi tujuaan utama. Karena itu ketika slesai pendidikan, bukan menjadi awal cara berpikir tetapi lebih menekankan kepada  akhir dari belajar/ berpikir. Sebagai contoh, ketika seseorang  lulus dari sarjana  (S1), maka sarjana itu merupakan akhir dari suatu tujuan, bukan awal dari cara berpikir. Jadi banyak dari sarjana kita yang cara berpikirnya tidak seperti seorang sarjana. Jadi gelar baru menjadi keberuntungan, karena mungkin secara ekonomi lebih mampu dari tetangga yang lainnya. Tentu hal ini tidak semua seperti itu, tetapi jumlah yang demikian tentu sangatlah sedikit, sehingga belum menjadi suatu gerakan yang revolusioner untuk mengubah bangsa ini.
 Tidak hanya itu, siabah juga agak mengkritik institusi pendidikan tradisional negeri ini seperti: pesantren. Menurut siabah hingga kini pesantren kebanyakan masih bukan “islam” sebagai ide, sebagai cita-cita, tetapi baru upaya mempertahankan tradisi local, yaitu tradisi local turun temurun dari nenek moyang ke nenek moyang  hingga kita dan  selanjutnya. Seolah tidak ada kritik adanya. Jadi pesantren yang dianggap sebagai refresentasi sekolah islam, harusnya dapat menjadi alternative, malah menjadi daripada, daripada tidak sekolah, karena ekonomi yang sulit. Daripada tidak sekolah karena tidak diterima oleh sekolah umum mendingan masuk pesantren. Jadi hingga kini pesantrenpun belum bisa dijadikan alternative, karena institusi ini belum menghasilkan lompatan-lompatan besar dalam berpikir.
Meskipun sudah mulai banyak yang melakukan perubahan-perubahan, tetapi tetap masih belum bisa menjadi alternative atau setidaknya masih belum ada lompatan-lompatan besar dari hasil karya lulusannya.
   Mengapa hal ini bisa terjadi, karena kita belum menggali budaya kita secara mendalam. Kebanyakan budaya bangsa disetting ketika negeri ini terbentuk. Jika kita baru merdeka tahun 1945 berarti budaya bangsa kita juga baru terbentuk setelah itu. Dan sebelum tahun itu negeri ini dikenal sebagai negeri Hindia belanda, yang konon berkuasa di Indonesia hampir 350 tahun.  Suatu waktu yang cukup untuk membunuh karakter bangsa, membunuh ide-ide cemerlang bangsa, dan waktu yang cukup untuk menjadikan cara berpikir anak bangsa ini menjadi bangsa budak atau bangsa pengabdi, bangsa termarjinal dalam berbagai kebijakan politik dan ekonomi. Jadi hakekat budaya bangsa kita tidaak pernah bisa melepaskan dari budaya-budaya bangsa termarjinal. Makanya jangan heran jika banyak lulusan sekolah kita yang bekerja diinstitusi pemerintahan atau public masih banyak melanggengkaan budaya-budaya budak, seperti korupsi, kolusi dan budaya suap.
  Jadi sangat sulit lulusan dari sekolah-sekolah kita itu menjadi motivator. Karena kita baru berevolusi dari bangsa pengabdi menjadi bangsa yang merdeka. Belum bisa menjadikan bangsa yang sejahtera. Jadi ternyata PR kita masih banyak.
(Kutipan dari Sundasiabah.Blogspot.Com)

6. Generasi Muslim Baru
   Bangsa ini adalah bangsa yang pernah terjajah selama ratusan tahun. Padahal menurut Ibn Khaldun jika menyimpulkan kasus dari Bani Israil, maka ada korelasi kebangkitan suatu bangsa terjajah sebanding dengan lamanya dijajah. Jadi bangsa ini akan bangkit sekitar 350 tahun setelah merdeka. Jika beranjak dari tahun sekarang ( ke 65 tahun)  maka bangsa ini akan bangkit sekitar 285 tahun lagi, suatu penantian yang sangat melelahkan. Itupun dengan syarat munculnya generasi baru yang terbebas dari budaya budak, yaitu  munculnya generasi basthotan fil jasd wal ilmi ( generasi yang kuat fisik dan ilmunya)..
  Hidup adalah persaingan, semangat saja tidak pernah mengalahkan dalam persaingan, bahkan orang kelewat semangat justru menjadi orang yang kontraproduktif dalam suatu organisasi. Ada persyaratan minimal yang harus dimiliki orang dalam memenangkan persaingan dalam hidup. Pertama orang seringkali menunjukan kekuatan fisik. Kekuatan fisik adalah standar dari memenangkan persaingan dalam hidup. Tetapi hanya mengandalkan fisik saja, orang gampang untuk di kendalikan, maka ada kekuatan ilmu. Jika kekuatan fisik sama kekuatan ilmunya sama, maka yang ketiga adalah strategi, dan jika sama-sama ahli strategi maka yang keempat adalah kesabaran, maksud sabar disini bukan arti radisi kita tidak melakukan apa-apa, tetapi sabar disin berarti militan atau ulet.
  Kekuatan fisik adalah modal awal dalam memenangkan persaingan kemudian ilmu, mungkin itu ungkapan bebas dari generasi basthtan fil jasad wal ilmi. Jadi pada hakekatnya sistem pendidikan yang ideal adalah membangun orang-orang yang kuat secara fisik dan ilmu. Orang yang kuat tanpa ilmu gampang dipermainkan, orang berilmu tinggi  tanpa kekuatan fisik maka akan loyo, menjadi generasi berilmu tapi penakut.
  Jika kita membaca cerita-cerita sunda tempo dulu, sungguh hal demikian telah diterapkan dalam oleh perguruan-perguruan sunda waktu dulu. Pada awalnya untuk hidup 'survive' maka latihan fisk merupakan syarat mutlak awal, tetapi jelas harus melalui tahapan-tahapan dengan konsep  yang manusiawi. Seperti manusia baru berjalan, harus melangkah selangkah demi selangkah, bukan langsung jalan atau bahkan lari. setelah itu kemudian diajari ilmu-ilmu yang ideal, konsep-konsep yang ideal. Setelah hal itu berlangsung dalam waktu tertentu, maka barulah turun gunung. Istilah turun gunung adalah suatu konsep ideal dalam mengaktualisasikan ilmunya dalam masyarakat sekitar.
  Untuk membangun generasi baru muslim setidaknya harus dibangun suatu pemikiran  yang  berperadaban, jadi generasi muslim ke depan harus dipahamkan tentang wacana yang luas yaitu wacana peradaban, bukan wacana yang sempit,yang hanya mengajarkan cabang yang sempit, fiqih saja, hadits saja atau hanya hukum saja. Karena di dunia itu kita hidup bersaing bukan hanya dengan sesama muslim tetapi dengan non muslim. Jadi wacana yang harus di raih adalah persaingan dalam wacana yang sama , yaitu ilmu pengetahuan yang global atau kita sebut wacana peradaban.
  Karena itu belajar dari Al Qur'an, Sunnah dan sejarah peradaban manusia, maka untuk meraih kemenangan dalam persaingan setidaknya perlu tahapan-tahapan yang lebih serius untuk menggapainya. Karena hampir semua tahu, bahwa bangsa-bangsa muslim adalah bangsa yang ketinggalan dalam berbagai bidang kehidupan. Jangankan memimpin zaman mengikuti zaman saja tergopoh-gopoh.
   Tidak ada kata terlambat bagi orang yang mau memulai,  dan bagi mereka yang mau belajar. Dan mungkin suatu kelemahan dari bangsa ini disamping gampang menyerah, tidak idealis (hanya mikir perut saja), juga sangat malas untuk belajar. Sehingga hidupnya jumud, statis dan anti kritik. Kita telah begitu lama terbuai dijajah selama ratusan tahun, sehingga kemauan untuk berubah sangatlah susah, mereka begitu menikmati kesusahan dalam hidup
  Memang sangat susah membangun pemikiran dalam konsep masyarakat yang biasa susah dan sangat menikmati kesusahan hidupnya sebagai jalan hidup yang ia jalani. Memaksa masyarakat angkatan lama untuk berubah sangatlah susah, dan mungkin kita membiarkan mereka pada pandangannya yang demikian., Tetapi yang harus diselamatkan adalah generasi ke depan, yang mereka akan mengalami zaman yang lebih dari zaman sekarang. Kalau dibiarkan mereka mempunyai pandangan susah seperti pendahulunya maka mereka akan terpinggirkan dengan sendirinya. Kalau terpinggirkan mereka akan menjadi bangsa yang susah lagi, padahal tanggung jawab generasi  sebelumnya adalah membuat generasi berikutnya dididik sesuai zamannya.
    Sebagai tanggungjawab generasi sekarang, maka sangat diperlukan upaya-upaya untuk meraih peradaban masa depan yang cemerlang. Dan untuk meraihnya kita harus menggunakan cara-cara peradaban Islam tempo dulu, ang telah teruji. Jika kita menggunakan metode barat, maka kita akan selamanya mengikuti peradaban barat, yang berarti pula menjadi pengekor, kalau sudah pengekor maka sudah sangat  susah untuk leading atau menjadi leader, kecuali mundur. Dan jika mundur terus maka masuk jurang adalah suatu kesempatan.
    Untuk membangun peradaban Islam ke depan setidaknya ada tahapan-tahapan yang diajarkan dalam sejarah peradaban Islam tempo dulu, diantaranya:
 
a. Membuka wacana yang lebih luas
    Dalam sejarah peradaban Islam awal, ada kecenderungan umat Islam membuka wacana ke arah yang lebih luas, meskipun tetap dalam pandangan keagamaan yang kokoh.
Pada awalnya pemahaman umat Islam awal hanya masalah keagamaan, tetapi kemudian menjalar ke hampir semua wacana kehidupan, sehingga tidak ada wacana sekecil apapun yang tiudak dibahas oleh ilmuwan-ilmuwan muslim. Hal ini bisa disaksikan dari sisa-sisa karya penulis-penulkis muslim klasik yang hingga kini masih ada.

b. Ada transisi dari Budaya lisan ke budaya tulisan
  Pada awalnya generasi muslim awal, bergerak pada tradisi lisan. Tetapi Nabi telah memulai menyuruh menulis firman-firman Allah, melalui sekretaris-sekretarisnya.  Dan tardisi ini kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya, dari hanya tulisan yang berhubungan dengan Al Qur'an ,kemudian tulisan yang berhubungan dengan hadits-hadits Nabi, kemudiian yang berhubungan dengan sejarah, dan berlkanjut pada dasar-dasar pengambilan hukum, metode-metode, dan berlanjut kepada ilmu kimia, ilmu fisika dan lain sebagainya.
  Masyarakat kita masih mengembangkan tradisi lisan padahal tulisan sudah dikenal. Mereka begitu menikmati cerama-ceramah yang itu-itu saja, seolah mendengarkan ceramah telah mewakili sebagai kebaktiannya kepada Allah. Dan tradisi ceramah ini tetap bertahan dan mendapat tempat di masyarakat yang malas membaca, Jadi ada korelasi orang malas dengan tradisi lisan,sehingga tidak maju-maju, bahkan cenderung menjadi bangsa yang mundur secara peradaban. Karena budaya malas membaca telah begitu merasuk pada bangsa ini. Jumud, taklid, dan malas merupakan budaa bangsa yang tetap dipertahankan. Padahal hal itu merupakan sumber malapetaka kehidupan. Karena akan menjuerumuskan bangsa itu hanya menjadi bangsa pinggiran, menonton kemegahan, dan menikmati kesengsaraan.
    Masyarakat Sunda harusnya menjadi masyarakat dinamis, seperti yang diinginkan oleh nenek moyangnya dulu. Hidup statis, jumud, tidak berubah adalah malapetaka. Dan untuk merubah itu semua kita harus banak membaca. Mendengar ceramah hanyalah proses awal untuk mencari wacana yang banyak. dan pendalamannya hana ada dalam buku-buku.
Dengan demikian masarakat sunda harus mrmbiasakan membaca buku-buku sebagai upaya pendalaman dan mencapai hidup 'rancage'. Setelah banyak membaca maka harus memulai menulis apa-apa yang diketahui sebagai awal dalam menuju pencapaian peradaban yang cemerlang ke depan.
   Ada hal yang salah dalam pandangan masyarakat sunda dan masyarakat indonesia secara keseluruhan yang selalu diidentifikasikan segala sesuatu dengan uang. Apa-apa uang, apa-apa dihubungkan dengan isi perut. Padahal  konon hasil manusia tidak akan jauh dari pandangannya dalam memandang hidup. Jika hanya berpandangan masalah perut maka orang itu akan tetap susah dalam masalah ini.  Makanya manusia harus memandang dunia ini lebih luas, lebih idealis. masalah kebanggaan diri, masalah prestasi harus dikembangkan sebagai wacana baru. Dan jika sudah berprestasi maka masalah perut tidak usah  dipikir lagi karena dengan sendirinya akan terpenuhi.
   Maka sebagai suatu kesimpulan bahwa untuk meraih suatu perdaban yang cemerlang, kita harus membangun suatu wacana baru yang lebih luas. Disamping itu kita harus memulai menyenangi membaca, dan terus membaca. Buah dari banyak membaca adalah luasna pemikiran, luasnya wacana, sehingga memecahkan problem hidup akan dengan mudahnya diatasi, karena dalam bacaan banyak cara menangani problem dengan profesional.  Dan setelah wacana yang luas, maka kita harus membiasakan diri untuk menulis apa-apa yang diketahui. Hal ini bukan masalah so tahu (sombong), tetapi merupakan upaya-upaya pembelajaran pada diri dan generasi mendatang. Kalau tidak dibiasakan dari sekarang oleh kita, kapan generasi sesudah kita memulai. Jangan biarkan generasi mendatang berada dalam keadaan 'selalu berangkat dari nol' atau selalu berangkat dari awal.
   Jadi sebagai upaya pembelajaran pada diri kita dan juga generasi mendatang.......

6. Peradaban Sunda Masa Depan
 Adalah hal yang sangat menarik apabila mengkaji peradaban sunda dalam kaitannya dengan agama yang dianut mayoritas umatnya, yaitu Islam. Masyarakat Sunda adalah masyarakat terakhir di pulau Jawa yang menganut agama Islam. Tetapi yang lebih menarik adalah penerimaan Islam yang relatif agak rasional, tidak kebanyakan masyarakat jawa yang cenderung sinkretis (campur aduk).
  Penerimaan Islam yang agak rasional dimungkinkan tataran sunda akan menjadi yang pertama  dalam membangun peradaban Islam yang modern. Yang terbebas dari budaya taklid, bid'ah dan berorientasi kebelakang serta tahayulisme.
  Ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan mengapa masyarakat Sunda akan menjadi yang terdepan dalam menata peradaban Islam yang lebih modern di Indonesia. Karena alasan sebagai berikut:
    Yang pertama adalah corak Islam Sunda yang cenderung sintesis (memperpadukan) bukan sinkretis ( mencampuradaukan) seperti masyarakat jawa kebanyakan. Maka mengapa Islam corak persis atau Muhammadiyah lebih dominan di daerah ini. Hal ini mengindikasikan salah satunya.
  Disamping itu dari segi sejarah dan tata bahasa juga mencerminkan hal seperti itu. Nama Sunda misalnya berarti Suci, bersih, puritan. Dulu nama sunda ini diproklamirkan oleh Maharaja Purnawarman, raja Tarumanagara  untuk menamai ibukota kerajaan barunya, Sundapura. Purnawarman seolah ingin memberikan pegangan kepada generasi berukutnya tentang nilai-nilai kemurnian dan kesucian nilai-nilai agama, dan hanya dengan kmeurnian dan kesucian itu nilai nilai Sunda akan membahana. Kemurnian dan kesucian merupakan ciri dan nilai yang mau dibangun oleh para pendiri Sunda. Maka ketika Islam telah menjadi pegangan hidupnya, maka  masyarakat Sunda akan cenderung lebih ke sifat awalnya, mensucikan agamannya dan kembali kepada kemurnian agamanya.
  Masyarakat Islam yang sejati adalah masyarakat Islam yang mencerahkan, masyarakata Islam yang mencintai dan menghormati kemajuan. Jika tidak memimpin zamanpunberarti tidak ketinggalan zaman. Meskipun sekarang masih dalam tahap mengikuti zaman, tetapi upaya-upaya menuju kemajuan dan kemodernan harus tetap diupayakan.
 Demikian tulisan ini adalah awal dari pemikiran besar, menggali potensi untuk membangun peradaban Sunda ke depan, yang islami. Dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki, alangkah terbukanya masa depan yang cerah, yang akan menjadi cita-cita bersama.

Bab. IX Catatan Catatan Kecil & Kata Mutiara Siabah
1. Kambing Hitam
    Sudah saatnya kita tidak mengkambing-hitamkan berbagai permasalahan yg dianggap sebagai penyebab dari suatu kegagalan atau kekalahan, yg sebenarnya justru menunjukan kelemahan kita yg sebenarnya. Karena faktor yang menyebabkan kegagalan dan kekalahan adalah kurang percaya sepenuhnya kepada kemampuan diiri sendiri, dan juga memang kita selalu dimanjakan oleh alasan2 sebagai pembenaran terhadap kegagalan./ kekalahan..

2.Sulitnya Mencari Sumber Pustaka
   Ketika mau menulis suatu buku tentang sejarah peradaban Islam, sangat sulit untuk mendapatkan sumber, apalagi kita bukan berlatar akademik, semacam guru atau dosen. Tidak seperti dalam film-film barat, ketika kita punya ide begitu gampang mencari perpustakaan-perpustakaan di berbagai kota...Dan mungkin hal ini tidak akan sulit bagi seorang akademisi,...tetapi apakah mereka punya ide seperti kita.....

3. Mencontoh Peradaban Islam Klasik
a. Mencontoh Hasil Karya Tulis Al Ghazali
   Kita memang harus mencontoh pada peradaban islam klasik, yang waktu itu belum ada komputer, belum ada mesin cetak, tetapi karya intelktual yang dihalkan berjuta-juta buku. Misal,.Imam Alghazali menulis sekitar 500 judul buku. Dan jika kita membaca karyanya yang berjudul Ihya Ulumuddin mungkin kita akan menghabiskan waktu sebulan bagi orang yang cerdas, dan mungkin setahun bagi orang biasa2 saja. Tetapi khan dia tidak hanya menulis buku itu saja. Dan karya2 beliau lainnya sangat jarang dibicarakan,.. .perpustakaan memang tetap diperlukan dan masih jarang di indonesia...

4. Realitas dibalik kekayaan yang melimpah
     Sayang memang negara kita yang kaya raya seperti yang selalu di dengung-dengungkan oleh para guru di sekolah, dalam setiap nyanyian, tapi realitasnya tidak seperti itu adanya. Berbeda dengan jepang, suatu negara termiskin dalam sumber daya alam, tetapi realitasnya negara mereka memang sangat kaya. Dan yang masih selalu ada dalam perbincangan dari para kaum yang agak pesimis, negara kaya yang selalu dilekatkan atau di dengung-dengungkan oleh para guru dan pemerintah, hanyalah untuk menutupi memang bangsa kita jauh dari apa yang diharapkan.....Cuma mungkin yang harus ditanyakan dan ditanyakan adalah mengapa justru realitas tidak sesuai dengan apa yang seharusnya disyukuri oleh setiap anak bangsa, kita dilimpahkan kekayaan, tapi realitasnya kita bukanlah termasuk menjadi bangsa yang kaya........mengapa?

6. Kebenaran Kaum Oportunis
   Sekarang ini banyak orang yang berbicara tentang kebenaran tetapi bagaikan buaya mangap, yang siap menghancurkan satu sama lain. Jadi bukan kebenaran dengan lubuk hati dan pemahaman terhadap kebenaran itu sendiri terhadap agama. Kita kadang mendefinisikan kebenaran dengan subyektifitas kita, yang sangat tergantung pada intelektualitas... dan latar belakang kehidupan.
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa bangsa kita tidak pernah memiliki sikap yang legawa dan berbaik hati jika ada tetangga atau rekan kita ada yang maju. Seolah mereka tidak pantas dan hanya yang pantas adalah dirinya. Hal inilah yang membuat selalu subyektif dalam menyimpulkan kebenaran, suatu kebenaran yang didasarkan pada perasaan diri.
   Dan harus disadari juga bahwa bangsa kita juga tidak termasuk sebagai bangsa pemikir dan juga bangsa yang kaya. Sehingga kesimpulan terhadap kebenaran juga kadang dikaitkan dengan kesempatan / oportuniy, sehingga kebenaran kita hanyalah kebenaran sebagai kebenaran kaum oportunis. yaitu kebenaran yang didasarkan atas kesempatan kita agar kita bisa menang dalam bersaing melawan saingan kita.
    Kebenaran yang demikianlah justru yang merusak definisi kebenaran itu sendirii. Karena itu benarlah suatu ungkapan dalam bahasa arab, yang intinya bahwa haq atau kebenaran akan ada jika masih ada yang memperjuangkannya

7. Filsafat Menyontek
 Salah satu  diskusi degan Siabah tentang filsafat menyontek. Menurut siabah permasalahan menyontek anak sekolah untuk nilai ujian di bangsa ini menjadi masalah yang hampir sama dengan masalah korupsi dan kolusi pada system birokrasi kita. Gerakan menyonteks yang berlangsung tiap tahun ketika musim ujian nasional di sekolah-sekolah untuk penilaian yang sesaat. Bagi siabah ini merupakan gerakaan yang sangat mengkhawatirkam bagi kelangsungan masa depan anak bangsa. Gerakan tersebut meupakan gerakan awal generasi korup masa depan.
 Menyonteks dalam hubungan belajar mengajar, terutama dalam hubungannya  menentukan penilaian secara keseluruhan, menurut siabah adalah kesalahan yang sangat mendasar. Karena jika dibiarkan akan merusak system dan proses belajar. Jika orang sudah tidak mempercayai lagi sebuah system dan proses maka orang akan males dan skeptis. Jika sudah demikian maka segala harapan orang akan sendirinya mati. Dan jika proses demikian berlanjut maka Negara ini akan dikuasai oleh manusia-manusia rakus yang lambat laun akan menghancurkan Negara secara perlahan-lahan. Jadi inilah bahasanya jika proses contek menyontek dibiarkan dalam tataran proses belajar anak bangsa.
 Siabah menambahkan lagi, menurutnya siabah itu adalah orang yang anti dalam contek menyontek. Sebagai orang yang selalu rangking satu di sekolah, dengan tidak nyontekpun selalu mempunyai nilai tertinggi di kelasnya. Jadi untuk apa nyontek.  Bagi orang pintar, bagi orang cerdas nyonteks itu adalah suatu keharaman bagi dirinya baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena kalau nyontek baginya tidak akan bisa menilai dirinya dengan orang lain dalam lingkungan akademik. Jadi yang dinamai test bagi orang-orang pinter dan cerdas adalah suatu keharusan dan merupakan suatu hal yang logis untuk selalu dilakukan untuk menilai seseorang dan menilai sutu proses belajar. Karena tanpa test maka kita aakan sulit menilai intelektualitas seseorang atau suatu komunitas bangsa. Jadi ketika contek mencontek dibiarkan atau dilegalkan seperti sekarang ini maka  kita akan sulit  menentukan kualitas anak didik, dan kita juga akan sulit menentukan kualitas sekolah, kulaitas pengajar dan seterusnya.
 Sebenarnya yang sangat membahayakan adalah ketika sudah tidak ada lagi anak didik yang idealis. Tatanan membiarkan contek mencontek akan menghilangkan generasi idealis ini. Dan jika sudah tidak ada lagi generasi idealis maka kehancuran Negara akan semakin cepat di depan mata. Karena hal-hal idealis dimatikan, sehingga sangat sulit juga dalam menentukan  penilaian. Karena nantinya Negara akan di atur oleh orang rakus, korup. Dan jika system ada ditangan-tangan generasi korup, maka orang akan males untuk berdikari, males berkarya dan seterusnya.  Jadi Negara bagai di atur oleh orang mati, maka Negara akan stagnan, sehingga Negara akan sendirinya hancur.

(lanjut)

By Adeng Lukmantara,
Penuls lepas asal Hariang Sumedang  
(Foto: penulis bersama Bp. Alfi Alkansyah, di Bandara Syamsuddin Nur Banjarmasin)