Laman

Minggu, 05 Februari 2017

MENGENAL TOKOH WANGSA WIJAYA DAN NYI MAS BAYUN PENDIRI LEUMBUR / DESA HARIANG

Dalam buku Sejarah Desa Hariang diungkapkan bahwa pendiri pemukiman yang sekarang dikenal dengan nama Desa Hariang adalah Wangsawijaya. Wangsa Wijaya mempunyai istri yang bernama Nyi Mas Bayun.

Wangsawijaya menurut buku tersebut diatas merupakan putra  dari bupati Bandung pertama yang bernama Tumenggung Wira Angun Angun. Wangsa Wijaya menikah dengan Nyi Mas Bayun putri bupati Sumedang.

Tentang Nyi Mas Bayun dalam buku Sejarah Desa Hariang dikatakan sebagai anak dari Dalem Panembahan atau Rangga Gempol III. Sedang dalam silsilahyang ada di Museum Sumedang dikatakan bahwa Nyi Mas Bayun merupakan putri dari Pangeran Rangga Gede, yang notabene merupakan kakek dari Pangeran Rangga Gempol III atau Pangeran (Dalem) Panembahan.

Dalam silsilah Museum Sumedang nama Wangsawijaya bergelar Raden, sedang istrinya bergelar Nyi Mas. Dari pernikahan Wangsa wijaya dengan Nyi Mas Bayun menurut  silsilah dari museum  Sumedang  mempunyai 4 orang anak, yaitu Mas Tarunadiwangsa, Nyi Mas Mayar, Nyi Mas Puna, dan Nyi Mas Bungsu. Dan dalam silsilah museum Sumedang ditulis sebagai berikut:

1.1.1.21  NM. Bajoen . 
1.1.1.21 x Rd. Wangsawidjaja Hariang .
1.1.1.21.1 Mas Taroenadiwangsa . 
1.1.1.21.2 NM. Majar . 
1.1.1.21.3 NM. Poena . 
1.1.1.21.4 NM. Boengsoe . 

A.. Wangsa Wijaya

Wangsa Wijaya merupakan pendiri desa Hariang yang sebenarnya.  Dia merasa terpesona oleh daerah ini setelah diutus menjadi salah seorang pemburu oleh Pangeran di Sumedang.
Seperti sudah ditulis diatas, menurut buku sejarah desa Hariang, bahwa Wangsa Wijaya merupakan putra dari bupati bandung pertama yang bernama Tumenggung Wira Angun Angun atau dalam buku diatas disebut dengan Dalem Gajah. Tumenggung Wirangun angun nama aslinya adalah Ki Astamanggala (mp. 1632-1681 M). Tentang benar dan salahnya tentang silsilah tersebut, karena itu perlu penyelidikan yang lebih jauh. Karena belum menemukan pendapat yang menguatkan yang berkaitan dengan Wangsawijaya ini dengan bupati Bandung pertama. Yang menguatkan tentang Wangsawijaya ini ada dalam sejarah silsilah Museum Sumedang.

Hal ini berbeda dengan istrinya, Nyi Mas Bayun. Silsilahnya ada di museum Sumedang sebagai turunan bangsawan Sumedang.

Wangsa wijaya meskipun turunan dari bangsawan (gelar Raden), ia konon tidak menyukai kebangsawanan. Ia sangat merakyat. Ada suatu peribahasa “agul ku payung butut” merupakan istilah dari gelar para bangsawan, yang bangga hanya ada gelar di depan namanya.  Dengan demikian Wangsa Wijaya tidak mau gelar kebangsawanannya menghalangi dirinya bergaul dengan masyarakat biasa.

B.. Nyi Mas Bayun

Nyi Mas Bayun merupakan istri dari Raden Wangsawijaya. Menurut buku Sejarah Desa Hariang, Nyi Mas Bayun merupakan putri dari Dalem Panembahan Sumedang atau Rangga Gempol III. Tetapi menurut silsilah dari keraton Sumedang, Nyi Mas Bayun ini merupakan putri dari Pangeran Rangga Gede (mp. 1620-1624 M), penguasa Sumedang setelah Rangga gempol I atau kakek dari Pangeran Rangga Gempol III.

Setelah Prabu Geusan Ulun meninggal, raja Sumedang Larang jatuh kepada putranya dari Harisbaya yang bernama Pangeran Kusumah Dinata III atau lebih dikenal dengan nama Pangeran Rangga Gempol I. Setelah Pangeran Rangga Gempol I ikut dalam menyerang madura, dan tidak pernah kembali. Kekuasaan di Sumedang kemudian diserahkan kepada Pangeran Rangga Gede, adik Rangga Gempol lain ibu.

Berikut dibawah ini Sumedang Larang di era kabupatian atau setelah era  Pangeran Geusan Ulun (mp. 1578-1601 M): 
  1. Pangeran Rangga Gempol-I (mp. 1601-1625 M)
  2. Pangeran Rangga Gede (mp. 1625-1633 M)
  3. Pangeran Bagus Weruh ( Rangga Gempol-II)  (mp. 1633-1656 M)
  4. Pangeran Panembahan/Pangeran Rangga Gempol-III(mp. 1656-1706 M)
  5. Dalem Adipati Tanoemadja : 1706-1709
  6. Raden Tumenggung Koesoemahdinata-VII (Pangeran Rangga Gempol-IV/Pangeran Karuhun) : 1709-         1744
  7. Dalem Istri Radjaningrat : 1744-1759
  8. Dalem Adipati Koesoemahdinata-VIII (Dalem Anom) : 1759-1761
  9. Dalem Adipati Soerianagara-II : 1761-1765
  10. Dalem Adipati Soerialaga : 1765-1773
  11. Dalem Adipati Partakoesoemah (Tusschen Bestur Parakanmuncang) : 1773-1789
  12. Dalem Aria Satjapati-III : 1789-1791
  13. Raden Tumenggung Soerianagara (Pangeran Koesoemahdinata-IX/Pangeran Kornel) : 1791-1828
  14. Dalem Adipati Koesoemahjoeda (Dalem Ageung) : 1828-1833
  15. Dalem Adipati Koesoemahdinata (Dalem Alit) : 1833-1834
  16. Raden Tumenggung Soeriadilaga : 1834-1836
  17. Pangeran Soeria Koesoemah Adinata (Pangeran Sugih) : 1836-1882
  18. Pangeran Aria Soeriaatmadja (Pangeran Mekkah) : 1882-1919
  19. Adipati Aria Koesoemadilaga : 1919-1937
  20. Tumenggung Aria Soeria Koesoema Adinata : 1937-1946

 1.. Turunan Prabu Geusan Ulun (mp. 1579-1601 M)

Prabu Geusan Ulun adalah raja Sumedang yan terbesar dan terakhir.  Ia berkuasa dar tahun 1579 hingga tahun 1601 M. Ia merupakan  anak dari Pangeran Santri (Pangeran Kusumah Dinata) dengan Ratu Setyasih atau Ratu Inten Dewata atau terkenal juga dengan sebutan Ratu Pucuk Umun.  Pangeran santri merupakan cicit dari ulama besar Syekh Datuk Kahfi atau Syekh Nurul Jati., yang silsilahnya hingga Rasulullah. Sedang Ratu Pucuk Umun atau Ratu Setyasih Ratu Inten Dewata merupakan turunan raja raja sumedang.

Prabu Geusan ulun diawal keuasaannya mewarisi mahkota sang binoksih kerajaan Pajajaran, yang dibawa oleh 4 kandaga lante yang terkenal, yaitu:  Jaya perkosa (Sanghiyang Hawu ), Batara Adipati Wiradijaya (Nangganan), Sanghiyang Kondanghapa dan Batara Pencar Buang (Embah Terong peot). Karena itu Prabu Geusan Ulun mewarisi seluruh wilayah Pajajaran yang tidak dikuasai oleh Banten dan Cirebon.
Prabu Geusan Ulun atau Pangeran Kusumah Dinata II  memiliki 3 orang istri. Yang pertama bernama Nyi Mas Cukang Gedeng Waru, putri Sunan Pada. Yang kedua adalah Putri Harisbaya, yang berasal dari Pajang / Demak. Dan yang ketiga adalah Nyi Mas Pasarean.

Anak dari Istrinya Nyi Mas Cukang Gedeng Waru
  1. Pangeran Rangga Gede, yang merupakan cikal bakal bupati Sumedang.
  2. Raden  Aria Wiraraja 1
  3. Kiai Kadu Rangga Gede
  4. Kiai Rangga Patra kalana di Cunduk kayu
  5. Kiai Aria Rangga Pati di Haur koneng
  6. Kiai Ngabehi Watang
  7. Nyi Mas Demang Cipaku
  8. Nyi Mas Ngabehi Martayuda di Ciawi
  9. Nyi Mas RanggaWiratama di Cibeureum
  10. Raden Rangga Nitinagara di Pagaden dan Pamanukan
  11. Nyi Mas Rangga pamade
  12. Nyi Mas Dipati Ukur di Bandung
  13. Pangeran Tumenggung Tegal Kalong
  14. Kiai Demang Cipaku di dayeuh Luhur

Putra Geusan Ulun dari Istrinya ratu Harisbaya 
  1. Rangga Gempol 1 (Pangeran Kusumah Dinata III)

Putra Geusan Ulun dari Istrinya Nyi Mas Pasarean.
  1. Raden Kartajiwa.
  2. Raden  Mangunrana
  3. Raden Tampangkil
  4. Nyi raden Sumalintang
  5. Nyi Raden Nustawiya

 2.. Turunan Pangeran Rangga Gede (mp.1625-1633 M)

Pangeran Rangga Gede menjadi bupati wedana Sumedang dari tahun 1625 hingga 1633 M. Ia berkuasa setelah Rangga Gempol I pada tahun 1625 M  ikut penyerangan terhadap Madura.

Rangga Gede dianggap sebagai cikal bakal bupati Sumedang. Karena seluruh bupati Sumedang merupakan turunannya. Rangga gede mempunyai 29 anak, diantaranya ada yang bernama Nyi Mas Bayun. 

Berikut adalah putra dan putri Pangeran  Rangga Gede:
  1. Dalem Arya Bandayuda
  2. Dalem Jayuda
  3. Dalem Wargaita
  4. Dalem Wanngsasubaya
  5. Bagus Weruh / Dalem Rangga Gempol II
  6. Dalem Lurah
  7. Raden Singamanggala
  8. Ki Wangsaparamaja
  9. Ki Wiratama
  10. Ki Wangsaparaja
  11. Ki Jasinga
  12. Ki Wangsasabadra
  13. Kiai Anggatanu
  14. Ki Martabaya
  15. Nyi Mas Anggadasta
  16. Nyi Masa nataparana
  17. Nyi Mas Arya Pawenang
  18. Nyi Mas Martarana
  19. Nyi Mas Jagasatru
  20. Nyi Mas Wargakarti
  21. Nyi Mas Bayun
  22. Nyi Mas wangsapatra
  23. Nyi Mas Warga Komara
  24. Nyi Mas Yundakala
  25. Nyi Mas Tuan Sukadana
  26. Nyi Mas Utama
  27. Nyi Mas Kawangsa
  28. Nyi Mas Wirakarti
  29. Nyi Raden  Nalawangsa.

 Dalam silsilah Sumedang bahwa Ny Mas Bayun merupakan anak ke 21 Rangga Gede.

3.. Pangeran Bagus Weruh /Dalem Rangga Gempol II (mp. 1633-1656 M)

Setelah Rangga Gede kekuasaan eks Sumedang Larang jatuh ke adik iparnya, Adipati Ukur. Tetapi untuk kabupatian Sumedang jatuh ke anaknya  Pangeran Bagus Weruh atau dikenal juga dengan Rangga Gempol II.

Dan setelah Rangga Gempol II, bupati selanjutnya anaknya dari Sang bupati yang bernama Pangeran Panembahan (Rangga Gempol III) (mp. 1656-1706 M).

4. Silsilah Nenek Moyang Nyi Mas Bayun

Ny Mas Bayun merupakan anak dari Pangeran Rangga Gede , yang merupakan bupati  wedana atau bupati Sumedang dan  turunan raja raja Sumedang dan juga turunan ulama besar Syekh Datuk Kahfi. Pangeran Rangga Gede merupakan putra dari Prabu Geusan Ulun, Raja Sumedang terakhir  Yang berarti bahwa kakek Nyi Mas Bayun, adalah seorang raja.

Prabu Geusan ulun dari pihak ibu(ratu Setyasih/ Ratu Inten Dewata / Ratu Pucuk Umun) merupakan turunan raja raja Sumedang klasik, sedang ayahnya (Pangeran Santri) merupakan turunan Syekh Datuk Kahfi atau Syekh Nurjati, ulama besar masih keturunan Nabi Muhammad SAW.

Pangeran Santri atau Pangeran Kusumah Dinata I merupakan turunan dari ulama, putra dari Pangeran Maulana Muhammad (Pangeran Palakaran), cucu  dari Syekh Maulana Abdurrahman (Sunan Panjunan), cicit dari Syekh Datuk Kahfi (Syekh Nurjati).
Silislah Pangeran Santri:
  1. Nabi Muhammad SAW
  2. Fatimah Az Zahra
  3. Sayyid Husein
  4. Sayyid Ali Zainal Abidin
  5. Sayyid Muhammad Al Baqir
  6. Sayyid Ja’far as Shadiq
  7. Sayyid Ali Al Uraidhi
  8. Sayyid Muhammad an Naqib
  9. Sayyid ‘Isa Naqib ar Rumi
  10. Sayyid Ahmad al Muhajir
  11. Sayyid al imam ‘Ubaidillah
  12. Sayyid Alawi Awwal
  13. Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah
  14. Sayyid Alawi Ats Tsani
  15. Sayyid Ali Kholi’ Qosim
  16. Sayyid Muhammad Sohib Mirbath
  17. Sayyid Alawi Ammil Faqih
  18. Sayyid Amir Abdul malik al Muhazir azmatkhan
  19. Sayyid Abdullah Azmatkhan
  20. Abdul Kadir
  21. Maulana Isa
  22. Datuk Ahmad
  23. Syekh Datuk Kahfi / Syekh Nurjati / Syekh Nurul Jati
  24. Syekh Maulana Abdurrahman (Sunan Panjunan)
  25. Maulanan Muhammad (Pangeran Pamelekaran)
  26. Pangeran Santri (Pangeran Kusumahdinata)
  27. Prabu Geusan Ulun
  28. Pangeran Rangga Gede
  29. Nyi Mas Bayun

 Silsilah Ratu Setyasih (Ratu Inten Dewata / Ratu Pucuk Umun), turunan Raja Raja Sumedang Larang.
  1. Batara Prabu Aji Putih
  2. Prabu Tajimalela (Batara Tuntang Buana)
  3. Prabu Lembu Agung (Prabu Jayabrata/ Prabu Lembu Peteng Aji)
  4. Prabu gajah Agung (Prabu Atmabrata)
  5. Prabu Pagulingan (Prabu Wirajaya Jagabaya)
  6. Sunan Guling ( Prabu Mertalaya)
  7. Sunan Tuakan (Prabu Tirta Kusuma)
  8. Ratu Sintawati (Nyi Mas Patuakan)  menikah dengan Sunan Corenda dari Talaga
  9. Ratu Satyasih (Ratu Inten Dewata / bergelar Ratu Pucuk Umun), menikah dengan Pangeran Santri dari Cirebon.
  10. Prabu Geusan Ulun
  11. Pangeran Rangga Gede
  12. Nyi Mas Bayun

Adeng Lukmantara  bin Abah Olin
Peminat Studi Peradaban Sunda dan Islam
Asal Hariang - Kab. Sumedang

(Sumber: Dari berbagai Sumber)


MENGENAL 2 TOKOH PENDAHULU WANGSAWIJAYA: EMBAH GURIANG DAN DEMANG SURIAWACANA

Dalam buku Sejarah Desa Hariang yang disusun oleh bapak E.Sona seorang mantan kepala desa Hariang dari tahun 1949-1969. Buku ini disusun kembali oleh Bapak Atnawi (mantan juru tulis/ sekretaris desa)  dan diketik ulang di era Bapak Kuwu Uda Wijaya (kepala desa tahun 1998-2006. Dikatakan bahwa pendiri Leumbur Hariang adalah Wangsawijaya. Tetapi sebelum Wangsawijaya mendirikan leumbur Hariang sudah ada tokoh yang bermukim di Leumbur Hariang tersebut, yang kemudian terkenal dengan nama Embah Guriang.

Kita bersyukur bahwa di Hariang ini sudah ada upaya untuk memulai sejarah kampungnya (leumbur-nya) secara sistematis yang jarang ditemui di desa yang yang lainnya. Dalam buku ini diungkapkan bahwa Leumbur Hariang atau wilayah desa Hariang sekarang ini didirikan oleh Wangsawijaya pada tanggal 20 Mei 1665 M (Rabiul Akhir 1843 H). Dan saya juga bersyukur mempunyai orang tua (abah Olin) yang masih banyak hapal cerita yang diungkapkan turun temurun dari ayahnya, kakeknya, uyutnya dan seterusnya. Jadi seolah menjadi sinergi, karena dalam tulisan yang dibukukan pun masih banyak yang belum dibahas.

Menurut Buku Sejarah Desa Hariang diungkapkan bahwa  Embah Guriang adalah seorang patih dari kerajaan Pajajaran yang lolos ketika Pajajaran jatuh. Dalam buku ini diungkapkan bahwa yang menjadi Raja Pajajaran waktu itu adalah Prabu Ciung Wanara III (Ciung Wanara Putra). Hal ini juga diperkuat oleh cerita turun temurun dari Abah Olin dan juga Bapak Emut Muchtar yang mendapat cerita dari ayahnya dan seterusnya, yang mengatakan bahwa Embah Guriang adalah seorang patih Pajajaran

Bahkan diperjelas lagi analisisnya oleh Bapak Emut Muchtar, yang mengatakan bahwa melihat pengaruh dari Embah Guriang kemungkinan bahwa Embah Guriang ini adalah bekas pejabat tinggi Pajajaran  setingkat patih yang lolos ketika ibukota Pakuan Pajajaran jatuh. Bapak Emut Muchtar  adalah salah seorang intelektual asal Hariang yang menetap di Jakarta tetapi tetap konsen terhadap pengkajian desa Hariang.

A.. Siapa Embah Guriang Itu?

Dalam tulisan ini penulis akan menelusuri siapa sebenarnya Embah Guriang itu? Karena ada yang mengait kaitkan Embah Guriang dengan petinggi Pajajaran yang konon mengungsi ke daerah Hariang sekarang. Apakah benar Embah Guriang itu adalah mantan patih Pajajaran.

Menurut Sejarah Pakuan ibukota kerajaan Pajajaran, jatuh oleh serangan pimpinan Sultan Maulana Yusuf dari kesultanan Banten pada  tahun 1579.

Dalam Pustaka Nusantara,  tentang kejatuhan ibukota kerajaan Pajajaran, Pakuan, disebutkan: ” Pajajaran sirna  ing ekadasa suklapaksa wesakamasa sewu limang atus punjul siki ikang sakakala” ( Pajajaran lenyap pada tanggal 11 bagian terang bulan wesaka tahun 1501 saka). Tanggal tersebut bertepatan  dengan 8 Mei 1579 M.

Dan dalam naskah Banten, serangan tentara banten  ke pakuan, disebutkan: “ Waktu keberangkatan itu terjadi bulan Muharam  tepat pada awal bulan hari ahad tahun alif inilah tahun sakanya satu lima kosong satu.

Raja terakhir dari Pajajaran bernama Prabu Nusa Mulya  atau  Prabu   Suryakancana (Prabu Nusa Mulya merupakan sebutan yang ada dalam naskah Carita Parahiyangan, tetapi dalam Naskah Wangsakerta dikenal dengan nama Prabu Ragamulya Suryakancana).

Prabu Surya Kancana atau Prabu Nusa Mulya menjadi raja  menggantikan ayahnya, Prabu Nikalendra pada tahun 1567 M. Ia dianggap sebagai  raja terakhir dari Pajajaran, yang  berkuasa dari tahun 1567 sampai 1579 M.  Prabu Suryakanacana  ini tidak berkedudukan di Pakuan, tetapi di Pulasari, Pandeglang (sekitar Kaduhejo, Kecamatan Menes pada lereng Gunung Palasari). Oleh karena itu, ia dikenal pula sebagai pucuk umun (panembahan) Pulasari

Zaman Prabu Suryakencana ini memang Pajajaran sedang dalam titik yang terendah. Dan hal ini dikatakan dalam Naskah Carita Parahiyangan:

Diganti ku Nusia Mulya. Lilana jadi ratu duawelas (!) taun. Mimiti datangna perobahan. Buana lemes nyusup ka nu kasar, timbul karusakan ti Islam. Perang ka Rajagaluh, eleh Rajagaluh. Perang ka Kalapa eleh Kalapa. Perang ka Pakwan, perang ka Galuh, perang ka Datar. Perang ka Ma(n)diri, perang ka Patege, perang kaJawakapala, eleh Jawakapala. Perang ka Gegelang. Meuntas perang ka Salajo; kabeheleh ku urang Islam.Kitu nu matak kabawah ka Demak jeung ti Cirebon.

Karena kekalahan yang terus menerus ibukota  Pakuan Pajajaran sebenarnya  telah ditinggalkan oleh rajanya, sejak sang ayah (Prabu Nikalendra)  berkuasa. Setelah kekalahan perang melawan pasukan Maulana Yusuf dari Banten, Nikalendra yang waktu itu berkuasa mengungsi ke Majaya, dan meninggalkan ibukota Pakuan. Dan penggantinya juga (Prabu Nusa Mulya/ Prabu Suryakancana)  diangkat dalam pengungsian di pulosari, Pandeglang sekarang. Pakuan diserahkan kepada senopati kerajaan yang kuat, diantaranya Jayaperkosa dan adik-adiknya.

Diakhir masa kekuasaan Prabu Nikalendra,  ibukota Pakuan Pajajaran nyaris lumpuh dan tidak menjadi ibukota lagi, karena Sang Raja Nikalendra mengungsi, setelah ibukota diserang bertubi-tubi. Banyak penduduknya mengungsi ke luar daerah, termasuk para kerabat raja.. Sebagian penduduknya menggungsi ke wilayah pantai selatan  diantaranya ke cisolok dan Bayah, dan juga banyak yang mengungsi ke timur, ke sumedang Larang dan lainnya. Dan putra mahkota sendiri, Prabu Nusamulya mengungsi ke pulosari, pandeglang. Dan disnilah ia kemudian diangkat menjadi raja.

Benteng Pakuan terkenal sangat kokoh yang sulit ditembus. Setelah 12 tahun ditinggal raja, Pakuan masih bisa bertahan, dan baru dapat dibobol Banten dengan penghianatan.  Dalam naskah Banten diceritakan bahwa benteng Pakuan baru dapat dibobol setelah terjadinya penghianatan. 

Meskipun Sultan Maulana Yusuf dapat menguasai ibukota Pakuan. Tetapi ia gagal mendapatkan mahkota kebesaran Pajajaran. Menurut Sumber sejarah Sumedang Larang, ketika peristiwa jatuhnya Pakuan terjadi, 4 orang kepercayaan Prabu Ragamulya Surya Kancana,  yang dikenal dengan Kandaga Lante, berhasil menyelamatkan atribut pakaian kebesaran maharaja Sunda, yang terdri dari: mahkota emas simbol kekuasaan raja Pakuan,  kalung bersusun 2 dan 3, serta perhiasan lainnya, seperti benten, siger, tampekan dan kilat bahu. Atribut-atribut  kebeesaaran tersebut kemudian diserahkan kepada raden Angkawijaya, putra Pangeran Santri dan Ratu Inten Dewata (1530-1579 M) yang kemudian naik tahta Sumedang larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun (mp. 1579-1601 M).
Empat Kandaga Kante merupakan para pejabat tinggi Pajajaran yang terdiri dari: Jaya Perkosa (Embah Sanghiyang Hawu ), Batara Adipati Wiradijaya (Embah Nangganan), Sanghiyang Kondanghapa dan Batara Pencar Buang (Embah Terong peot). Pimpinan dari Kandaga Lante itu adalah Jaya Perkosa. Karena itu Jaya Perkosa ini kemungkinan adala seorang Patih Pajajaran.

Dengan demikian, Sumedang Larang mewarisi kekuasaan Pajajaran yang belum dikuasai oleh kesultanan Cirebon dan kesultanan Banten.

Dari kisah diatas diungkapkan bahwa para pejabat tinggi  Pajajaran diungkapkan dalam sejarah adalah ada 4 orang yang meloloskan diri ke Sumedang Larang dengan membawa mahkota. Jika Embah Guriang dikatakan patih Pajajaran berarti kemungkinan bahwa Embah Guriang merupakan salah seorang dari  4 kandaga Lante tersebut.

Jaya Perkosa adalah pimpinan dari 4 kandaga lante tersebut. Apakah Embah Guriang itu adalah Embah Jaya Perkosa. Karena dalam sejarahnya Embah Jaya Perkosa, ketika habis menghadang pasukan kesultanan Cirebon, ia sangat kecewa  karena Prabu Geusan Ulun telah menyerahkan daerah Sindangkasih atau Majalengka sekarang ke kesultanan Cirebon.
Ia sangat kecewa karena perjuangannya selama itu tidak dihargai. Dia menyelamatkan mahkota Pajajaran diberikan kepada Prabu Geusan Ulun dengan harapan bisa merebut kembali seluruh  kekuasaan Pajajaran. Karena itu konon Embah Jaya Perkosa yang waktu itu merupakan Patih dari kerajaan Sumedang Larang, cadu untuk mengabdi lagi kepada kekuasaan setelahnya, dan ia pergi entah kemana. Dalam istilah lama sering dikatakan ngahiyang.

Meskipun ada tanda di dayeuh Luhur  yang berkaitan dengan Embah Jaya Perkosa. Tetapi itu dalam hubungannya dengan tanda ketika keberadaan dia dalam perang melawan Cirebon, bukan tempat ia meninggal. Tidak diungkapkan Embah jaya Perkosa pergi kemana, setelah ia mundur dari jabatannya sebagai patih. 

Dari kisah kisah tersebut, jika memang Embah Guriang itu patih, apakan Embah Guriang itu sama dengan tokoh Embah Jaya Perkosa, yang pergi dari istana Sumedang Larang.

Tetapi ada yang berkaiatan dengan tokoh Embah Guriang ini, yang masih beragama sebelumnya (belum jelas Hindu, budha atau kepercyaan Sunda tempo dulu). . Sedang Jaya Perkosa setelah lolos dari Pakuan, ia kemudian diangkat jadi patih atau senopati di kerajaan Sumedang Larang yang beragama Islam. Atau ada kemungkinan tokoh lain atau pejabat tinggi lain selain jabatan Kandaga Lante. 

Dan dalam buku Sejarah  Desa Hariang, dikatakan bahwa Embah Guriang  merupakan patih Pajajaran di era Raja terakhir yang bernama Prabu Ciung Wanara III (Ciung Wanara Putra).

Jika dikaitkan dengan sejarah baik dalam Naskah Carita Parahiyangan atau Naskah Wangsakerta tidak ditemukan raja Pajajaran yang bernamaPrabu Ciung Wanara III atau Ciung Wanara Putra. Seperti diungkapkan diatas bahwa Raja Pajajaran terakhir bernama Prabu Nusa Mulya atau Prabu Ragamulya Suryakancana.

1.. Keterkaitan Antara Embah Guriang dengan Berdirinya Leumbur Hariang

Jika melihat selisih waktu antara jatuhnya Pajajaran pada tahun 1579 dengan berdirinya leumbur Hariang yang dikatakan dalam buku Sejarah Desa Hariang pada tahun 1665, tepatnya tanggal 20 Mei 1665), terdapat rentang waktu sekitar 86 tahun. Adalah suatu hal yang tidak mungkin.

Jika melihat data tersebut, adalah tidak mungkin Embah Guriang itu adalah patih Pajajaran. Karena selisih waktu yang begitu jauh. Jika hal ini benar berarti Embah Guriang itu hidupnya lebih dari 100 tahun atau kemungkinan usianya diatas 120 tahunan ketika ia meninggal.

Penulis belum mendapat data yang jelas dimana dasar perhitungan bahwa Wangsawijaya mendirikan leumbur Hariang pada tahun 1665 atau tepatnya tanggal 20 Mei 1665 M (Rabiul Akhir 1843 H). Apakah Wangsa  Wijaya sebelumnya pernah ke wilayah Hariang, sehingga ia kemudian menetapkan hatinya untuk membuat perkampungan di desa Hariang ini.

Dalam buku Sejarah Desa Hariang tersebut diatas tidak menceritakan hal ini.  Karena itu angka tahun 1665 untuk berdirinya kampung Hariang mungkin  dipertanyakan. Dan kemungkinan lebih tua dari tahun tersebut. Karena ada silsilah yang keliru dari silsilah Nyi Mas Bayun, yang  merupakan istri dari Wangsa Wijaya.

Dalam buku Sejarah Desa Hariang dikatakan bahwa Wangsawijaya merupakan putra Mbah dalem Gajah Agung, bupati Bandung pertama yang bergelar Tumenggung Wira Angun Angun. Dan istrinya Nyi Mas bayun merupakan putri Embah Dalem Panembahan atau kemungkinan Pangeran Panembahan dan bergelar Pangeran Rangga Gempol III. Dikatakan bahwa Wangsawijaya kawin dengan Nyi Mas Bayun pada tahun 1663 M.

Sedang dalam silsilah dari kerajaan Sumedang, dikatakan bahwa Nyi Mas Bayun merupakan putri dari Pangeran Rangga Gede, yang merupakan kakek dari Pangeran Panembahan atau Pangeran Rangga Gempol III. Hal ini diungkapkan juga oleh bapak Emut Muchtar ketika bahwa tidak ada turunan Rangga Gempol III atau Pangeran Panembahan yang bernama Nyi Mas Bayun.

Dalam silsilah keturunan Sumedang Nyi Mas Bayun merupakan putra Pangeran Rangga Gede, dan merupakan bibi dari Pangeran Panembahan atau Pangeran Rangga Gempol III.
Dengan demikian apakah benar Wangsa Wijaya menikah dengan Nyi Mas Bayun  pada tahun 1663, dua tahun sebelum mendirikan kampung Hariang.  Dan apakah benar hari medal Hariang pada tahun 1665. Hal ini akan lebih jelas lagi akan diceritakan  pada judul berikutnya, yang berjudul “ Kapan Wangsa Wijaya bertemu pertama kali dengan Embah Guriang?”.


B.. Demang Suria Wacana

Selain Embah Guriang yang sangat dihormati oleh Wangsawijaya adalah Demang Suriawacana. Suatu tokoh yang sering dikaitkan dengan keturunan dari Majapahit.

Demang Suria Wacana atau sekarang terkenal dengan nama Mbah Demang Suria Wacana bertempat tinggal di Hariang di sekitar yang disebut Haur Koneng sekarang, suatu daerah yang masih masuk wilayah hariang, antara Hariang dan Wanajaya. Tidak diketahui asal usulnya, dan ia sendiri tidak mempunyai keturunan. Ia sangat dihormati oleh keluarga Wangsa wijaya, bahkan dianggap saudara dan sepuh (dituakan) sendiri.

Demang Suria Wacana ketika meninggal di era yang berkuasa di Hariang adalah putra dari Wangsa Wijaya, yang bernama Taruna Diwangsa. Ia dimakamkan di suatu tempat yang dinamakan Haur Koneng sekarang.


Menurut pendapat dari Buku Sejarah Desa Hariang, diungkapkan bahwa Demang Suria Wacana adalah bekas pejabat dari Majapahit. Hal ini juga diungkapkan oleh Abah Olin yang mengatakan bahwa Demang Suriawacana adalah bekas patih kerajaan Majapahit.

Pendapat ini sangat diragukan dan tidak mungkin. Karena Majapahit sudah hilang ratusan tahun dalam peradaban sejak ibukotanya jatuh ke tangan Demak diakhir abad ke-15 M. Sedang Wangsa Wijaya hidup pada abad 17 M, Suatu rentang waktu yang sangat jauh  200 tahun) dan tidak mungkin. Jadi sangat jelas bahwa Demang Suryawacana bukan patih majapahit, seperti yang diungkapkan oleh orang tua terdahulu.

Sebenarnya kita bisa menentukan di zaman kapan ia hidup. Dengan gelar Demang didepananya menunjukan suatu gelar yang biasa digunakan dalam gelar gelar penguasa di Zaman Mataram Islam. Jadi kemungkinan Demang Suriawacana adalah salah seorang pendatang dari wilayah timur atau Jawa Timur. Ia kemungkinan merupakan salah satu pimpinan ,prajurit Mataram yang ikut dalam penyeerangan terhadap Batavia yang gagal. Karena banyak tentara  Mataram yang tidak kembali akibat kekalahan dalam perang melawan Belanda di Batavia. Atau ada kemungkinan bahwa Demang Suryawacana masih kerabat dari Wangsawijaya atau Nyi Mas Bayun (masih dalam penelusuaran), karena istilah demang juga sudah digunakan di Sumedang setelah Pangeran Rangga Gempol I berkuasa, dan menjadikan sebagai bawahan Mataram.

Jika memang ia berasal dari Jawa Timur maka kemungkinan masih ada kaitan silsilah dengan eks. kerajaan Majapahit, yang memang sudah musnah diakhir abad ke-15 M. Jadi jika mengaitkan dengan jabatan patih Majapahit adalah suatu kekeliruan. Disamping gelar Demang didepannya menunjukan bahwa ia merupakan salah satu pejabat di era kerajaan Mataram.   

(Lanjut....)

By Adeng Lukmantara bin Abah Olin
Peminat Studi Peradaban Sunda dan Islam
Asal Desa Hariang Kab. Sumedang

(Sumber: Dari berbagai sumber)