Laman

Selasa, 24 Juli 2018

SUMEDANG, SEJARAH,DAN SILSILAH VI

Pengantar


Jika kita masih mau berjalan maka mungkin kita akan selalu maju ke depan, tidak diam atau staghnan. Dan mungkin di depan sana banyak yang kita lihat dan perhatikan, sehingga dengan tetap berjalan pun kemungkinan kemungkinan besar akan sangat terbuka lebar. Demikian mungkin makna dari menulis, setidaknyaa kalau kita tetap menulis dan menulis maka sebenarnya peluang untuk menambah ilmu sangat terbuka lebar. Disini bukan hanya untuk diri pribadi, mungkin bagi yang membacanya dikemudian hari akan banyak memberi mamfaat.

Sejarah menulis adalah sejarah mengumpulkan perkataan atau tulisan  orang orang terdahulu, kemudian dikritisi. Dan memang harus diingat terus perkataan Imam Fakhrur Razi, yang mengatakan bahwa kemajuan akal sesungguhnya hanya mengumpulkan kata si fulan dan si anu.Tapi tentu dengan pertimbangan akal yang jelas dan jernih. Karena sekarang iitu ilmu sudah banyak ditulis dalam berbagai cabangnya, jadi kita hanya tinggal mempelajarinya. 

Dan mungkin sedikit meringkas atau mengoleksi dalam sebuah tulisan untuk diri kita, yang mungkin juga bermamfaat bagi generasi berikutnya, yang datang dikemudian hari. Atau minimal setelah membaca, ada kenangan bahwa kita telah membaca hal tersebut, dengan sedikit meringkasnya.

Di Sumedang,  dalam sejarah kekuasaan  masih  banyak orang yang idealis, yang selalu ingin mempersatukan kembali tanah tanah yang dulunya merupakan daerah kekuasaanya, meskipun kadang gagal. Tetapi usaha usaha itu terus dilanjutkan meskipun dalam model lain seperti perkawinan antar keluarga bangsawan dengan berbagai daerah. Dan sekarang ketidakmungkinan dalam berbicara wilayah, yang dimungkinkan adalah mengembangkan wacanaa dengan ide ide pencerahan yang diajarkan oleh nenek moyang orang Sumedang, "Saya dilahirkan untuk mencerahkan (insul medal insun madangan)". 

Dalam sejarah setelah terlepas dari pengaruh Mataram, dilakukan oleh sang penguasa waktu itu Pangeran Rangga Gempol III berusaha kembali untuk menyatukan kembali  wilayahnya dalam satu kekuasaan. Dan pada awalnya ia berhasil dalam pencapaian pencapaian tersebut. Dan usaha tersebut diteruskan oleh Pangeran Kornel. Dan usaha berikutnya di lakukan oleh Pangeran Sugih yang terkenal akan kekayaannya. Ia merupakan bupati terkaya di pasundan dizamannya, sehingga ia kemudian terkenal dengan nama pangeran sugih, "sugih ku harta, sugih ku harti dan sugih ku istri". Dengan kekayaannya ia ingin mempersatukan wilayah nya dulu merupakan wilayah Sumedang Larang, karena itu ia kemudian memperistri di berbagai daerah. Sehingga kemudian dalam sejarahpun banyak pejabat di luar Sumedang yang berasal dari keturunannya. Misal bupati Garut pertama, bupati Sukabumi pertama, dan menantu menantunya juga menjadi bupati di berbagai daerah.

Insun medal insun madangan (saya dilahirkan untuk memberi penerangan / pencerahan), perkataan sang founding father Sumedang, Prabu Taji Malela. Karena itu mungkin tulisan ini hanya sedikit dalam upaya upaya untuk mengingatkan kembali peran peran yang pernah dilakukan oleh nenek moyang urang Sumedang. 

Tidak ada yang sia sia dalam hidup ini. Yang penting kita bergerak terus, kita berjalan terus, kita berusaha terus, karena berbagai peluang sangat terbuka di masa depan bagi orang orang bergerak / dinamis.

Adeng Lukmantara
Peminat Studi Peradaban Sunda dan Islam
Asal Hariang-Sumedang



SUMEDANG DAN PENGARUHNYA DALAM PERADABAN SUNDA 


Dalam peradaban Sunda terakhir, karena Sumedang merupakan pewaris tahta Pajajaran, seolah Sumedang telah memberikan pengaruh pada wilayah wilayah yang dulu merupakan wiilayah kekuasaan nya. Penguasa penguasa wilayah di bekas daerah kekuasaannya masih ada sangkut pautnya dengan pusaran kekuasaan Sumedang, baik anak cucu atau menantu.


1. DAERAH BANDUNG

Setelah era Pajajaran Bandung  merupakan wilayah kerajaan Sumedang Larang, pada awalnya merupakan daerah tatar ukur, tetapi kemudian menjadi kabupaten tersendiri dengan nama Bandung.


a.Adipati Ukur, Bupati Wedana ketiga Sumedang Larang, Menantu Prabu Geusan Ulun

Daerah Bandung dulu merupakan daerah tatar Ukur. Salah satu penguasa tatar Ukur, yaitu Adipati Ukur. Ia menikah dengan salah seorang putri Prabu Geusan Ulun. 

Ketika Pangeran Rangga Gede yang merupakan bupati wedana Sumedang Larang ditahan Mataram, maka Adipati Ukur kemudian diangkat menjadi bupati wedana Sumedang larang oleh Sultan Agung.

b. RA Martanegara, bupati Bandung, menantu Pangeran Sugih

Raden Adipati Martanegara  merupakan  Bupati Bandung yang berkuasa dari tahun 1894 hingga tahun  1919. Ia merupakan menantu dari Pangeran Sugih, bupati Sumedang. Istrinya bernama NRA Sangkaningrat merupakan putri bungsu pangeran sugih dari istrinya NRA Rajapomerat..

Ny. RA Rajapomerat sendiri merupakan putri dari  RA Wiranatakusumah III, karang Anyar Bandung. . NRA Sangkaningrat  merupakan anak terakhir seibu (bungsu) dari 8 bersaudara, yaitu: N.R.A. Radjaningrat (bersuami R.A.A. Wiratanudatar, Bupati Cianjur), NR. Hendranagara,, Rd. Oemoer, Rd. Moestambi, Rd. Rangga Soerialaga, NR. Radjapermas, Rd. Somadiningrat, NRA. Sangkaningrat, 


2. DAERAH BOGOR

Setelah era Pajajaran wilayah bogor kemudian menjadi wilayah kerajaan Sumedang Larang. Di era Pajajaran, Bogor diyakini merupakan tempatnya ibukota Pakuan pajajaran berada. Tetapi ketika ibukota Pakuan jatuh dan hancur, seolah bekas ibukota itu hilang ditelan bumi, karena disamping hancur juga ditinggalkan oleh penduduknya.

Yang dianggap berjasa dalam membuka lagi bekas ibukota Pakuan Pajajaran, yang kemudian dsekarang dinamakan bogor, adalah seorang bangsawan Sumedang yang bernama Tanuwijaya atau dalam cerita pantu atau lagu bernama Ki Mas Tanu. Ki Mas tanu itni terkenal karena disebut dalam sebuah lagu yang berawal ayang ayang gung. Ia merupakan seorang tentara  berpangkat letnan.Tanuwijaya ini diperintah oleh kompeni belanda  untuk membabad hutan Pajajaran. Dibekas ibukota tersebut ia kemudian mendirikan kampung  cipinang (jatinegara jakarta) dan kampung kampung yang merupakan cikal bakal kabupaten bogor, yaituParakan Panjang, Parung Kujang, Panaragan, Bantar jati, sempur, Baranang Siang, Parung Banteng dan Cimahpar.

Tetapi pembabatan hutan tidak berlanjut, ia menghormati peninggalan Pajajaran, sehingga dihentikan disisi utara sungai Ciliwung.

Konon Ki Mas Tanu itu awalnya seorang letnan yang sangat kejam terutama dalam menghadapi pemberontakan Haji Prawatasari dari Jampang, sehingga timbul lagu Ayang Ayanggung. Tapi kemudian ia bekerja sama dengan Haji Prawatasari, melawan VOC. Tetapi kalah, dan akhirnya Tanuwijaya dibuang ke Afrika Selatan (tanjung Harapan).

3. DAERAH KARAWANG

Setelah era Pajajaran daerah Karawang merupakan wilayah kerajaan Sumedang Larang. Bupati pertama Karawang, Singaperbangsa merupakan turunan dari raja Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun..

a. R.A. Singaperbanga, Bupati Karawang Pertama (mp.1633-1677 M)

Raden Adipati Singaperbangsa merupakan turunan dari Prabu Geusan Ulun, raja Sumedang Larang, dari putranya yang bernama Pangeran Rangga Permana. (Tentang Pangeran Rangga Permana ini apakah sama dengan nama Pangeran atau Kiai Rangga Patra Kelana?, datanya masih dalam pencarian).

Pangeran Rangga permana ini menikah dengan Ny. Tanduran Ageung putri raja Ciptaning Sanghiang  putra Ranggamantri / Parunggangsa, raja terakhir Talaga. Pangeran Rangga Permana mendirikan kerajaan Galuh Kertabumi (Raja galuh Kertabumi 1585-1602 M). Pangeran rangga Permana mendapat wilayah kekuasaan dari mertuanya meliputi wilayah sebelah timur alun alun ciamis sekarang, meliputi  kecamatan ciamis, sijeunjing (bojong), Rancah, Banjar sampai ke daerah selatan.

Dari Perkawinan Pangeran Rangga Permana (dengan gelar Prabu Di Muntur) dengan Ny Tanduran Ageung, ia mempunyai anak:

a. Maraja Cipta (Adipati Kertabumi II), yang merupakan mertua adipati Panaekan, bupati nagara tengah.
b. R.Kanduruan Singaperbangsa (Adipati Kertabumi III)

Singa Perbangsa merupakan anak dari Wira Perbangsa. atau Adipati Kertabumi III, penguasa suatu wilayah di daerah Galuh (Ciamis).. Ayahnya Adipati Kertabumi berhasil mengusir Pangeran Nagaragan dari Banten yang sebelumnya menguasai Karawang. Atas keberhasilan tersebut, maka Adipati Kertabumi III kemudian diangkat menjadi bupati Karawang. Tetapi karena ia meninggal dunia jabatan bupati kemudian diberikan kepada anaknya, Singa Perbangsa yang kemudianmendapat gelar Adipati Kertabumi IV.


4. DAERAH JAKARTA DAN BEKASI


Seperti diungkap dalam sejarah bogor, bahwa Ki Mas Tanu atau R. Tanuwijaya seorang bangsawan dari Sumedang, yang berpangkat letnan (kompeni).   Tanuwijaya disuruh oleh kompeni belanda untuk membabad hutan bekas ibukota Pajajaran, dan ia dengan pasukannya  mendirikan kampung kampung di hutan Pajajaran tersebut, diantaranya Cipinang Jatinegara.

5. DAERAH SUBANG

Setelah era Pajajaran Subang merupakan wilayah kerajaan Sumedang Larang...

a. Daerah Pagaden / Pamanukan 

Daerah Pagaden Subang sekarang erat kaitannya dengan kiprah para bangsawan Sumedang. Yang pertama kali membuka lahan daerah ini adalah Santoan Wirakusumah, yang merupakan anak dari Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun, atau adik dari Prabu Geusan Ulun. Santoan Wirakusumah  mempunyai seorang anak yang bernama R, Anggawangsa. Keturunan Santoan Wirakusumahini beranak pinak di Pagaden

Dan Bangsawan generasi kedua yang paling berpengaruh  yang datang ke Pagadden dan bertempat tinggal disana adalah Raden Rangga Nitinagara, Ia kemudian  beranak pinak di Pagaden dan Pamanukan. Raden rangga Nitinagara adalah anak dari Prabu Geusan Ulun dari istrinya Nyi Mas Gedeng Waru, dan merupakan adik dari Pngeran Rangga Gede.

Raden Rangga Nitinagara atau Dalem Rangga Nitinagara, melahirkan keturunan ke Pagaden Pamanukan Subang. Karena itu Raden Rangga Nitinagara selalu dikaitkan dengan nama Pagaden
Ia mempunyai 5 orang anak, yaitu:
  • Dalem Panengah atau Dalem Rangga Panengah .
  • Dalem Jayapuspa 
  • Kiai Parayasuta atau Dalem Nayapuspa.
  • R. Anggapuspa .
  • NM. Gempler atau NR Gemblek 
a.1. Dalem Panengah 

Dalem Panengah atau Dalem Rangga Panengah  menikah dengan NR Embah Nyai atau NR Timbanganten, dan mempunyai 14 anak: 
  • NRA. Sepoeh . 
  •  Dlm. Wangsatanoe ., I . 
  •  Rd. Dipakoesoemah . 
  •  Rd. Sastra . 
  •  Rd. Anggaredja . 
  • NR. Mantri . 
  •  Rd. Adinagara . 
  •  NM. Nakilah . 
  • Kiai Djawirja . 
  • Kiai Poespawirija . 
  • Kiai Anggadidjaja . 
  • NM. Arsa . 
  •  NM. Moelja . 
  •  Kiai Dipanata 
a.2. Dalem Jayapuspa 
Ia mempunyai satu orang anak yang bernama: Dalem Cilandak


a,3, Kiai Parayasuta atau Dalem Nayapuspa.
Ia mempunyai 5 orang anak, yaitu:
  • Dlm. Istri Garwa Dlm Pnb Pegaden . 
  •  Rd. Najakoesoemah . 
  •  Rd. Wirakoesoekah . 
  • Rd. Wiradikoesoemah . 
  • NR. Bandoeng . 
a.4.R. Anggapuspa .


a.5. NM. Gempler atau NR Gemblek 


6. DAERAH GARUT 

Daerah Garut setelah era Pajajaran kemudian masuk wilayah Kerajaan Sumedang Larang. Karena itu pengaruh Sumedang sangat besar dalam perkembangan daerah ini. Diantara bupati pertama garut adalah turunan dari Pangeran Sugih, buati Sumedang. 

a.. Dalem Adipati Adiwijaya, Bupati Kabupaten Garut pertama (mp. 1813-1831 M), Putra Pangeran Kornel

Daleum Adipati Adiwijaya atau Raden Tumenggung Adipati Adiwijaya merupakan bupati kabupaten Garut pertama (dulu kabupaten Limbangan). Setelah meninggal ia dimakamkan di Cipeujeuh, sehingga kemudian dikenal juga dengan nama Daleum Cipeujeuh.

Daleum Adipati Adiwijaya menjabat sebagai bupati Garut (Limbangan) dari tahun 1813 hingga meninggalnya tahun 1831 M. Pada tanggal 16 Februari 1813 Gubernur Jendral Hindia Belanda Thomas Stamford Raffles mengeleluarkan putusan membubarkan kabupaten parakan Muncang dan menghidupkan lagi kabupaten Balubur Limbangan yang menjadi cikal bakal kabupaten Garut. Dan tanggal 16 Februari ini dijadikan hari jadi kabupaten garut. Dan Dalem Adipati Adiwijaya yang menjadi bupatinya.

Dalem Adipati Adiwijaya merupakan anak pertama dari Pangeran Kornel (bupati Sumedang) dari istrinya yang bernama Raden Ayu Lenggakusumah. Ia merupakan anak pertama dari 4 bersaudara, yaitu: Dalem Adipati Adiwidjaja, Dalem Adipati Ageung Kusumayuda (menjadi bupati sumedang), RA. Radjaningrat dan RA. Radjanagara. Daleum adipati Adiwijaya menikah dengan Raden Ajeng Siti Ningrum (makamnya juga di Cipeujeuh).

Ayahnya, Pangeran Kornel atau Pangeran Kusumah dinata IX bin Adipati Surialaga merupakan bupati Sumedang yang berkuasa dari tahun 1791 hingga 1828. Sedang kakeknya Pangeran Adipati Surialaga merupakan bupati Sumedang dari tahun 1765 hingga 1773.

Dalem Adipati Adiwidjaja  mempunyai 9 orang anak, yaitu:

  • RAA. Dalem Alit Kusumahdinata, yang nantinya menggantikan pamannya, Dalem Adipati Ageung Kusumah Yuda menjadi bupati Sumedang berikutnya.
  • Dmg. Adiwidjaja 
  • Rd. Adikoesoemah 
  • Rd. Soeriabrata 
  • Rd. Hasim 
  • NR. Lenggangmantri 
  • NR. Banonagara 
  • Rd. Koesoemamantri 
  • NR. Radjapoetri

b.RAA Kusumadinata (mp. 1831-1833 M), bupati Garut ke-2, dan seterusnya

Setelah RAA Adiwijaya meninggal tahta bupati jatuh ke anaknya RAA Kusumahdinata. Karena menjadi bupati Sumedang  kemudian jabatan bupati (bupati garut ke-3) jatuh ke menantu RAA Kusumahdinata yang bernama Tumenggung Jayadiningrat (mp. 1833-1871).

Bupati ke-4 garut masih merupakan kerabatnya yang bernama RAA Wiratanudatar (1871-1915), kemudian bupati ke-5, merupakan keponakannya yang bernama Adipati Sria Kartalegawa (mp. 1915-1929), bupati ke-6 merupakan anaknya bupati ke-5, yang bernama Adipati Moh Musa Suria Kartalegawa (mp.1929-1944).



7. DAERAH CIANJUR

a. RAA Wiratanudatar, bupati Cianjur, menantu Pangeran Sugih 

RAA Wiratanu Datar merupakan bupati Cianjur. Ia merupakan menantu Pangeran Sugih, bupati Sumedang. Istrinya bernama Ny. Raden Ayu Rajaningrat.

NRA Rajaningrat merupakan putri pertama Pangeran Sugih, bupati Sumedang dari istrinya Ny. RA Rajapomerat (putri RA Wiranatakusumah III, karang Anyar Bandung). Ia merupakan anak pertama  seibu (bungsu) dari 8 bersaudara, yaitu: N.R.A. Radjaningrat, NR. Hendranagara,, Rd. Oemoer, Rd. Moestambi, Rd. Rangga Soerialaga, NR. Radjapermas, Rd. Somadiningrat, NRA. Sangkaningrat (istri Raden Adipati Martanegara, Bupati Bandung (1894 – 1919)).


8. DAERAH TASIKMALAYA

a. RAA Wiradegdaha, Bupati Sukapura (Tasikmalaya), menantu Pangeran Sugih.

RAA Wiradegdaha bupati Sukapura (Tasikmalaya), merupakan menantu dari Pangeran Sugih, bupati Sumedang.

Istri RAA Wiradegdaha yang bernama Ny. Raden Ayu Rajaretnadi, merupakan putri dari Pangeran Sugih dari istrinya Nyi.R.A. Ratnaningrat.  Ny. Raden Ayu Rajaretnadi kemudian menikah dengan R.A.A Wiradegdaha, Bupati Sukapura dalem Bogor

NRA Rajaretnadi merupakan anak pertama (seibu) dari 5 bersaudara, yaitu: NRA. Radjaretnadi, Pangeran Mekah Soeriaatmadja (Bupati Sumedang tahun 1882 –1919), NR. Radjapermana, NR. Banoningrat, Rd. Soemawilaga 


9. DAERAH SUKABUMI

a. RAA Suria Natabrata, bupati Sukabumi pertama (mp. 1921-1930 M), Putra Pangeran Sugih.

RAA Surianatabrata merupakan bupati kabupaten Sukabumi pertama yang berkuasa dari tahun 1921 hingga 1930 M. Pada awalnya ia menjadi patih di kepatihan Sukabumi yang termasuk kabupaten Cianjur. Kabupaten Sukabumi berdiri pada tanggal 25 April 1921 berdasarkan besluit (keputusan) Gubernur Jendral Dirk Fock.

Ia merupakan putra dari Pangeran Sugih, bupati Sumedang dengan istrinya NRA Mustikaningrat (putri RAA Kusumadiningrat, bupati galuh (ciamis)). Ia meruapakan anak ke 8 (seibu) dari 14 bersaudara: NR. Emas, NR. Radjakomala, Rd. Pandji Soeriakoesoemah, Rd. Soemintraatmadja, NRA Lasminingrat (bersuami R.A.A. Bratamidjaja, Bupati Kuningan), NRA. Moertiningrat, Rd. Widjajasoeria, RAA. Soerianatabrata (menjadi  bupati Sukabumi), Rd. Gandakoesoemah, Rd. Koesoemajoeda, NRA. Kantjananingrat (bersuami Raden Tumenggung Adipati Sastrawinata, Bupati Ciamis), Rd. Soeriagoenawan, RAA. Dlm. Bintang Koesoemadilaga (BupatiSumedang tahun  19-19 – 1937), Rd. Goerdi Koesoemawinata.

b. RAA Suria Danuningrat, bupati Sukabumi ke-2 (mp. 1930-1942), cucu Pangeran Sugih

RAA Suria Danuningrat merupakan bupati Sukabumi kedua, yang berkuasa dari tahun 1930 hingga 1942. Ia dikenal juga dengan nama Daleum Geulung.

RAA Suria Danuningrat merupakan keponakan dari bupati Sukabumi sebelumnya, RAA Suria Natabrata. Ia merupakan anak dari R. Panji Suriakusumah, kakak dari RAA Suria Natabrata anak dari Pangerang Sugih. Dengan demikian RAA Suria Danuningrat merupakan cucu dari Pangeran Sugih.




10. BREBES JAWA TENGAH

Sebagian wilayah brebes bagian barat dulunya merupakan wilayah Pajajaran. Sungai Cipamali atau sungai brebes sekarang dianggap merupakan perbatasan tradisional dengan kekuasaan di Jawa. Dan setelah Pajajaran jatuh wilayah ini sebagian juga masuk wilayah kerajaan Sumedang Larang.

Penguasa Brebes atau Bupati  brebes yang ada kaitannya dengan Sumedang merupakan turunan Sumedang adalah Kanjeng Adipati Arya Singasari Panatayuda !, yang merupakan turunan Prabu Geusan Ulun melalui Singaperbangsa karawang.

Pada awalnya Kanjeng Adipati Arya Singasari Panatayuda I merupakan bupati karawang, yang diangkat menjadi bupati Brebes Jawa Tengah, yang berkuasa dari tahun 1809-1839. Kemudian dilanjutkan oleh anakna Kanjeng Adipati Singasari Panatayuda II, yang berkuasa dari tahun 1836-1856 M. Dan diteruskan oleh cucunya, Kanjeng Adipati Panatayuda III yang berkuasa dari tahun 1856 hingga 1876.


(Lanjutttttttttt)





a.1.3. Ny. R.A Mustikaningrat
Ny Raden Ayu Mustikaningrat, putri R.A.A. Kusumadiningrat, bupati Galuh (Ciamis). Darinya ia mempunyai 14 orang anak, yaitu: 

  • NR. Emas, 
  • NR. Radjakomala, 
  • Rd. Pandji Soeriakoesoemah, 
  • Rd. Soemintraatmadja, 
  • NRA. Lasminingrat, Nyi. Raden. Ayu Lasminingrat bersuami R.A.A. Bratamidjaja, Bupati Kuningan.
  • NRA. Moertiningrat, 
  • Rd. Widjajasoeria, 
  • RAA. Soerianatabrata , menjadi  bupati Sukabumi.
  • Rd. Gandakoesoemah, 
  • Rd. Koesoemajoeda, 
  • NRA. Kantjananingrat, Nyi. Rd. Ayu Kancananingrat, bersuami Raden Tumenggung Adipati Sastrawinata, Bupati Ciamis.
  • Rd. Soeriagoenawan, 
  • RAA. Dlm. Bintang Koesoemadilaga, Rd. Adipati arya Kusumadilaga, BupatiSumedang tahun  19-19 – 1937
  • Rd. Goerdi Koesoemawinata