Laman

Sabtu, 24 Februari 2018

SUMEDANG, SEJARAH DAN SILSILAH III



Oleh:
Adeng Lukmantara
Peminat Studi Peradaban Sunda dan Islam

Pengantar

Tulisan ini merupakan sejarah lanjutan dari tulisan yang sebelumnya tentang sejarah Sumedang yang diberi judul Sumedang, Sejarah dan Silsilah. Penamaan dengan menggunakan angka I, II dan seterusnya  merupakan suatu upaya untuk mempermudah penyimpanan file.

Jika Sumedang, Sejarah dan Silsilah I membahas tentang Sumedang Era Klasik atau  bisa disebut dengan nama Medang Kahiyangan, Sumedang , Sejarah dan Silsilah II membahas tentang Sumedang era Islam atau disebut dengan Era Sumedang Larang. Sumedang, Sejarah dan Silsilah III bercerita sejarah Sumedang di era Kolonial Mataram, dst


SUMEDANG ERA KABUPATIAN KAWEDANAAN

1. Pangeran Rangga Gempol I
Pangeran Rangga Gempol I  atau Pangeran Suriadiwangsa berkuasa di kerjaan Sumedang Larang pada tahun 1601 M (ada yang mengatakan tahun 1603 atau 1610 M) hingga 1925 M. Pada awlanya ia berkuasa di era keprabuan yang independen, tetapi pada tahun 1620 M menjadi bawahan Mataram.
Nama aslinya adalah Pangeran Suriadiwangsa dan bergelar Rangga Gempol I dan  bergelar juga Pangeran Kusumah Dinata III. Pangeran Rangga Gempol I merupakan putra Geusan Ulun dari istrinya Ratu Harisbaya. Ia menggantikan ayahnya, Prabu Geusan Ulun yang meninggal dunia,  menjadi raja Sumedang Larang pada tahun 1610 M. Dan setelah menjadi penguasa Sumedang ia kemudian memakai gelar Kusumah Dinata III.
Pada masa Pangeran Rangga Gempol I membuat kebijakan yang menjadi  malapetaka yang besar, yaitu suatu kebijakan yang dianggap titik balik dalam peradaban Sumedang waktu itu, dengan mengambil suatu kebijakan menjadi bawahan Mataram.  Karena komplik yang berkepanjangan dengan Banten dan juga Cirebon, malah membuat kebijakan yang patal dalam peradaban Sumedang. Karena bukan hanya egaliterisme Sumedang yang hilang, tetapi juga ia dituntut untuk berbakti kepada tuan yang baru-nya. Jadi kebijakannya tidak hanya menghilangkan kehormatan tetapi juga ia sendiri terjebak harus menjadi bagian yang diatur oleh tuannya. Jadi kekuasaan tidak bisa dinikmati bahkan ia  sendiri harus rela menjadi bagian dari penaklukan Sampang  Madura,.

a..Komplik antar Satu keturunan
Komplik yang berkepanjangan antara Sumedang Larang dengan Cirebon dan juga dengan Banten menyebabkan pasukan Sumedang seolah berada dalam kelelahan. Dan hal itu ditambah dengan ekspansi Mataram ke wilayah barat seolah menjadikan sumedang terjepit dalam tiga kekuatan besar. Di barat harus waspada terhadap kesultanan Banten yang ekspansif. Sedang di utara harus menghadapi pemisahan wilayah wilayah yang didukung oleh Cirebon, Sedang di timur ekspansi Mataram sedang siap siap menyerang Sumedang.
Jika dalam tradisi kerajaan Sunda klasik komplik antar negara selalu dihindari, dan yang menjadi alternatif pemecahan adalah dengan perkawinan antar bangsawan kerajaan. Hal ini seperti yang dilakukan oleh kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh, yang seolah telah menjadi kerajaan kembar, atau dengan Saunggalah / Galunggung, yang satu sama lain menghargai eksistensi masing masing, Dan jika ada komplik selalu diselesaikan dengan perkawinan antar kerajaan.
Tidak halnya dengan kerajaan Cirebon, kesultanan Banten dan Sumedang Larang. Padahal dari keturunan yang sama, mereka seolah saling bersaing. Sehingga melupakan musuh mana yang sebenarnya harus di hadapi. Mereka belum mempunyai suatu komunikasi yang setara dalam menyelesaikan komplik yang ada. Jika dalam tradisi sunda klasik, perseteruan selalu diselesaikan dengan menjadikan keluarga. Sehingga peradaban Sunda klasik dikenal sebagai peradaban yang plaing stabil di nusantara.
Kesultanan Cirebon, kesultanan Banten dan juga Sumedang Larang seolah tidak mempunyai keinginan untuk menyelesaikan masalah dengan dada terbuka. Akhirnya ketiga kerajaan itu hanya bertahan sesaat. Karena para keturunan yang sama melupakan suatu prinsip yang dibangun ratusan tahun, yaitu kekeluargaan, dengan tetap  mempertahankan independensinya masing masing.
Karena itu ketika ada ekspansi mataram ke barat, seolah disambut oleh pihak Sumedang untuk menyelelamatkan dari ketertekanan tersebut. Suatu keputusan yang sangat patal bagi generasi berikutnya. Egaliterisme Sumedang digadaikan kepada sistem feodalistik yang terpusat. Meskipun secara de facto sulit bagi Mataram untuk mengatur bekas kerajaan Sumedang Larang tersebut. Dan dalam sejarahpun Mataram sangat sulit untuk menjadikan wilayah Sumedang menjadi  bawahan yang taat.
Keputusan dari dari Rangga Gempol ini bukan hanya merugikan bagi Sumedang itu sendiri, tetapi juga Banten. Karena Banten nantinya harus berjuang sendirian dalam mengahadapi kolnial belanda.Termasuk Cirebon, yang seolah kehilangan pengaruh. Meskipun secara tradsi kesultanan Cirebon tetap dipertahankan. Tetapi pengaruhnya sudah tidak terlalu besar. Sumedang kehilangan egaliterisme, Cirebon kehilangan pengaruh, dan banten meskipun bebas dari pengaruh Mataram justru dia juga tergopoh gopoh dalam  menghadapi kolonial Belanda sendirian.. Cirebon sebagai kerajan Islam di tatar Sunda, meskipun peradaban Islam awalnya terpusat di Cirebon, karena baik Banten dan juga Sumedang (syekh datuk kahfi nenek moyang sumedang larang  berasal dari Cirebon), dari keturunan yang sama. Justru tidak menjadi leader dalam peradaban Islam di tatar sunda.
Kurangnya penguasaan dalam tradisi sunda membawa Cirebon tidak begitu berkembang dan hanya berkutik di sekitar cirebon itu sendiri. Sedang Banten yang kurang akomadtif dan lebih bersifat komprontatif menjadikan mereka susah dalam memperluas kekuasaanya. Seperti halnya Cirebon, banten juga sepertinya telah pada posisi titik jenuh dalam perluasan kekuasaan. Sedang Sumedang karena berada di posisi tengah, merasa terancam dari kekuatan 2 kesultanan tersebut. Karena satu sama lain saling bersaing. Sehingga karena ketertekanan ini, maka sumedang larang malah meminta bantuan terhadap Mataram. Yang mungkin menurutnya karena pusat kekuasaan yang jauh, menjadikan kontrol mereka terhadap Sumedang Larang juga tidak terlalu dominan. Tetapi mereka akan aman dari serangan dari kedua negara tetangga tersebut.
Tragis memang. Karena egoisme yang berlebihan membuat satu keturunan justru terjebak pada keterpurukan yang sama. Satu sama lain tidak punya keinginan yang sama dalam memecahkan permaslahan.  Karena tradisi yang dibangun oleh nenek moyang tidak pernah menjadi dasar dalam memecahkan permasalahan.

b.. Peralihan Dari Keprabuan ke Kabupatian-Kewedanaan
Setelah kebijakan yang salah dari Pangeran Rangga Gempol 1, maka pada tahun 1620 M, Sumedang Larang berubah dari Keprabuan (kerajaan) menjadi kabupatiank-kewedanaan. Ia sendiri turun jabatan dari raja menjadi bupati-wedana.
Pangeran Rangga Gempol I merupakan putra dari Prameswari Harisbaya, yang berasal dari Pajang, yang mempunyai kedekatan silsilah dengan raja raja Mataram. Pangeran Rangga Gempol I yang awalnya seorang raja berubah menjadi Bupati wedana. Dan nama sumedang Larang kemudian dikenal dengan nama Priangan. sedangkan kabupatian Sumedang dipegang oleh adiknya, Rangga Gede, putra Geusan Ulun dari istrinya Nyi Mas Gedeng Waru. Sedang bupati wedana jatuh ke tangan adik iparnya, Adipati Ukur. Kebijakan yang salah menyebabkan turun harga diri, dan ia sendiri tidak menikmati masa jabatannya, karena harus ikut serta dalam penyerangan ke Madura.

Pemindahan Ibukota
Pada masa pemerintahan  Rangga Gempol I, ia memindahkan ibukota dari Dayeuh Luhur  ke Tegal Kalong. Sedang, adiknya, Pangeran Rangga Gede berkuasa di Canukur. Jadi pada masa Rangga Gempol I. Terdapat 2 pemerintahan, yaitu kabupatian-kwedanaan yang merupakan eks kerajaan Sumedang Larang, yang dipimpin oleh Rangga Gempol I, yang luasnya tidak hanya wilayah Sumedang sekarang, tetapi meliputi: Sumedang, Bandung, Parakanmncang, dan sukapura (tasikmalaya). Karawang, indramayu, Pamanukan dan Ciasem.  Dan wilayah wilayah yang termasuk  Cianjur, Sukabumi dan Bogor waktu itu belum ada, masuk pada wilayah sumedang, perbatasannya sungai cisadane.
Oleh Mataram wilayah bekas Sumedang Larang kemudian dikenal dengan nama priangan atau parahiyangan. Karena Sumedang merupakan wilayah Galuh yang masih eksis. Dimana raja raja yang berasal dari Galuh dan sunda sering disebut dengan Rahiyang. 

c.. Wilayah Kekuasaan
Pada masa Pangeran Rangga Gempol I ini ada beberapa wilayah yang mencoba melepaskan diri dari wilayah Sumedang larang yang didukung Cirebon , yaitu Karawang, Ciasem, Pamanukan dan Indramayu.. Sehingga wilayah wilayah Sumeeang Larang di era Rangga Gempol I meliputi daerah Parakanmuncang, Bandung, Sukapura (Tasikmalaya).
Pada masa Rangga Gempol I terdapat 2 kekuasaan yaitu kekuasaan eks Kerajaan Sumedang larang yang dipinpin oleg Rangga Gempol I dengan ibukota Tegal Kalong, dan ia menjadi bupati wedana pertama dari tahun1620 hingga 1625 M. . Sedang di kabupatia Sumedang dipegang oleh saudara lain ibu, Pangeran rangga Gede, yang berikbukota di Parumasan kecamatan Conggeang Sumedang sekarang.
Setelah Rangga Gempol ikut dalam peperangan ke Madura, bupati wedana jatuh kepada Rangga Gede. Dan pada masa rangga gede ini Sumedang disatukan kembali.

d.. Ikut Dalam Penaklukan Sampang Madura
Tidak diceritakan secara terperinci tentang keberangkatan Pangeran Rangga Gempol I dalam penyerangan ke Madura. Dan Rangga Gempol sendiri tidak pernah kembali ke Sumedang, Dan ia meninggal di Mataram, daerah Lempuyangan.
Pada tahun 1614 M Sultan Agung menggemukakan pengakuan atas seluruh wilayah jawa barat kecuali Banten dan Cirebon kepada VOC. Dan pada tahun 1624 Rangga Gempol I diminta suktan Agung untuk membantu penaklukan Sampang Madura. Dan jabatan bupati sumedang sementara dipegang oleh Pangeran Rangga Gede.
Dalam satu versi dikisahkan bahwa karean Pangeran Rangga Gempol I merupakan anak dari Ratu Harrisbaya yang merupakan putri keturunan Madura. Maka tidak terjadi peperangan antara Mtaram dengan Madura (sampang) tapi melalui perundingan.

d.. Turunan Rangga Gempol I
Rangga Gempol I mempunyai 5 orang anak, yaitu : R.Kartajiwa, R.Mangunrana, R. Tampangkil, Nyi R. Sumalintang, Nyi R. Nustawijah.

d.1. Raden Kartajiwa

Raden Kartajiwa merupakan anak pertama dari Pangeran Rangga Gempol I. Ketika ayahnya meninggal pada tahun 1624 M, Penguasa Mataram kemudian mengangkat Rangga Gede sebagai Bupati Wedana Sumedang Larang. Karena itu ia kemudian pergi ke Banten.
Sebagai anak pertama dari Rangga Gempol I, R Kartajiwa di era Rangga Gede berkuasa meminta haknya menjadi raja Sumedang, karena ayahnya. Tetapi Rangga Gede menolaknya, dan terjadi serangan dari banten ke Sumedang di era Pangeran Rangga Gede. Dan serangan terbesar banten ke sumedang bukan di era Rangga Gede tetapi di era Sumedang diperintah oleh cucunya, Pangeran Panembahan (mp. 1656-1706 M)
Karena  Rangga Gede kemudian dijadikan pengganti ayahnya, kemudian R Kartajiwa pergi ke Banten, untuk meminta bantuan penguasa Banten untuk merebut kekuasaan dari Rangga Gede. Dan ia sendiri kemudian menyebut dirinya dengan gelar Suriadiwangsa II.

d.2. R.Mangunrana,

d.3. R. Tampangkil,

d.4. N.R. Sumalintang,
Nyi Raden Sumalintang atau dikenal juga dengan nama Nyi Raden Ayu Mayar atau dikenal juga dengan nama  RA Sudarsah menikah dengan Pangeran Kusumadiningrat atau Pgn Koesoema Diningrat dari Sukapura.
Dari perkawinannya, ia mempunyai 5 orang anak, yaitu:
  • Sareupeun Manangel
  • Sareupeun Cibeli
  • Sareupeun Cihaurbeuti
  •  Sareupeun Dawagung
  •  Sareupeun Cibuni Agung
d.4.1. Sareupeun Cibuni Agung
Sareupeun Cibuni Agung mempunyai anak:
·         Dalem Wiraha,
Dalem Wiraha ini mempunyai 5 orang anak, yaitu:
ü  R. Wirawangsa atau R. Tumenggung Wiradadaha I
ü  R. Astrawangsa
ü  R. Narahita
ü  R. Pranawangsa
ü  R. Bagus Halipah
·         Nyai Ageung
Nyai Ageung mempunyai 7 orang anak:
ü  NR Gede
ü  R. Astakerti
ü  R. Wasta
ü  R. Mangun
ü  R. Sanggana
ü  NR. Ngawa
ü  NR Purwana
* Tentang Sejarah  Pangeran Kusumadiningrat bisa dibaca dari buku “Sejarah Babon Luluhur Sukapura” yang disusun oleh R. Sulaeman Anggapraja, sesepuh KWS (kumpulan Wargi Sukapura), cabang Garut,

d.5. Nyi R. Nustawijah.


 2.. Pangeran Rangga Gede (mp. 1625 – 1633 m)

Pangeran rangga Gede menjadi bupati wedana sumedang dari tahun 1625 hingga tahun 1633 M. Pada awalnya ia hanya menguasai Sumedang saja tetapi kemudian berkuasa menjadi bupati wedana terhadap eks Sumedang Larng dari tahun 1625 hingga tahun 1633 M.

Silsilah
Pangeran Rangga Gede merupakan putra pertama Prabu Geusan Ulun dari sitri pertamanya Nyi Mas Gedeng Waru.

Makam
Makamnya berada di daerah Panday kelurahan Talun, Kabupaten Sumedang.

Keturunan Pangeran Rangga Gede

Tentang istri istri Pangeran Rangga Gede, tidak diungkapkan dalam buku silsilah Pangeran Kusumah Dinata (pangeran Santri). 

Ada buku yang menceritakan tentang istri istrinya*,  yaitu Nyi Mas Romlah yang merupakan putri Arasauda dari istrinya NM Ngabehi Martaayuda. Dan yang kedua istrinya Nyi Mas Asidah (Entin) putra dari Sutra Bandera (sastra Pura Kusumah) dari istrinya Nyi Mas Hatimah (Nyi Mas Sumaenah) putri dari Prabu Nusya Mulya. Dan yang ketiga adalah Nyi Mas Roro (kokom Ruhada) putri dari Prabu Nusya Mulya dari istrinya Nyi Mas Euis Oo Imahu.
Tentang nama istrinya dan juga silsilahnya memang masih harus dicarikan sumber pembandingnya dan mengapa tidak diceritakan dalam buku silislah turunan Pangeran Santri. Karena ada silsilah yang mungkin harus dipertanyakan. Yang pertama adalah Nyi Romlah yang dikatakan merupakan anak dari adiknya  Rangga Gede, Nyi Mas Ngabehi Martayuda. Berarti menikah dengan keponakannya. Hal ini aapakah dibenarkan dalam Islam?. Dan yang istri kedua dan ketiga masih keturunan Prabu Nusya Mulya (Panembahan Pulasari), raja Pajajaran terakhir. Apakah rentang waktunya masih relevan. Dan yang berikutnya adalah relevansi anak anaknya dengan Buku Silsilah Pangeran Santri masih banyak yang tidak sama.

Tetapi berikut ini adalah putra dan putri keturunan Pangeran Rangga Gede  yang terdapat dalam buku silsilah keturunan Pangeran Santri, yang menulis bahwa Pangeran Rangga Gede mempunyai 29 anak, yaitu:

  • ·         Dalem Aria Bandayuda 
  • ·         Dalem Djajoeda
  • ·         Dalem Wargaita 
  • ·         Dalem Wangsasoebaja 
  • ·         Raden Bagus Weruh/Dalem Rangga Gempol II
  • ·         Dalem Loerah 
  • ·         R. Singamanggala .
  • ·         Ki Wangsaparamadja .
  • ·         Ki Wiratama .
  • ·         Ki Wangsaparadja .
  • ·         Ki Djasinga .
  • ·         Ki Wangsasabadra .
  • ·         Kiyahi Anggatanoe .
  • ·         Ki Martabaja .
  • ·         NM. Anggadasta .
  • ·         NM. Nataparana .
  • ·         NM. Arjapawenang .
  • ·         NM. Martarana
  • ·         NM. Djagasatroe .
  • ·         NM. Wargakarti .
  • ·         NM. Bajoen .
  • ·         NM. Wangsapatra .
  • ·         NM. Warga Komara .
  • ·         NM. Joedantaka .
  • ·         NM. Toean Soekadana .
  • ·         NM. Oetama .
  • ·         NM. Kawangsa .
  • ·         NM. Wirakarti .
  • ·         NR. Nalawangsa .

2.1. Dalem Aria Bandayuda 
Dalem Aria Bandayuda mempunyai 1 orang anak yang bernama: R. Aria Sacapati. Dan turunannya nanti ada yang menjadi bupati Sumedang ke-12.
Dalem Aria Bandayuda Yang menurunkan a putra-putri Dalam Satjapati I hingga ka Satjapati IV.

2.2. Dalem Jayuda
Dalem Jayuda ini yang menurunkan masyarakat di umbul Serang, Nyalindung dan Cipameungpeuk.
Dalem Jayuda  mempunyai 6 orang anak yaitu:

  • ·         Mas Sandurana . 
  • ·         NM. Gunung . 
  • ·         NM. Kajaksan . 
  • ·         NM. Panggung . 
  • ·         Nyai Hideung . 
  • ·         NM. Tiya . 
2.3.  Dalem Wargaita 
Tidak diceritakan mempunyai anak

2.4. Dalem Wangsasubaya 
yang menurunkan anak cucu di Cisalak cimalaka, regol. Dalem Wangsasubaya mempunyai 2 orang anak:

  • ·         Rd. Wangsakusumah . 
  • ·         NM. Koesoemawidati 
2.5. R. Bagus Weruh/Pangeran  Rangga Gempol II
R. Bagus Weruh menggantikan ayahnya Pangeran Rangga Gede menjadi bupati Sumedang yang ketiga. 
Ia mempunyai 29 anak, yaitu:

  • ·         R. Wirakara . 
  • ·         Pangeran Panembahan Rangga Gempol III Kusumahdinata VI
  • ·         R. Bagus . 
  • ·         R. Wanggamanggala . 
  • ·         R. Tanusuta . 
  • ·         R. Martayuda . 
  • ·         R. Sutaningdita . 
  • ·         Kiai Mugopar . 
  • ·         Kiai Kiras . 
  • ·         Kiai Sutareja . 
  • ·         R. Tanuraga . 
  • ·         R. Ngb. Jiwaparana ., I . 
  • ·         R. Ardoewangsa . 
  • ·         R. Tanoeredja . 
  • ·         R. Wangsasuta . 
  • ·         R. Dipa . 
  • ·         R. Patradipa . 
  • ·         R. Sutabadra . 
  • ·         R. Kusumaarja . 
  • ·         R. Mekas . 
  • ·         R. Ngb. Sedakerti . 
  • ·         R. Ngabeni . 
  • ·         R. Santaparaja . 
  • ·         R. Pani . 
  • ·         NM. Japar . 
  • ·         NM. Arya Pawenang . 
  • ·         NM. Kanten . 
  • ·         NM. Ayumayar atau RA Sudarsah . 
  • ·         NM. Ayu . 
2.6. Dalem Lurah 
Tidak diceritakan mempunyai anak

2.7. R. Singamanggala
Raden Singamanggala yang menurunkan di Kaum Cikoneng. Raden Singamanggala mempunyai 9 orang anak, yaitu:

  • ·         R. Singamanggala II . 
  • ·         Kiai Singadiwangsa . 
  • ·         Kiai Kertamanggala . 
  • ·         Kiai Paranamanggala . 
  • ·         Kiai Wangsakerta . 
  • ·         NM. Adjeng . 
  • ·         NM. Ante . 
  • ·         NM. Baros . 
  • ·         Kiai Abdul Mutolib . 
2.7.1. R. Singamanggala II . 
R. Singamanggala  II  mempunyai 6 orang anak, yaitu:

  • ·         Rd. Singamanggala  III . 
  • ·         Mas Djajakoesoemah . 
  • ·         Kiai Wangsamerta . 
  • ·         Kiai Singamerta . 
  • ·         Kiai Bagoes . 
  • ·         Kiai Wangsakerta . 
2.7.2.Kiai Singadiwangsa . 
2.7.3.Kiai Kertamanggala
2.7.4.Kiai Paranamanggala
2.7.5.Kiai Wangsakerta
 2.7.6.NM. Adjeng . 

2.7.7.NM. Ante . 
    NM. Ante mempunyai anak 14 orang, yaitu . 

  • ·         NM. Ratna . 
  • ·         NM. Radja . 
  • ·         NM. Boender . 
  • ·         NM. Moelja . 
  • ·         Mas Tjandramanggala . 
  • ·         Kiai Soerabaja . 
  • ·         Kiai Soemadipa . 
  • ·         Kiai Moehamad Sajid . 
  • ·         Kiai Poeradiredja . 
  • ·         NM. Sampan . 
  • ·         NM. Moernata . 
  • ·         NM. Ander . 
  • ·         NM. Taroem . 
  • ·         NM. Gender . 
2.7.8.NM. Baros . 

2.7.9.Kiai Abdul Mutolib . 
Kiai Abdoel Moetolib  mempunyai 1 orang anak, yang bernama: Mas Tjandradipa 

2.8. Ki Wangsaparamaja .
Tidak diceritakan mempunyai anak
2.9. Ki Wiratama .
Tidak diceritakan mempunyai anak
2.10. Ki Wangsaparaja .
Tidak diceritakan mempunyai anak
2.11. Ki Jasinga .
Tidak diceritakan mempunyai anak
2.12. Ki Wangsasabadra .
Tidak diceritakan mempunyai anak

2.13. Kiai Anggatanu.
Ia mempunyai 2 anak, yaitu:

  • ·         Mas Anggacitra . 
  • ·         Mas Ma'sang citra . 
2.14. Ki Martabaya .
Tidak diceritakan mempunyai anak

2.15. NM. Anggadasta
 .Raden Anggadasia yang menurunkan keturunan di Cibeureum, Cangkudu Kaum sareng Tomo. Ia mempunyai 5 orang anak, yaitu:

  • ·         Mas Ngb. Anggadasta .
  • ·         Kiai Bagoes Rangin 
  • ·         Mas Anggamerta
  • ·         Mas Anggadinata  
  • ·         Mas Wangsadinata 
2.15.1. Mas Anggadinata
Mas Anggadinata mempunyai anak:

  • ·         Kiai Moekid
  • ·         Mas Anggaderpa
  • ·         Mas Anggadiraksa
  • ·         Mas Najadita
  • ·         NM. Moerdja . 
  • ·         Natamanten . 
2.16. NM. Nataparana .
Tidak diceritakan mempunyai anak
2.17. NM. Aryapawenang .
Ia mempunyai 1 orang anak, yaitu Dlm. Cengkok . 
2.18. NM. Martarana
Tidak diceritakan mempunyai anak
2.19. NM. Jagasatru .
Tidak diceritakan mempunyai anak
2.20. NM. Wargakarti .
Tidak diceritakan mempunyai anak

2.21. NM. Bayun .
Nyi Mas Bayun menikah dengan Raden Wangsawijaya. Wangsa Wijaya dan istrinya mendirikan perkampungan di Hariang. Sehingga dalam silsilah Wangsawijaya sering diikuti dengan nama Hariang.
Dalam sejarah Hariang sendiri dikatakan bahwa Wangsa Wijaya ini adalah anak dari Bupati Bandung pertama, Tumenggung Wirangun Angun.
Perkawinan antara Nyi Mas Bayun dengan Wangsawijaya dalam silsilah  Sumedang  mempunyai 4 orang anak, yaitu:

  • ·         Mas Tarunadiwangsa . 
  • ·         NM. Mayar . 
  • ·         NM. Puna . 
  • ·         NM. Bungsu . 
Sebagai pendiri Hariang (sekarang namanya Desa Hariang kecamatan Buahdua), maka masyarakat Hariang merupakan anak pinak dari Wangsa Wijaya dan Nyi Mas Bayu melalui jalur anak lelakinya, Mas Tarunadiwangsa. Dan keunikan dari masyarakat Hariang adalah tersambungnya silsilah hingga sekarang, karena dicatat antar generasi.
Setetah putranya Tarunadiwangsa dianggap sudah mapan di Hariang, maka Wangsawijaya dan istrinya Nyi Mas Bayun pergi ke Pagaden. Setelah pergi dari Hariang ia tidak pernah kembali, ada yang mengatakan ia meninggal disana. Tetapi ada yang mengatakan bahwa iaa meninggal ketika serangaan banten di Hari raya idul fitra di era Pangeran Rangga Gempol III / Pangeran Panembahan.
Dikatakan juga turunan dari Wangsawijaya dan Nyi Mas Bayun juga terdapat di Bojong Jati, kemungkinan daari anaknya yang perempuan.

2.21.1. Mas Tarunadiwangsa 
Dalam buku sejarah Hariang Mas Tarunadiwangsa hanya disebut mempunyai 2 orang anak yang bernama Wangsadirana dan Paranawijaya. Dan yang menurunkan masyarakat Hariang adalah Wangsadirana, karena Paranawijaya (atau dalam silsilah Sumedang dikatakan dengan nama Tarunadipa) cucunya hilang ketika di Ayun pada pesta Marak di Cikandung bersama para pangeran Sumedang. Dan tempat hilangnya tersebut sampai sekarang bernama Longkeang.
Terdapat perbedaan jumlah anak Tarunadiwangsa dari sejarah Hariang dan sejarah silsilah yang ada di msium sumedang. Dalam silsilah di Sumedang dikatakan bahwa Mas Tarunadiwangsa mempunyai 6 orang anak, yaitu: 

  • ·         Mas Wangsadirana . 
  • ·         Mas Tarunadipa . 
  • ·         Mas Hasan Murka . 
  • ·         Mas Sumadiraksa . 
  • ·         Mas Kelar . 
  • ·         Mas Bungsu . 
2.21.1.1. Mas Wangsadirana . 
Dalam silsilah Sumedang Mas Wangsadirana mempunyai 3 orang anak, yaitu:

  • ·         Mas Wangsadipoera . 
  • ·         Mas Astadiwangsa . 
  • ·         Mas Akung .
Sedang dalam sejarah Hariang, Wangsadirana mempunyai 3 orang anak, yaitu Akung, Nyi Rengka atau Nyi Dompo, dan Buyut Bungsu.

2.21.1.2. Yang lainnya
Untuk anak yang lainnya tidak diceritakan. 
2.22. NM. Wangsapatra .
Tidak diceritakan mempunyai anak
2.23. NM. Warga Komara .
Tidak diceritakan mempunyai anak
2.24. NM. Joedantaka .
Tidak diceritakan anak anaknya
2.25. NM. Toean Soekadana .
Tidak diceritakan mempunyai anak
2.26.  NM. Oetama .
Tidak diceritakan anak anaknya
2.27. NM. Kawangsa .
Tidak diceritakan mempunyai anak
2.28. NM. Wirakarti .
Tidak diceritakan anak anaknya
2.29. NR. Nalawangsa .
Nyi raden Nalawangsa  menikah deangan Raden Ngabehi Natawangsa I. Dan mempunyai 4 orang anak:

  • ·         Rd. Ngb. Natawangsa  II 
  • ·         Mas Kartasara . 
  • ·         Mas Kuan Bagus . 
  • ·         NM. Abdul Bakin . 
3.. Dipati Ukur
Setelah Pangeran Rangga Gede dipenjara oleh pihak Mataram, karena seolah membiarkan Sumedang Larang diserang oleh Banten. Maka kemudian pihak Mataram mengangkat bupati wedana masih dari lingkungan bangsawan Sumedang larang. Mataram mengangkat salah satu menantu Prabu Geusan Ulun, yaitu Adpati Wangsanata, atau dikemudian hari terkenal dengan nama Adipati Ukur, karena ia berasal dari tatar Ukur. Adipati Ukur menikah dengan salah satu putri Prabu Geusan Ulun (raja Sumedang Larang) yang dikenal dengan NM Dipati Ukur.

Silsilah
Dipati Ukur  atau lengkapnya Dipati Ukur Wangsanata, konon merupakan menak asal Purbalingga,. Ia pada awalnya merupakan penguasa wilayah ukur (daerah bandung sekarang), yang waktu itu  dibawah kekuasaan Sumedang Larang. Ia menikah dengan putri dari Prabu Geusan Ulun, yang terkenal dengan nama Nyi Mas Dipati Ukur, sehingga mempunyai pengaruh yang kuat di lingkungan istana Sumedang larang.

Menjadi Bupati Wedana Priangan
Setelah Pangeran Ranggagede dipenjara oleh kerajaan Mataram, karena dianggap  gagal dalam menghadapi serangan dari Banten, maka jabatan bupati wedana Sumedang larang (atau priangan) diberikan kepada saudara iparnya, Adipati Ukur.

Serangan Terhadap Belanda di Batavia
Ketika dipati ukur  menjadi bupati wedana, pada tahun 1628 /1629 M, ia mendapat perintah dari Sultan Agung untuk menyerang Batavia (Jakarta sekarang), yang waktu itu dikuasai Belanda, bersama-sama pasukan Mataram yang dipimpin oleh Tumenggung Bahurekso.
Adipati Ukur membawa 9 umbul (pimpinan daerah) dalam penyerangan ke Batavia tersebut, diantaranya Dari ke-9 umbul tersebut, 3 umbul kemudian menghianatinya dan menjadi antek-antek mataram, yaitu Umbul Sukakerta Ki Wirawangsa, Umbul Cihurbeuti Ki Astamanggala, dan umbul Sindangkasih, Ki Somahita.

Gerakan Pembebasan Dipati Ukur Dari Pengaruh Mataram
 Sebagai bawahan Mataram akhirnya  Dipati Ukur menjalankan perintah Sultan Agung Mataram untuk menyerbu Belanda di Batavia. Serangan pertama dari sultan Agung terhadap VOC mendapat dukungan penuh dari Adipati Ukur, walaupun pada penyerangan tersebut gagal. Pada penyerangan kedua, adiapati ukur  memamfaatkan kesempatan tersebut untuk membebaskan daerah ukur dan Sumedang dari pengaruh Mataram.
Dari 4000 pasukan yang dikerahkan hanya 400 tentara yang kembali. Dari peristiwa itu ia merasa terharu dan kemudian bersumpah untuk tidak mengabdi dan tunduk lagi ke Mataram. Ia ingin membebaskan tanah Ukur dan Sumedang dari kekuasaan Mataram. Ia ‘nyicikeun cai, ngawurkeun leubu, sumpah moal daek  ngawula deui ka Mataram’.
Tetapi Dipati Ukur  kemudian mendapat serangan dari Tumenggung Narapaksa, senapati Sultan Mataram, yang membawa beribu-ribu pasukan untuk melumpuhkan pasukan Dipati Ukur yang tinggal 400-an.  Menghadapi hal demikian, Dipati Ukur kemudian mundur, untuk mengatur strategi dan menunggu di gunung Lumbung. Tentara Mataram banyak yang meninggal ‘ditinggangan’ (Dijatuhi) batu diatas gunung. Perlawanan Dipati Ukur dapat dihentikan setelah Mataram mendapat bantuan dari 3 umbul yang menghianatinya, yaitu: Umbul Sukakerta Ki Wirawangsa, Umbul Cihaurbeuti Ki Astamanggala, Umbul Sindangkasih Ki somahita.
Atas jasa-jasanya terhadap Mataram, ketiga umbul yang menghianati Dipati Ukur tersebut  kemudian diangkat  menjadi mantri agung di tempatnya masing-masing. Ki Astamanggala, Umbul Cihaurbeuti diangkat menjadi  mantri Agung (bupati) Bandung dengan gelar Tumenggung Wirangun angun. Ki Wirawangsa menjadi  bupati Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha. Tanubaya sebagai bupati Parakan Muncang.
Dipati Ukur merupakan simbol dari pembebasan manusia sunda yang justru mendapat penghianatan dari bangsanya sendiri, terutama antek-antek penjajah.  

Suksesi
Setelah pembeontakan Dipati Ukur, maka kekuasaan bupati wedana Sumedang Larang diberikan lagi ke Pangeran Rangga Gede.


4. Pangeran Bagus Weruh (Rangga Gempol II)  (mp. 1633 – 1656)
Setelah wafatnya Rangga Gede digantikan oleh putranya Raden Bagus Weruh setelah menjadi bupati memakai nama Pangeran Rangga Gempol II / Kusumahdinata V (1633 – 1656), Pangeran Rangga Gempol II tidak diangkat menjadi Bupati Wadana tetapi hanya Dipati Sumedang saja.
Pangeran Bagus Weruh lahir pad tahun 1604 M.
Bupati Wadana, sejak Amangkurat I menjadi Sultan Mataram tidak ada lagi, dengan demikian Rangga Gempol II hanya menjadi Bupati Sumedang. Pada tahun 1655 pembagian kabupatian – kabupatian bukanlah pada wilayah kabupatian tetapi cacahnya. Demikian pula batas kekuasaan bukan batas teritorial tetapi batas sosial, tiap kabupaten mendapat + 300 umpi. Sumedang dengan cacah satu perempat dari cacah Sumedang pada masa Rangga Gede. Setelah Rangga Gempol II wafat digantikan oleh putra Pangeran Panembahan l.

Wilayah Kekuasaan
Setelah Rangga Gede mmeninggal pada tahun 1633, jabatan bupati edana jatuh kepada saudara iparnya, Adipati kur. Sedang anak rngga gede, Pangeran Bagus Weruh menjai bupati Sumedang.
Pada tahun 1641 wilayah Sunedang Larang meliputi Pamanukan, Ciasem, Karawang, Sukapura, Limbangan dan Cianjur dibagi menjadi 4 kabupaten, yatu Sumedang, Sukapura, Parakan Muncang dan Bandung.. 
Pada tahun 1645 dibagi lagi menjjadi 12 Ajeg (setarap kabupaten), yaitu: Sumedang, Parakanmuncang, bandung, Sukapura, Karawang, Imbanagara, Wirabaya, Kawasem, Sakace, Bayumas, Ayah dan Banjar. Dan pada tahun 1656 jabatan bupati wedana dihapuskan, dan setiap bupati langsung dibawah mataram.

Keturunan Pangeran Bagus Weruh (Rangga Gempol II)
Pangeran Bagus Weruh atau Pangeran Rangga Gempol II mempunyai 29 anak, yaitu:

  • ·         Rd. Wirakara 
  • ·         Pangeran Panembahan/Rangga Gempol III
  • ·         Rd. Bagoes
  • ·         Rd. Wanggamanggala
  • ·         Rd. Tanoesoeta
  • ·         Rd. Martajoeda
  • ·         Rd. Soetaningdita
  • ·         Kiai Moegopar
  • ·         Kiai Kiras
  • ·         Kiai Soetaredja
  • ·         Rd. Tanoeraga
  • ·         Rd. Martaparana
  • ·         Rd. Ardoewangsa
  • ·         Rd. Tanoeredja
  • ·         Rd. Wangsasoeta
  • ·         Rd. Dipa
  • ·         Rd. Patradipa
  • ·         Rd. Soetabadra
  • ·         Rd. Koesoemaardja
  • ·         Rd. Mekas 
  • ·         Rd. Ngb. Sedakerti
  • ·         Rd. Ngabeni
  • ·         Rd. Santaparadja
  • ·         Rd. Pani
  • ·         NM. Djapar
  • ·         NM. Arja Pawenang
  • ·         NM. Kanten
  • ·         NM. Ajoemajar
  • ·         NM. Ajoe
3.1. R. Wirakara 
Ia mempunyai 5 orang anak, yaitu:

  • ·         NM. Lengka . 
  • ·         NM. Rija . 
  • ·         NM. Laja . 
  • ·         Kiai Soemadikara . 
  • ·         NM. Noersian . 
3.2. Pangeran Panembahan/Rangga Gempol III
Pangeran Panembahan atau Pangeran Rangga Gempol III di kemudian hari menggantikan ayahnya, Pangeran bagus Weruh menjadi bupati Sumedang yang ke-4. 
Ia menikah dengan Nyi Raden Ayu Sepuh binti Dalem Rangga Panengah bin Dalem rangga Nitinagara bin Prabu Geusan Ulun. NRA Sepuh ini merupakan cucu dari Raden Rangga Nitinagara.

Dari pernikahannya dengan NRA Sepuh, ia mempunyai anak 21 orang.

  • ·         Dlm. Adipati Tanoemadja, yang dikemudian hari menggantikan ayahnya sebagai bupati.
  • ·         Rd. Soetanata ., I 
  • ·         Rd. Radjasoeta . 
  • ·         Rd. Soetadjaja . 
  • ·         Rd. Astradjaja . 
  • ·         Rd. Astranata . 
  • ·         Rd. Tjandradinata . 
  • ·         Rd. Soetatjandra . 
  • ·         Radjataroena . 
  • ·         Rd. Natawiria . 
  • ·         Rd. Moetaram . 
  • ·         Rd. Soerawidjaja . 
  • ·         NR. Halipah . 
  • ·         NR. Tjandrapojang . 
  • ·         NR. Goemarang . 
  • ·         NR. Kartadipa . 
  • ·         NR. Panggoeng . 
  • ·         NR. Astrakoesoemah . 
  • ·         NR. Kartapoera . 
  • ·         NR. Dipawangsa . 
  • ·         Rd. Kartadjiwa . 
3.3. R. Bagus
Ia mempunyai 2 orang anak, yaitu
Rd. Panri . 
 Mas Wargakoesoemah . 
3.4. R. Wanggamanggala
Ia mempunyai 2 orang anak, yaitu
 Rd. Wangsadjiwa Sepoeh . 
 Rd. Wangsadjiwa Anom . 
3.5. R. Tanoesoeta
Tidak diceritakan mempunyai anak

3.6.  R. Martajoeda
Tidak diceritakan mempunyai anak

3.7. R. Soetaningdita
Ia mempunyai 1 orang anak, yaitu  Rd. Soetaningdita ., II . 

3.8. Kiai Mugopar
Tidak diceritakan mempunyai anak

3.9. Kiai Kiras
Tidak diceritakan mempunyai anak

3.10.  Kiai Sutareja
Ia mempunyai 2 orang anak, yaitu
Kiai Ahsanoedin . 
Mas Satjadiwangsa . 
3.11. R. Tanuraga
Tidak diceritakan mempunyai anak

3.12. R. Martaparana / Rd. Ngb. Jiwaparana  I 
Ia mempunyai 1 orang anak, yaitu; Rd. Djiwaparana ., II . 

3.13. R. Arduwangsa
Ia mempunyai 1 orang anak, yaitu NM. Indra Koesoemah . 

3.14.  R. Tanureja
Tidak diceritakan mempunyai anak

3.15. R. Wangsasuta
Ia mempunyai 3 orang anak yaitu:
 NM. Rengga . 
 NM. Poera . 
 Mas Natatjandra 
3.16. R. Dipa
Tidak diceritakan mempunyai anak

3.17. R. Patradipa
Tidak diceritakan mempunyai anak

3.18. R. Sutabadra
Tidak diceritakan mempunyai anak

3.19. R. Kusumaarja
Tidak diceritakan mempunyai anak

3.20. R. Mekas 
Tidak diceritakan mempunyai anak

3.21. R. Ngb. Sedakerti
Tidak diceritakan mempunyai anak

3.22. R. Ngabeni
Tidak diceritakan mempunyai anak

3.23. R. Santaparadja
Tidak diceritakan mempunyai anak

3.24. R. Pani
Tidak diceritakan mempunyai anak

3.25. NM. Djapar
Tidak diceritakan mempunyai anak

3.26. NM. Arja Pawenang
Tidak diceritakan mempunyai anak

3.27. NM. Kanten
Tidak diceritakan mempunyai anak

3.28. NM. Ayumayar
NM. Ayu Mayar  atau RA Sudarsah  menikah dengan Pangeran Kusumadiningrat atau Pangeran Kusuma Diningrat, atau terkenal juga dengan nama Pangeran Jago Jawa atau Sech Dago Jawa.
Ia mempunyai 5 orang anak, yaitu
·         Seureupeun Manangel .
·         Seureupeun Cibeuli .
·         Seureupeun Cihaurbeuti .
·         Seureupeun Dawagung .
·         Sareupeun Cibuni Agung .
3.29. NM. Ayu
Tidak diceritakan mempunyai anak


 4.. Pangeran Panembahan / Rangga Gempol III (MP. 1656 – 1706)
Pangeran Panembahan  atau Rangga Gempol III menjadi bupati sumedang dari tahun 1656 hingga 1706 M., menggantikan ayahnya, Pangeran bagus Weruh menjadi bupati Sumedang yang ke-4. 
Pangeran Panembahan bergelar Pangeran Kusumah dnata VI dan juga mengambil gelar Rangga Gempol III. Gelar panembahan sendiri merupakan gelar yang diberikan Amangkurat I (mp. 1645-1677 M) atas kesetiannya pada Mataram.
Pangeran Panembahan  dikenal sebagai bupati yang cerdas, lincah, loyal, pemberani dan perkasa. Pada masa kekuasaannya penuh dengan idealisme dan perjuangan. Ia adalah sosok yang ingin mengembalikan kejayaan sumedang Larang
Kekuasaan
.Pada tahun 1952 Mataram mengadakan kontrak dengan VOC secara lisan, VOC diberi hak secara penuh  oleh Mataram atas daerah seebelah barat sungai citarum. Meskipun kabupaten Sumedang tidak masuk wilayah yang diberikan, tetapi  wilayah sumedang larang menjadi lebih sedikit. Dan  waktu itu bupati Sumedang adalah Pangeran Bagus Weruh/ Rangga Gempol II.
Pada tahun 1677 M VOC melakukan perjanjian dengan mataram yang disaksikan oleh Pangeran Rangga Gempol III. Salah satu isi perjanjian itu menyatakan bahwa batas sebelah barat antara sungai Cisadane dan Cipunagara harus diserahkan Mataram kepada VOC dan menjadi milik penuh VOC. Tetapi hal ini ditolak Mataram karena daerah itu merupakan daerah Sumedang larang. Hal ini diterima VOC dengan syarat  bahwa yang diserahkan tahun 1652 menjadi milik VOC.
Melihat realitas seperti diatas, Keinginan untuk mempersatukan lagi wilayah Sumedang Larang bukan perkara mudah, karena beberapa wilayah  sudah menjadi wilayah Banten, Cirebon, Mataram dan VOC. Dengan demikian sasaran penaklukan kembali adalah pantai utara Jawa seperti Karawang, Ciasem, Pamanukan dan Indramayu yang merupakan kekuasaan Mataram. Pada awalnya Pangeran Panembahan meminta bantuan Banten karena Banten sedang komplik dengan Mataram dan hal ini disambut oleh Banten untuk menghadapi VOC dan Mataram, tetapi hal ini diurungkan, karena masalah putra pangeran Rangga Gempol I, pangeran Suriadiawangsa II, dan kemungkinan perang dengan Mataram dan VOC.
Karena pembatalan ini menyebabkan Banten akan menyerang Sumedang. Karena itu Pangeran panembahan mengirim suart kepada VOC yang isinya meminta VOC menutup muara sungai Cipamanukan dan pantai utara untuk mencegat pasukan banten, sedang di darat oleh Sumedang, dengan imbalan VOC diberi daerah antara Batavia dan Indramayu (yang sebenarnya sudah diberikan mataram kepada VOC tahun 1677). Pangeran Panemmbahan juga mengadakan hubungan dengan kepala Batulajang (selatan Cianjur) Rangga Gajah Palembang yang merupakan cucu Adipati Ukur.
Serangan pertama sumedang di pantai utara adalah daerah Ciasem, Pamanukan dan paragi, dan dengan mudah duikuasai oleh Pangeran anembahan. Di Paragi  Sumedang menempatkan pasukannya sebagai persiapan menyerang Karawang. Setealah Karawang dikuasai, dan  Daerah Indramayu  sebelum diserang sudah menyatakan takluk. Dengan demikian  daerah pantai utara Jawa antara Batavia dan Indramayu merupakan kekuasaan mutlak Sumedang.
Ketika Pangeran panembahan sibuk menaklukan pantai utara, Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten bersiap menyerang ibukota Sumedang. Pada tahun 10 Maret 1678 pasukan Banten bergerak untuk menyerang Sumedang melalui Muaraberes /Bogor, Tangerang ke Patimun Tanjungpura dan berhasil melalui penjagaan VOC, awal Oktober pasukan Banten telah datang di Sumedang tetapi pasukan Banten tidak bisa masuk ke Ibukota karena Pangeran Panembahan bertahan dengan gigih. Pada serangan pertama ini Banten mengalami kegagalan karena tepat waktu Ibukota Sumedang diserang, di Banten terjadi perselisihan antara Sultan Agung Tirtayasa dan Sultan Haji Surasowan,. Selama sebulan lamanya tentara Banten yang dipimpin oleh Raden Senapati bertempur dan Raden Senapati tewas dalam pertempuran tersebut sehingga pasukan Banten ditarik mundur karena Sultan Agung memerlukan pasukan untuk menghadapi puteranya Sultan Haji. Pangeran Panembahan akhirnya menguasai seluruh daerah pantai utara dan Pangeran Panembahan berkata kepada VOC akan taat dan patuh asalkan terus membantunya terutama pengiriman senjata dan mesiu tetapi Pangeran Panembahan tidak taat bahkan menentang kompeni VOC dan tidak pernah datang ke Batavia dan tidak pernah pula memberi penghormatan atau upeti kepada VOC, yang akhirnya VOC menarik pasukannya dari pantai utara.. Setelah menguasai pantai utara Pangeran Panembahan menguasai daerah kebupatian yang dibentuk oleh Mataram pada tahun 1641 seperti Bandung, Parakan muncang, dan Sukapura . Dengan demikian Pangeran Panembahan menguasai kembali seluruh daerah bekas Sumedang Larang kecuali antara Cisadane dan Cipunagara yang telah diserahkan oleh Mataram kepada VOC tahun 1677. Sehingga Sumedang mencapai puncak kejayaannya kembali setelah pada masa Prabu Geusan Ulun. Penarikan pasukan VOC dari pantai utara membuka peluang bagi Banten dengan mudah untuk masuk wilayah Sumedang. Dalam melakukan penaklukan daerah-daerah di pantai utara dan menghadapi Banten, Pangeran Panembahan dilakukan sendiri berserta pasukan Sumedang tanpa ada bantuan dari VOC sama sekali, bantuan VOC hanya menjaga batas luar wilayah Sumedang dan selama menjaga VOC tidak pernah terlibat perang secara langsung di wilayah kekuasaan Pangeran Panembahan, bantuan lain dari VOC berupa pengiriman beberapa pucuk senjata dan meriam setelah Sumedang pertama kalinya diserang oleh Banten.
Pada awal oktober 1678 pasukan Banten kedua kalinya kembali menyerang Sumedang, serangan pertama pasukan Banten merebut kembali daerah-daerah yang dikuasai oleh Sumedang di pantai utara, Ciparigi, Ciasem dan Pamanukan akhirnya jatuh ke tangan pasukan Banten sedangkan pasukan kompeni yang dahulu menjaga daerah tersebut telah ditarik . Akhirnya pasukan Bali dan Bugis bergabung dengan pasukan Banten bersiap untuk menyerang Sumedang. Pada awal bulan puasa pasukan gabungan tersebut telah mengepung Sumedang, pada tanggal 18 Oktober 1678 hari Jumat pasukan Banten di bawah pimpinan Cilikwidara dan Cakrayuda menyerang Sumedang tepat Hari Raya Idul Fitri dimana ketika Pangeran Panembahan beserta rakyat Sumedang sedang melakukan Sholat Ied di Mesjid Tegalkalong, serangan pasukan Banten ini tidak diduga oleh Pangeran Panembahan karena bertepatan dengan Hari Raya dimana ketika Pangeran Panembahan dan rakyat Sumedang sedang beribadah kepada Allah. Akibat serangan ini banyak anggota kerabat Pangeran Panembahan yang tewas termasuk juga rakyat Sumedang. Pangeran Panembahan sendiri berhasil meloloskan diri ke Indramayu dan tiba pada bulan Oktober 1678. Serangan pasukan Banten ini dianggap pengecut oleh rakyat Sumedang karena pada serangan pertama Banten, Sumedang sanggup memukul mundur dan mengalahkan Banten. Oleh Sultan Banten, Cilikwidara diangkat menjadi wali pemerintahan dengan gelar Sacadiparana sedangkan yang menjadi patihnya adalah Tumenggung Wiraangun-angun dengan gelar Aria Sacadiraja. Selama di Indramayu Pangeran Panembahan menggalang kekuatan kembali dengan bantuan dari Galunggung, pasukan Pangeran Panembahan dapat merebut kembali Sumedang setelah enam bulan berada di Sumedang, pada bulan Mei 1679 Cilikwidara menyerang kembali dengan pasukan lebih besar, yang akhirnya Sumedang jatuh kembali ke tangan Cilikwidara, Pangeran Panembahan terpaksa mundur kembali ke Indramayu. Pendudukan Sumedang oleh Cilikwidara tak berlangsung lama pada bulan Agustus 1680 pasukan Cilikwidara ditarik kembali ke Banten karena terjadi konflik antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan Sultan Haji yang didukung oleh VOC, dalam konflik tersebut dimenangkan Sultan Haji. Sejak itu kejayaan Sultan Banten berakhir. Sultan Haji berkata kepada VOC bahwa Banten tidak akan mengganggu lagi Cirebon dan Sumedang, yang pada akhirnya berakhirlah kekuasaan Banten di Sumedang. Pada tanggal 27 Januari 1681 Pangeran Panembahan kembali ke Sumedang dan bulan Mei 1681 memindahkan pemerintahan dari Tegalkalong ke Regolwetan (Sumedang sekarang) dan membangun gedung kebupatian yang baru Srimanganti sekarang dipakai sebagai Museum Prabu Geusan Ulun Yayasan Pangeran Sumedang, pembangunan Ibukota Sumedang yang baru tidak dapat disaksikan oleh Pangeran Panembahan, pada tahun 1706 Pangeran Panembahan wafat dan dimakamkan di Gunung Puyuh di samping makam ayahnya Pangeran Rangga Gempol II. Pada tahun 1705 seluruh wilayah Jawa Barat dibawah kekuasaan kompeni VOC Setelah wafatnya Pangeran Panembahan digantikan oleh putranya Raden Tanumaja dengan gelar Adipati, bupati pertama kali yang diangkat oleh VOC. Pangeran Rangga Gempol III Panembahan merupakan bupati paling lama masa pemerintahannya hampir 50 tahun dari tahun 1656 sampai tahun 1705 dibandingkan dengan bupati – bupati Sumedang lainnya.
Setelah peristiwa penyerbuan pasukan Banten ke Sumedang, Pangeran Panembahan membentuk sistem keamanan lingkungan yang disebut Pamuk terdiri dari 40 orang pilihan, setiap pamuk mendapatkan sawah dari Pangeran Panembahan, sawah tersebut boleh digarap dan diterima hasilnya oleh pamuk yang bersangkutan selama ia masih bekerja sebagai pamuk. Sawah tersebut dinamakan Carik, suatu sistem gaji yang bekerja untuk kebupatian. Carik disebut juga Bengkok di daerah lain yang akhirnya sistem pemberian gaji ini untuk Pamong Desa.
Pangeran Rangga Gempol III Panembahan menyisihkan sebagaian tanahnya miliknya sebagai sumber penghasilan bupati, agar penghasilan bupati tidak lagi menjadi beban rakyat. Tanah tersebut tidak boleh dibagi waris jika Pangeran Panembahan wafat tetapi diturunkan lagi kepada bupati berikutnya secara utuh dan lengkap.

Makam
Makam Pangeran panembahan berada di Gunung Puyuh kecamatan Sumedang selatan.
Keturunan
Ia menikah dengan Nyi Raden Ayu Sepuh binti Dalem Rangga Panengah bin Dalem rangga Nitinagara bin Prabu Geusan Ulun. NRA Sepuh ini merupakan cucu dari Raden Rangga Nitinagara.
Dari pernikahannya dengan NRA Sepuh, ia mempunyai anak 21 orang.
·         Dlm. Adipati Tanoemadja, yang dikemudian hari menggantikan ayahnya sebagai bupati.
·         Rd. Soetanata ., I 
·         Rd. Radjasoeta . 
·         Rd. Soetadjaja . 
·         Rd. Astradjaja . 
·         Rd. Astranata . 
·         Rd. Tjandradinata . 
·         Rd. Soetatjandra . 
·         Radjataroena . 
·         Rd. Natawiria . 
·         Rd. Moetaram . 
·         Rd. Soerawidjaja . 
·         NR. Halipah . 
·         NR. Tjandrapojang . 
·         NR. Goemarang . 
·         NR. Kartadipa . 
·         NR. Panggoeng . 
·         NR. Astrakoesoemah . 
·         NR. Kartapoera . 
·         NR. Dipawangsa . 
·         Rd. Kartadjiwa . 

4.1. Dlm. Adipati Tanoemadja.
Ia menggantikan ayahnya mnejadi bupati Sumedang selanjutnya (yang ke-5). Ia mempunyai 10 anak, yaitu:
·         Pangeran Karoehoen Rangga Gempol IV KOESOEMADINATA, VII
·         Rd. Nitinagara . 
·         Rd. Dawi . 
·         Rd. Soeramanggala . 
·         Rd. Batawi . 
·         NR. Lengkapoera . 
·         NRA. Widjaksari . 
·         NR. Asmarawoelan . 
·         NRA. Radjanagara .  Ia menikah dengan Ki Dalem Raden Rangga Wangsadita, dan dikaarunia 13 orang anak, yaitu:Kd. Adipati Soerianagara, Kd. Rangga Wangsadireja, Kd. Surapraja, Rd. Aria Wiradireja, Kd. Adipati Wangsareja, Rd. Aria H. Kusumah
RM. Aria Tjakrayuda, RM. Natapraja, NRA. Natakaraton, NR. Ratnanagara, NR. Rajakaraton,  NRA. Siti Gede, Dalem Rangga Bungsu 
·         Rd. Natasoera . 
4.2. R. Sutanata I
Ia mempunyai 17 orang anak, yaitu:
·         Rd. Soetanata ., II 
·         Rd. Poesparadja . 
·         Rd. Natasoera ., I 
·         Rd. Soetakoesoemah . 
·         Rd. Oemar . 
·         Rd. Kertanata . 
·         NM. Singadipatra . 
·         NM. Wiradipatra . 
·         NM. Kasmaran . 
·         NM. Gendra . 
·         NM. Noerta . 
·         NM. Natapradja . 
·         NM. Arsapora . 
·         NM. Ambra . 
·         NM. Soemawajang . 
·         NM. Gandakoesoemah . 
·         NM. Lengka Asmara . 
4.3. R. Rajasuta
Ia mempunyai 1 orang anak, yaitu: R. Sutareja . 
4.4. R. Sutajaya
4.5. R. Astradjaja
a mempunyai 3 orang anak, yaitu:
·         Rd. Astradjaja ., II . 
·         Rd. Sekar . 
·         Rd. Lumbar . 
4.6. R. Astranata
Ia mempunyai 5 orang anak, yaitu:
·         Rd. Astranata ., II . 
·         Mas Astraredja . 
·         NM. Ratna . 
·         NM. Panganten . 
·         NM. Kasmeri . 
4.7. Rd. Tjandradinata
4.8. Rd. Soetatjandra
4.9. Rd. Radjataroena
4.10 Rd. Natawiria
4.11. Rd. Moetaram
4.12.  Rd. Soerawidjaja
4.13. NR. Halipah
Ia menikah dengan Rd. Soetadipa .
4.14. NR. Tjandrapojang
4.15. NR. Goemarang
4.16. NR. Kartadipa
4.17.  NR. Panggoeng
4.18. NR. Astrakoesoemah
4.19. NR. Kartapoera
 4.20. NR. Dipawangsa
4.21.  Rd. Kartadjiwa
Ia mempunyai 8 orang anak, yaitu:
  •  Mas Apaloedin . 
  • Mas Soerajoedin . 
  • Mas Ahsamoedin . 
  • Mas Poespadjanggala . 
  • Mas Raksadinata . 
  • Mas Dipadjanggala . 
  • NM. Andikoesoemah . 
  •  Mas Jahja  

(Lanjut...)

Daftar Pustaka



  •  Latif, R.  Abdul, R. Supian Apandi, R, Lucky Dj. S, Insun Medal Insun Madangan Sumedang Larang,  Sumedang, 2008
  • Soedradjat, Ade Tjanker, Silsilah Wargi Pangeran Sumedang Turunan Pangeran Santri Alias Pangeran Kosesoemadinata I Penguasa Sumedang Larang 1530-1578, Yayasan Pangeran Sumedang, 1996
  • Dan dari berbagai sumber internet 
Sumber: dari berbagai Sumber