Laman

Jumat, 05 September 2014

Membangun Alternatif Instalasi Sumber Air Bersih di Hariang

Hariang adalah surganya air, tetapi disinilah justru masyarakatnya kekurangan air. Air ke rumah-rumah tidak terlalu besar dari buntut beurit (ekor tikus). Karena  sumber air ledeng yang sekarang tidak memungkinkan untuk diperbesar, maka harus ada upaya lain atau alternatif lain untk menutupi kekurangan air tersebut.

Ada beberapa alternatif agar masyarakat mempunyai kebutuhan yang layak akan kebutuhan air. Karena hal ini harus dikaji dengan ketersediaan dana. “Ulah ngarawu ku siku” demikian suatu ungkapan yang sangat mendidik. Yang intinya jangan mau berbuat yang tidak sesuai dengan kemampuan kita. Kemampuan itu menyangkut dana atau kemampuan intelektual. Karena kalau dipaksakan dengan dana yang tidak mencukupi setidaknya akan menelan kekecewaan demi kekecewaan. Yang akhirnya bukan kesuksesan yang di dapat tetapi semuanya akan hilang. Hilangya dana karena tidak berhasil yang menuju kesia-siaan, dan yang sangat ditakutkan adalah hilangnya kepercayaan, sehingga mengakibatkan kehilangan harapan.

Ada beberapa alternatif penanganan dari kekuraangan air ini. Yaitu;
  •  Yang pertama kita harus memetakan mana daerah yang harus disuplai oleh aliran ledeng yang ada
  •   Yang kedua adalah memprioritaskan membuat alternatif-alternatif penyediaan air ke daerah yang dekat dengan sumber air. Sehingga sumber air ledeng yang sudah ada bisa dialhkan ke daerah yang masih kekurangan.
  •  Yang ketiga adalah jangka panjang, yaitu dengan membangun instalasi yang permanen dari sumber yang lebih besar, terutama dari mata air cilembang.
  •   Dari aternatif  tersebut diatas yang paling realistik adalah dengan membangun instalasi penyediaan air bersih ke daerah terdekat sumber air. Karena alernatif kedua (atau dari cilembang) telah mengalami kegagalan. Karena disamping membutuhkan biaya yang jauh lebih besar juga perlu penanganan dari yang lebih ahli. Diisamping sikap masyrarakat yang sudah skeptis alias kurang percaya terhadap pelaksanya.

1. Memetakan daerah yang mendapat sumber air ledeng existing & daerah yang akan mendapat sumber air alternatif

Tidak ada masalah yang terlalu sulit untuk dipecahkan jika kita mau mencari alternatif-alternatif pemecahan masalah. Sebagai aparat desa kita mendapat tugas untuk menyelesaikan masalah-masalah mendasar kebutuhan dasar masyarakatnya. Pembiaran terhadap masalah menunjukan tentang kwalitas kita dalam memimpin yang rendah.

Masalah air di hariang menyangkut masalah kepercayaan. Tetapi kita harus percaya bisa mengatasinya. Telah diungkapkan diatas, bahwa kita harus bisa memetakan masalah air tersebut. Yang pertama adalah mencari alternatif sumber air terdekat dan termurah, dan wilayah mana yang akan mendapat suplay. Jika hal ini bisa terlaksana berarti daerah yang akan disuplay oleh sumber air alternatif tidak membutuhkan lagi suplay air dari ledeng existing (ledeng yang ada sekarang), sehingga suplay ke rumah-rumah akan menjadi besar. Jadi tidak akan terjadi iri satu sama lain, karena kebutuhan air akan menjadi  lebih baik. Masyarakat harus bahu membahu, jangan iri terhadap daerah yang telah akan disuplay oleh sumber air baru, karena akan mendapat jatah air ledeng yang sudah ada akan menjadi lebih besar.

Jadi sebenarnya kita harus bisa berpikir praktis dalam menangani masalah air ini. Setelah kita memtakan masalah daerah yang disuplay oleh air ledeng nantinya, dan yang kedua kita harus menangani masalah yang kedua, yaitu mencari sumber sumber alternatif terdekat ke kampung.

2.  Membuat Instalasi ke daerah sumber air terdekat.

Alternatif yang memungkinkan dan biyya yang lebih murah untuk penyediaan air bersih adalah dengan membuat instalasi ke daerah terdekat dengan sumber mata air.  Dan alternatif ini bisa diujicoba pada masyarakat sekitar sawah kulon atau daerah sekitar RT 7 dan RT 8.  Karena di daerah ini terdapat sumber mata air yang dekat dengan perkampungan. Setidaknya ada 2 mata air yang bisa dimamfaatkan yaitu mata air cirani dan mata air ciurug.

a. Mata Air Cirani

Mata air  cirai biasannya mengalir di musim penghujan. Dimusim kemarau biasanya mata air disini tidak mengalir. Dan jika instalasi dibuat dimusim penghujan, maka alternatif pertama adalah dengan membangun instalasi pompa dari mata air ini. Jaraknya yang lebih dekat ke kampung membuat instalasi di daerah ini memungkinkan yang pertama kali harus digarap.

Jaraknya yang dekat ( hampir setengahnya dari mata air Ciurug) menjadikan alternatif pertama dalam membuat sumber alternatif. Dan mungkin hal-hal yang harus diselesaikan sebagai berikut:
  • Yang pertama adalah membebaskan lahan atau membeli lahan sumber tersebut oleh desa atau oleh kampung adat setempat
  •    Yang kedua adalah menghitung debit air per jam sehingga kita bisa memetakan berapa keluarga yang bisa disuplay oleh sistem ini
  •  Yang ketiga adalah merencanakan system instalasi
  • Yang keempat adalah menentukan  rencana anggaran biaya (RAB)


b. Mata Air Ciurug

Mata air Ciurug meskipun relatif lebih kecil tetapi selalu mengalir meskipun di musim kemarau. Jadi tetap harus dibuat untuk memenuhi kebutuhan dimusim kemarau. Dan instalasinya nantinya dibuat by-pass (sistem valve langsung) dengan airan yang berasal dari mata air Cirani, sehingga ada sinergi atau saling menguatkan. Sumber air bisa melimpah dimusim penghujan sedang dimusim kemarau air tetap mensuplay sesuai kebutuhan.

Dan untuk merealisasikan hal tersebut, penangannya hampir sama dengan yang dikerjakan mata air cirani., yaitu membebaskan lahan, menghitung debit air, merencanakan instalasi dan RAB (rencana anggaran biaya).

3. Merencanakan kembali Instalasi Dari Cilembang

Karena agak jauh dari kampung, dan juga kedalaman yang lebih besar, penanganan istalasi air dari cilembang harus ditata ulang. Setidaknya perlu keahlian khusus karena hal ini menyangkut dengan tekanan balik dari tekanan ketinggian. Kita mengetahui secara teori dengan kenaikan 10 meter maka tekanan akan bertambah 1 bar. Jadi jika ketinggian dari cilembang ke titik misal 100 meter, maka tekanan tolak dari air tersebut sebesar 10 bar. Jadi jika pompa yang dipakai dibawah 10 bar maka air tidak akan mengangkat atau setidaknya akan terjadi kerusakan pada pompa.

Karena hal tersebut diatas maka ada instalasi harusnya dipasang juga check valve yang berfungsi untuk menghindari tekanan balik.

(Lanjut....)

(By Adeng Lukmantara)

Hariang & Masalah Air

Hariang Tempo Dulu

Konon, mungkin Wangsa Wijaya mendirikan kampung Hariang tempo dulu dikarenakan sumber air yang melimpah. Betapa tidak setidaknya ada sekitar 7 sumber air yang berada atau dekat sekitar Harang sekarang. Dulu waktu saya masih kecil, Hariang dibelah oleh Sungai yang bernama Cimamut. Sungai Cimamut membelah hariang menjadi 2, yang sebelah barat (kulon) dinamakan hariang, sedang di sebelah timur kemudian terkenal dengan nama Tipar dan lebih ke selatan (kidul) Tonjong.

Jadi hariang sendiri telah dibelah oleh sungai Cimamut. Dan ketika saya masih SD sungai ini sangat pavorit untu di pakai renang. Di sebelau utara (kaler) ada air terjun atau Curug, makanya kampung dekat  air terjun terkenal dengan nama Curug.  Penulis sendiri termasuk dalam kampung Curug ini.  Disebelah barat tidak jauh dari hariang dan menjadi perbatasan dengan desa tetangga, kampung Cihayam. Yang dibatasi oleh sungai Cigarukgak. Perbatasan dengan dsa wanajaya juga ada sungai yang relatif besar yang menjadi muara sungai Cimamut dan sungai Cigarukgak, yaitu sungai Cikandung. Jadi sungai disekitar hariang saja sudah ada 3, yaitu Cimamut, cigarukgak dan Cikandung.  Hal ini belum sumber mata ar lainnya yang melimpah.

Tidak hanya sungai, di hariang sendiri terdapat 4 buah mata air, yaitu Cilembang (terbesar), Cilebak (dekat curug Cimamut), Ci Urug dan Ci Rani. Ketika masih kecil mata air itu mengalr dengan derasnya tanpa ada kekeringan. Jadi sesungghnya Hariang tempo adalah surga air, banyak alternatif mata air yang bisa digunakan, disamping air ledeng yang dialirkan dari daerah Cikurubuk atau Cilumping.

Dari sumber mata air f yang terissa yang sepanjang masa sebenarnya hanya Cilembang dan Ci urug. Cilembang adalah sumber air yang sangat besar, mata airnya melimpah, dan menjadi sumber mata air bagi desa di bawahnya, seperti desa Wanajaya dan lainya. Ci Urug adalah sumber mata air dari daerah yang tadinya longsor (urug) sehingga dinamakan ciurgug. Sedang Cirani hanya mengalir dimusim penghujan saja, dimusim kemarau cenderung tidak mengalir. Hal ini sama dengan Cilebak sekarang ini hanya dimusim penghuja saja mengalirnya.

Sungai Cimamut adalah sungai yang membelah kampung, sekarang sudah tidak mengalirkan air lagi sama sekali, dan hanya berfungsi sebagai selokan saja ketika hujan turun. Hal ini terjadi juga pada sungai Cigarukgak meskipun masih ada airnya tetapi sangat sedikit.

Hariang Sekarang & Sumber Air Alternatif

Sekarang hal ini menjadi lain. Hariang bukan saja daerah yang susah air. Air yang ke rumah-rumah merupakan selang-selang sebesar “buntut beurit (ekor tikus)”, hal ini untuk menjelaskan begitu sedikitnya air yang didapat ke rumah-rumah mereka. Hal ini terasa jika hari liburan lebaran atau kedatagan banyak tamu. Air yang penuh dimalam hari habis dalam sekejap dipagi hari dan menunggu 1 hari penuh untuk mengisi kembali.

Sebenarnya Hariang masih kaya akan air, jika mengusahakannya. Pembatasan dari sumber air utama (sumber ledeng) di Cilumping/ Cikurubuk, menjadikan orang hariang tidak bisa menambah kuota, untuk saluran air yang lebih besar. Mengharapkan pemberian jatah dari kampung lain merupakan hal yang sia-sia. Apalagi sekarang mata air tersebut sudah berubah menjadi kolam renang. Jadi kebutuhan untuk daerahnya sendiri juga mungkin dianggap kurang. Jadi satu-satunya jalan adalah membuat alternatif memamfaatkan sumber yang ada yang kita punya.

Sebenarnya tidaklah susah untuk mengalirkan air dari manapun juga, hal ini tergantung kemauan dan juga dananya. Disamping itu pengerjaan oleh kaum profesional juga harus menjadi hal yang diuatamakan. Karena biaya yang sudah dikeluarkan begitu besar akan sia-sia belaka. Dan yang terutama dari itu adalah kepercayaan. Jika kepercayaan dari masyarakat tidak ada , karena sudah demikian kecewa. Maka sangat susahlah untuk mengembalikan kepercayaan ini. Karena masyarakat yang sudah skeptis, sangat sulit untuk mempercayai juga.


Jangan menyerah, mungkin kata itu yang harus kita pegang. Karena dengan cepat menyerah berarti kita kalah. Sebenarnya masih ada harapan untuk hal  tersebut. Yang menjadi masalah adalah kita harus menyerahkan kepada yang ahlinya. Bukan hanya karena kita seorang pengurus desa sehingga kita seolah paling menguasai. Jadi hal ini perlu diperbincangkan dulu, perlu dikonsultasikan dulu dengan ahlinya.

(By Adeng lukmantara)